Baur
Oleh: Yogian Akbar Adiluhung Riyanto, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Tulisan ini dibuat sebagai apresiasi atas terlaksananya kegiatan Internalisasi Corporate Value (ICV) Keluarga Besar 647 KPP Ponorogo dan KP2KP Pacitan.
Internalisasi Corporate Value (ICV). Apa itu? ICV adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk menanamkan nilai-nilai korporat, dalam hal ini instansi Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, ke dalam jiwa pribadi setiap pegawai. Sehingga setiap pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam berpikir, bekerja, bertindak, dan berperilaku selalu selaras dengan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan baik ketika jam kerja maupun di luar jam kerja. Lalu, apakah instansi Direktorat Jenderal Pajak yang merupakan instansi pemerintahan termasuk sebagai suatu korporat? tentu tidak. Hal mendasar yang membedakan instansi pemerintah dengan korporat adalah tujuannya. Suatu korporat melaksanakan kegiatannya dengan satu tujuan yaitu keuntungan. Sementara instansi pemerintah bekerja untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
ICV dilaksanakan untuk mewujudkan sebuah instansi pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan terbaik, berkualitas, bermartabat, serta menyatukan pandangan terhadap Nilai-Nilai Kementerian Keuangan pada tingkat eselon I yang berbeda-beda. Sebagai satu kesatuan, semua unit eselon I harus bekerja bersinergi dan saling dukung. Untuk mewujudkan itu semua, dilaksanakanlah ICV pada Direktorat Jenderal Pajak. ICV dilaksanakan sebagai tindak lanjut terbit nya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 312/KMK.01/2011 Tanggal 12 September 2011 tentang Nilai-Nilai Kementerian Keuangan.
Sejak ditetapkan, Direktorat Jenderal Pajak menerjemahkannya menjadi berbagai program yang telah dilaksanakan untuk menunjang terwujudnya Internalisasi Nilai-Nilai Kementerian Keuangan. Mulai dari kegiatan sosialisasi, In-House Training, pemilihan pegawai teladan bulanan, doa pagi setiap hari, hingga kegiatan yang bersifat Outdoor yang dilaksanakan secara periodik misalnya mini game dan outbond. Semua kegiatan tersebut tentunya diharapkan semakin memperkuat pemahaman dan perasaan atas nilai-nilai yang semestinya dijunjung tinggi. Nilai-Nilai Kementerian Keuangan tersebut harus ada dan menancap kuat didalam diri setiap pegawai, tidak hanya menjadi penghias dinding kantor belaka.
Pelatihan masa kini telah mengajarkan bahwa penyampaian materi di dalam kantor saja tidak cukup untuk membuat peserta dapat memahami materi yang diajarkan. Direktorat Jenderal Pajak pun memahami hal itu. Untuk itulah diperlukan simulasi yang bersifat nyata sehingga dapat menjadi alat bantu yang sangat efektif agar materi Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dapat terinternalisasi dengan baik. Outbond dan mini games dianggap sebagai solusi tepat yang dapat memberikan stimulus karena secara langsung memberikan simulasi perwujudan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaan ICV, pengembangan karakter juga menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan. Karakter adalah diri sejati yang terbentuk dari nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan ; yang menciptakan sifat, sikap, perilaku, dan mindset. Karakter positif menjadikan seseorang kredibel dan sangat andal untuk meraih kinerja dan karier yang sukses. Pengembangan karakter melalui ICV diperlukan untuk mewujudkan komitmen terhadap Nilai-Nilai Kementerian Keuangan.
Pegawai yang memiliki karakter dan budaya kerja sesuai Nilai-Nilai Kementerian Keuangan akan memiliki identitas pribadi yang berintegritas tinggi, selalu professional dalam menjalankan tugas jabatan, bersifat terbuka dan bersinergi dengan setiap pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan instansi, selalu memberikan pelayanan prima dan memenuhi kepuasan pengguna layanan, dan tetap memperbaiki diri secara berkelanjutan serta selalu berinovasi demi peningkatan kualitas pelayanan perpajakan.
Hari Jumat-Sabtu, 21-22 September 2018, bertempat di Pantai Watu Karung dan Sungai Cokel di Kabupaten Pacitan, keluarga besar KPP Pratama Ponorogo-KP2KP Pacitan melaksanakan ICV untuk tahun 2018. Rombongan KPP Pratama Ponorogo berangkat sepulang kerja menuju penginapan di pantai Watu Karung. Perjalanan menuju Pacitan juga bukan hal yang mudah. Medan yang berliku serta penuh tanjakan dan turunan, ditambah hari yang mulai gelap dan kondisi badan yang sudah Lelah setelah seharian bekerja, itu semua harus dihadapi.
