Sepenggal Surga yang Jatuh di Bumi
Oleh: (Teddy Ferdian), pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Baru saja melangkahkan kaki melewati pintu masjid, dari kejauhan saya melihat seseorang memanggil. Orang tersebut ada di dekat mimbar sebelah tempat imam biasa memimpin salat. "Bapa mau salat? Silakan azan dulu," begitu kata orang tersebut dengan logat Papua yang cukup kental ketika saya mendekat memenuhi panggilan. Waktu memang sudah memasuki waktu salat Zuhur dan saat itu belum ada jemaah yang hadir.
"Yang biasa azan apakah tidak ada?" tanya saya.
"Belum datang sepertinya, Bapa," jelasnya.
Saya pun mengiyakan untuk azan. Perjalanan pertama ke tempat yang baru saya kunjungi kembali diawali dengan pengalaman spiritual, alhamdulillah. Sebelumnya, hari pertama saya menginjakkan kaki di Kota Sorong juga saya awali dengan menghadiri kajian ustaz bertaraf nasional yang kebetulan memiliki jadwal kajian di Sorong bertepatan pada hari yang sama dengan hari kedatangan saya.
Ini juga merupakan kali pertama saya azan di masjid besar, sekaligus menghadirkan pengalaman istimewa karena ini merupakan masjid terbesar di Provinsi Papua Barat Daya. Masjid Agung Waisai namanya. Masjid yang diresmikan tahun 2025 ini bisa menampung hingga 8.500 jemaah.
Masjid Agung Waisai adalah tempat kedua yang saya kunjungi ketika saya melangkahkan kaki turun dari Kapal Motor (KM) Express Bahari yang membawa saya dari Sorong menuju Waisai, kota pemerintahan di Kabupaten Raja Ampat. Tempat pertama yang saya datangi adalah Warung Makan Padang RM S'Kumbang yang tidak jauh lokasinya dari Masjid Agung Waisai.
Waisai terletak di salah satu pulau utama dan terbesar di Raja Ampat, Pulau Waigeo. Kota Waisai sering dikatakan kota transit karena merupakan tempat persinggahan sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan alam di pulau-pulau kecil di Raja Ampat. Kota ini juga menjadi lokasi pusat pemerintahan Kabupaten Raja Ampat.
Bukan hanya sebagai kota transit, Waisai sendiri menjanjikan keindahan alam yang memanjakan mata. Wisata pantai, aktivitas snorkeling, scuba diving, bird watching, dan wisata alam lainnya dapat dilakukan di kota kecil ini. Banyak penginapan, hotel, homestay, dan resort yang berlokasi di bibir pantai dan dekat dengan laut tersedia di wilayah ini.
Salah satu spot wisata yang sempat kami kunjungi adalah Kali Biru Raja Ampat. Kali Biru terletak di pedalaman hutan Raja Ampat, Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit, Raja Ampat. Kali Biru ini menjadi objek wisata air yang sayang untuk dilewatkan ketika mengunjungi Raja Ampat.
Sungai yang memiliki air yang sangat jernih seperti kristal ini tidak hanya menyimpan keindahan, tetapi juga cerita legenda. Penduduk Suku Mayalibit menyebutnya Waiyal. Wai artinya udara, Yal artinya tahu apa yang terjadi esok hari. Ada juga penduduk yang menyebutnya warabiar yang artinya jernih.
Airnya sangat menyegarkan dengan suhu 10-20 derajat celsius walaupun cuaca darat sedang terpapar sinar matahari. Air ini berasal dari sumber mata air pegunungan yang menurut masyarakat sekitar ketika diambil langsung dari ujung sungai dekat sumber mata air, air ini dapat langsung diminum.
Dengan kedalaman dua sampai lima meter, spot wisata ini menjanjikan pengalaman menarik bagi para pengunjung yang ingin berenang dan menikmati petualangan air di sini. Arusnya cukup tenang dan di beberapa titik di pinggir sungai, kedalamannya ada yang di bawah dua meter sehingga memungkinkan kita untuk berdiri menginjak dasar sungai.
