Menjadi Pegawai Negeri yang Amanah Itu Banyak Berkahnya
Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Mendengar kalimat, hanya untuk Allah, karena Allah, lillahi taála secara berulang menyiratkan betapa rapuhnya kita untuk selalu meminta diberikan perlindungan dari Allah SWT. Sebuah kerapuhan sebagai manusia biasa yang sangat bergantung akan Penciptanya. Tidak ada tujuan yang mulia selain karena ingin menyenangkan Allah semata. Manusia lah yang butuh Allah SWT, manusia lah yang tidak bisa hidup sedetik saja tanpa karunia dari Allah SWT.
Menjadi pegawai negeri, menjadi pelayan masyarakat berarti dibukakan seluasnya-luasnya oleh Allah untuk dapat berbuat baik kepada semua manusia. Pekerjaan dan tugas sebagai pelayan masyarakat menyentuh semua kegiatan di masyarakat. Menjadi pegawai pajak khususnya merupakan pekerjaan yang sangat luar biasa. Bekerja untuk dapat membantu masyarakat untuk menghitung kewajibannya dan mengarahkan wajib pajak untuk membayar pajak secara langsung ke negara untuk dikelola untuk kemashalatan.
Betapa indahnya, pegawai pajak yang datang ber-silaturahim kepada wajib pajak, untuk membantu kesulitannya dalam menentukan uang pajak yang harus dibayarkan secara jujur dan ikhlas, semata-mata karena Allah SWT. Lingkup memberikan penyuluhan pun juga bukan hanya untuk menegaskan prosentase uang pajak yang harus dibayarkan, namun bagaimana mengelola suatu usaha yang halal dengan menghitung secara benar harga pokok produksi sehingga wajib pajak terhindar dari rugi. Penghasilan yang melimpah dan berkah itupun berasal usaha jerih payah yang halal dan juga tidak lupa menyisihkan sebagian untuk dapat berbagi dengan manusia lain yang membutuhkan.
Sekali lagi, semata-mata hanya kepada Allah lah segala niat pekerjaan yang dilakukan. Pegawai pajak yang amanah akan selalu mendoakan kesuksesan usaha wajib pajak. Karena doa yang dipanjatkan itu setidaknya akan membuahkan dua kebaikan, yaitu kebaikan yang membawa keberhasilan wajib pajak dalam mengelola usahanya, dengan didapatnya keuntungan yang halal secara berlipat-lipat dan juga membawa kebaikan bahwa titipan uang pajak pun akan semakin besar, sehingga dapat membantu semakin banyak manusia.
Doa merupakan senjata bagi siapapun yang beriman dan menyakininya. Doa itu seperti kayuhan sepeda yang berulang-ulang. Doa itu seperti sebuah mata air yang mengalir dengan jernih dan lembut. Aliran airnya secara perlahan mengajak untuk kebaikan. Hembusan angin disekitarnya secara lembut, membisikkan kebesaran Allah SWT, sehingga setiap waktu kita akan selalu mengingat-Nya.
Seperti sebuah cerita nyata, seorang pengusaha bakso yang halal dan tanpa MSG serta tanpa pengawet, Pak Sodiq namanya, merintis usahanya dari bawah di daerah Jurangmangu Barat Bintaro, namun dengan kerelaannya tetap berniat secara ikhlas untuk membayar pajak. Di saat tanah di warung usahanya masih berupa tanah dan dinding yang belum kokoh, Pak Sodiq niatkan untuk mengikuti momen pengampunan pajak atas harta-harta yang belum dilaporkan. Semua itu Pak Sodiq niatkan karena lillahi taála, karena Allah SWT lah. Dan sekarang, karena Allah lah usahanya menjadi semakin berkembang hingga menularkan semangat membayar pajak kepada teman UMKM lain dengan membawa slogan “bayar pajak untung”. Mempunyai amanah wajib pajak yang luar biasa inilah yang membuat pegawai pajak untuk semakin berniat membantu. Niat baik itu pun, sudah berpindah bukan lagi karena tugas namun menjadi sebuah kewajiban untuk dapat memberikan pemahaman secara luas dan mendalam mengenai cara membangun bisnis dan usaha yang halal serta bagaimana caranya untuk mendapatkan permodalan yang diharapkan bebas riba bagi wajib pajak.
Kedekatan yang erat, karena Allah SWT inilah yang menyatukan dua jenis manusia yang berbeda, yaitu pegawai pajak dan wajib pajak. Disatukan karena tujuan yang sama yaitu karena Allah. Semata-mata mengejar berkah dan karunia dari Allah SWT. Berusaha memberikan sesuatu yang lebih di setiap waktunya untuk dapat berbagi lebih banyak lagi kepada manusia lain yang membutuhkan.(*)
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.
- 182 views