Setelah tiba, membersihkan badan dan makan malam, kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB yang diisi malam keakraban. Pengisi acara adalah semua pegawai yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing memberikan penampilan sesuai kreativitasnya. Ada yang menyanyi, drama, modern dance, dan banyak lagi. Semua kelompok berusaha memberikan penampilan terbaik. Acara berlangsung seru dan meriah namun tetap santai. Semua pegawai membaur satu sama lain. Kemudian dilanjutkan acara tukar kado yang telah disiapkan oleh masing-masing pegawai sebelumnya.
Menemani dingin nya malam, tidak lupa BBQ atau memanggang daging dan bahan makanan yang telah disediakan. Malam itu semua pegawai membaur dan membangun kembali keakraban yang biasanya dikantor terpisahkan oleh sekat-sekat tiap seksi. Membangun sinergitas dan sensing sembari sejenak melupakan kejenuhan pekerjaan kantor. Malam keakraban ditutup dengan hiburan electone. Semua pegawai bergembira bersuka cita.
Acara hari kedua diawali dengan sholat subuh berjamaah dan ponorogo bertilawah. Kemudian dilanjutkan dengan membersihkan badan dan sarapan pagi. Acara kembali dilanjutkan pukul 08.00 yang diisi mini games. Game pertama adalah tiup bola estafet. Peserta dibagi menjadi 8 kelompok. Masing-masing kelompok meniup bola pingpong yang dimasukkan di gelas penuh air yang sudah berjejer rapi. Setiap kali pindah gelas, orang yang meniup juga harus ganti. Kejelian membaca situasi sangat dibutuhkan dalam hal ini. Salah satunya jeli membaca arah angin.
Game kedua adalah estafet sarung. 4 orang bergandengan tangan memindahkan sarung dari ujung satu ke ujung yang lain dengan tangan tidak boleh saling terlepas. Diujung ada satu orang yang menerima sarung tersebut. Tentu tidak semudah itu. Satu orang diujung harus memakai stocking di wajah dan ditarik oleh pihak lawan. Benar-benar permainan yang sengit dan membutuhkan koordinasi dan kekompakan.
Kegiatan ICV ditutup dengan menjelajahi sungai cokel menggunakan perahu. Ada 17 buah perahu yang disewa untuk menjelajahi aliran sungai hingga muara. Satu perahu berisi 5 orang. Menjelajahi sungai juga bukan tanpa tantangan, terlebih ketika sudah sampai di muara. Dangkalnya aliran air membuat penumpang harus turun untuk mendorong perahunya menuju tengah laut. Sesampainya di laut, pengemudi perahu membawa penumpang kesana kemari melawan ombak. Sesekali perahu oleng oleh derasnya gulungan ombak. Penumpang harus pandai-pandai mengatur posisi duduk agar perahu tidak terbalik. Setelah kurang lebih setengah jam melawan gelombang pantai laut selatan di tengah laut, perahu menepi dan kembali ke titik penjemputan.
Mengisi kegiatan ICV dengan outbond dan games memang sudah terbukti efektif. Kegiatan semacam itu ampuh untuk membuka pola komunikasi yang selama di kantor tersekat-sekat dan tersumbat. Hierarki birokrasi, keengganan bawahan untuk membuka pembicaraan, dan hal lain yang bersifat dinas biasanya menjadi hambatan. Padahal komunikasi adalah kunci dari tercapai tidaknya suatu tujuan. Dalam games dan outbond, batas-batas tersebut dihapus. Tidak ada jabatan dan derajat, semua anggota tim dalam permainan adalah sama. Ketua tim tidak harus kepala seksi. Tidak melulu kepala kantor adalah orang yang memberikan solusi pemecahan masalah dan strategi terbaik untuk memenangkan permainan. Kapan lagi bawahan bisa digendong atasan ? atau pelaksana bisa menjahili kepala seksi. Dengan dikemas dalam kegiatan yang tepat, semua Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dapat terserap dalam diri setiap pegawai. Bahwa ICV bukan kegiatan yang hanya sekadar basa-basi ataupun pencitraan. ICV dapat memberikan pengalaman berharga bagi setiap pegawai yang tidak ditemukan di kantor. Dan juga kembali menegaskan bahwa ICV bukan kegiatan yang tanpa makna, bukan penghabis anggaran kantor yang sedari awal sudah tipis, tapi merupakan salah satu cara efektif tentang bagaimana setiap pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan dapat menjadi agen nyata Perubahan bagi instansi pemerintahan. (*)
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.
- 763 kali dilihat