Raja Ampat kerap dijuluki sebagai “The Last Paradise on Earth” atau “Surga Terakhir di Bumi”. Ada juga yang menyebutnya “Sepenggal Surga yang Jatuh di Bumi”. Julukan ini tidak salah karena keindahan alam wilayah ini memang sangat memanjakan mata. Tidak hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara juga banyak yang menghabiskan waktu berlibur di Raja Ampat. Tidak heran pesawat menuju Kota Sorong sebagai lokasi awal yang dituju sebelum menuju Raja Ampat sering kali sold out karena dipenuhi para wisatawan yang ingin mengunjungi Raja Ampat.
Wilayah Raja Ampat terdiri atas 610 pulau. Selain Waigeo, pulau-pulau utama adalah Misool, Batanta, dan Salawati. Selebihnya adalah pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah seluas 71.605 km². Wisata bahari, pemandangan alam, spot selam, budaya, dan edukasi menjadi tujuan wisatawan datang ke Raja Ampat.
Menjemput Kepatuhan Pajak
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, penduduk Raja Ampat pada tahun 2025 tercatat sebanyak 71.605 jiwa. Jumlah penduduk ini menempati 24 distrik, 4 kelurahan, dan 117 kampung yang tersebar di wilayah Raja Ampat.
Jumlah ini tentunya menjadi potensi pemberian layanan perpajakan bagi Direktorat Jenderal Pajak. Raja Ampat merupakan salah satu dari delapan kabupaten/kota yang menjadi wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sorong. Untuk menuju Waisai sebagai kota pemerintahan dan kota transit di Raja Ampat, masyarakat harus menempuh perjalanan laut selama kurang lebih dua jam dari Kota Sorong.
Menariknya, di Raja Ampat sendiri tidak ada kantor pajak. Tidak ada KPP maupun kantor pelayanan, penyuluhan, dan konsultasi perpajakan (KP2KP). KPP Pratama Sorong menyiasati hal ini dengan membuka layanan di luar kantor bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat.
KPP Pratama Sorong memberikan layanan perpajakan di kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Raja Ampat. Tidak setiap hari, tetapi tim dari KPP Pratama Sorong hadir selama lima hari kerja setiap bulannya di lokasi tersebut.
Selama ini, layanan perpajakan yang dibuka setiap bulannya ini selalu dipenuhi oleh wajib pajak yang ingin melaksanakan kewajiban perpajakan, melakukan konsultasi perpajakan, atau memperoleh informasi perpajakan. DPMPTSP seringkali dibanjiri oleh masyarakat dan wajib pajak yang ingin mendapatkan pelayanan perpajakan.
Jumlahnya jauh lebih banyak dari masyarakat yang ingin memperoleh pelayanan perizinan dan investasi. Pada bulan Februari 2026 yang lalu, jumlah antrean layanan perpajakan dalam satu hari bahkan menyentuh angka 400. Jumlah ini didominasi wajib pajak yang ingin melaporkan surat pemberitahuan (SPT) tahunan.
Tidak heran dalam momen audiensi tim dari KPP Pratama Sorong dengan Bupati Raja Ampat beserta jajaran, salah satu harapan bupati dan jajaran adalah bahwa kantor pajak dapat setiap hari beroperasi di Raja Ampat. Harapan ini mengemuka mengingat kesulitan wajib pajak dalam hal jarak dan keterbatasan transportasi jika harus pergi ke Sorong untuk mendapatkan pelayanan perpajakan.
Oleh karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki, selama ini KPP Pratama Sorong juga belum dapat menjangkau keseluruhan wilayah Raja Ampat mengingat adanya ratusan pulau yang ada di wilayah ini. Namun, KPP Pratama Sorong tetap berkomitmen untuk hadir membersamai wajib pajak dalam melakukan kewajiban perpajakan. Pelayanan disampaikan secara santun dengan memegang teguh integritas, untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Hal ini sejalan dengan moto KPP Pratama Sorong, "Giat membersamai, santun melayani, integritas menyertai".
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 20 kali dilihat