Sebuah momen istimewa diadakan dalam peringatan Hari Kartini di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (KPDJP) pada tahun ini. Bertempat di Auditorium Cakti Buddhi Bhakti, Gedung Mar’ie Muhammad KPDJP, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) menghelat kegiatan Kartini Talk & Yoga Session (Selasa, 21/4).
Dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak, Nurbaeti Munawaroh, Direktur P2Humas, Inge Diana Rismawanti, Direktur Peraturan Perpajakan I, Rosmauli, Direktur Perpajakan Internasional, Dwi Astuti, Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan dan Penertiban Sumber Daya Manusia, Syamsinar, dan Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Ani Natalia, kegiatan diikuti oleh para pegawai wanita di lingkungan KPDJP.
Tidak hanya sekadar memperingati Hari Kartini, kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan emosional pegawai di lingkungan DJP agar dapat terus berkembang secara optimal dalam kehidupan pribadi dan professional. “Sehat, Tangguh, dan Berdampak” menjadi tagline acara tersebut.
Dibuka dengan sesi Kartini Talk bersama psikolog, Teresa Indira Andani, Rima Budiarti selaku moderator memandu sesi dengan mengupas bagaimana para kartini bisa menghadapi berbagai problem kehidupan yang ada agar dapat membuat dirinya tetap berdampak.
“Berdasarkan kenyataan yang terjadi di lapangan dan penelitian yang ada, menjadi perempuan tekanannya itu lebih beragam dibanding laki-laki karena perempuan punya banyak peran sehingga menjadi lebih rentan secara mental dan emosional,” ujar Teresa.
Teresa menjelaskan bahwa banyaknya peran yang diemban dalam satu waktu, emotional labor (dituntut tetap stabil secara emosional), mental load, dan self-pressure kerap menjadi realitas dalam kehidupan para perempuan. Teresa juga membagikan cara bagaimana para perempuan dapat menjaga mentalnya tetap sehat.
Untuk menjadi tangguh juga bukan berarti bisa menahan, tetapi mampu mengelola stres dan emosi.
“Emosi itu gak salah, mereka hanya membawa pesan,” imbuh Teresa.
Teresa juga membawakan konsep work-life integration (hidup kerja yang selaras). Dengan memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, perempuan bisa membuat dirinya termotivasi untuk membuat dirinya bisa melakukan hal yang benar-benar bermakna menurut dirinya sendiri.
Sesi Kartini Talk bersama Teresa dilanjutkan dengan sharing session dari para pejabat wanita Eselon II di lingkungan KPDJP yang hadir.
“Leader itu always have the trail for others to follow … Jangan sampai ketika ia meninggalkan suatu tempat, ada yang bersorak,” ungkap Inge.
Selanjutnya, Rosmauli membahas tentang peran penting support system dalam perjalanan seorang perempuan. Syamsinar kemudian mempersembahkan sebuah puisi yang menggambarkan keteladanan yang dapat diambil dari sosok Kartini.
Pada akhir sharing session, Dwi mengangkat signifikansi sebuah proses ketika seorang perempuan merasa tidak memiliki sebuah keistimewaan, support system, atau seorang sosok yang dapat dicontoh karena terlahir dari keluarga atau lingkungan dengan value yang berbeda.
“Sometimes you just have to trust the process, believe in yourself and keep going,” ujar Dwi.
Di akhir rangkaian, acara ditutup dengan sesi yoga yang dipandu oleh dua orang certified yoga teacher, Putri Augustine dan Shafira Naomi Oeffie. Diiringi dengan backsound yang menenangkan, para peserta mengikuti instruksi gerakan dengan fokus, khidmat, dan seksama.
“Namaste,” pungkas Putri dan Shafira.
| Pewarta: Destiny Wulandari |
| Kontributor Foto: Bonita Pricilia Sitompul, Andi Rahadi |
| Editor: Yacob Yahya |
*)Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
