Bandung, 22 Juni 2026 — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Jawa Barat hingga 31 Mei 2026 tetap terjaga kuat dan mencatatkan surplus regional di tengah kekhawatiran kondisi global yang dinamis.
- APBN Jawa Barat mencatatkan surplus regional sebesar Rp15,55 triliun. Total Pendapatan Negara yang berhasil dihimpun mencapai Rp60,66 triliun (32,18% dari target), sementara Belanja Negara terealisasi sebesar Rp45,11 triliun (41,76% dari pagu).
- Penerimaan Negara hingga akhir Mei 2026 tercatat tumbuh sebesar 5,62% (yoy). Keberhasilan ini didorong oleh Penerimaan Perpajakan sebesar Rp57,63 triliun yang tumbuh 6,11% (yoy), meskipun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mengalami kontraksi tipis 0,65% (yoy). Penerimaan dari Sektor Pajak Dalam Negeri menyumbang Rp4,66 triliun (tumbuh 11,34%), sedangkan sektor Kepabeanan dan Cukai menyumbang Rp11,87 triliun namun terkontraksi 10,17% (yoy). Sektor ekonomi yang menyumbang pertumbuhan tertinggi pada sisi perpajakan adalah sektor Keuangan dan Asuransi yang melejit 40,31% (netto), disusul sektor Transportasi dan Pergudangan (28,17%), Jasa Profesional (24,21%), serta Perdagangan (21,35%) akibat lonjakan aktivitas menjelang Idul Adha dan libur panjang. Kontributor terbesar perpajakan tetap didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan yang menyumbang Rp21,62 triliun (tumbuh tipis 6,08%). Sejalan dengan kondisi tersebut, Kinerja Penerimaan Pajak di wilayah kerja Kanwil DJP Jawa Barat III menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Hingga 31 Mei 2026, realisasi penerimaan neto tercatat mencapai Rp12,68 triliun atau 34,9% dari target, dengan pertumbuhan yang signifikan sebesar 18,5%. Adapun realisasi restitusi pada periode ini tercatat sebesar Rp1 triliun atau tumbuh 9,3% (yoy). Dari sisi jenis pajak, pertumbuhan pajak di Kanwil DJP Jawa Barat III ditopang oleh lonjakan pada PPh Pasal 21 yang melejit +46,3% (yoy), PPh Pasal 25/29 Badan sebesar +31,8% (yoy), serta PPN Dalam Negeri sebesar +22,1% (yoy). Sementara itu, dari sisi sektoral, pertumbuhan kinerja penerimaan didukung oleh sektor Perdagangan sebesar +24,6% (yoy), Administrasi Pemerintahan sebesar +19,2% (yoy), dan Industri Pengolahan sebesar +18,1% (yoy).
- Realisasi PNBP mencapai Rp3,03 triliun atau 44,26% dari target, terkontraksi sebesar 2,93% (yoy). Penurunan ini didorong oleh PNBP Lainnya yang turun 15,26% (yoy), terutama pada Penerimaan PNBP POLRI (STNK, TNKB, BPKB), Jasa Pelayanan Pertanahan, serta PNBP Uang Sitaan TPPU dan Tipikor.
- Realisasi Belanja Negara mencapai Rp45,11 triliun atau 41,76% dari pagu sebesar Rp108,03 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 1,67% (yoy). Pertumbuhan utama terjadi pada Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang tumbuh signifikan 27,71% di seluruh jenis belanja dengan realisasi Rp16,66 triliun. Lonjakan tertinggi dicatatkan oleh Belanja Modal yang mencapai Rp1,88 triliun atau meroket 126,60% (yoy). Sebaliknya, Belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) masih terkontraksi sebesar 9,18% (yoy).
- Realisasi TKDD tercatat sebesar Rp28,45 triliun atau 46,52% dari pagu. Penyaluran TKD mencapai Rp27,62 triliun (terkontraksi 1,59% yoy), sementara Dana Desa terealisasi Rp832,47 miliar (terkontraksi 74,48% yoy) akibat sempat tertahannya penyaluran di awal tahun dan baru mulai bergulir normal pada Maret 2026 pasca-terbitnya PMK No. 7 Tahun 2026.
- Berbagai program prioritas nasional terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jawa Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 14,68 juta penerima manfaat di 27 kabupaten/kota melalui 6.794 SPPG dengan melibatkan 30.132 supplier. Sementara itu, program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) berhasil menjangkau 15.915 penerima dengan nilai realisasi sebesar Rp2,0 triliun. Di sektor pendidikan dan koperasi, telah terbentuk 5.970 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Program Sekolah Rakyat yang beroperasi di 20 lokasi (47 unit sekolah), serta Program Revitalisasi Sekolah yang sukses terealisasi pada 1.625 unit dari target 1.699 unit. Terakhir, pada sektor ketahanan pangan, pemerintah merealisasikan anggaran sebesar Rp2,37 triliun dengan capaian serapan beras mencapai 491.297 ton.
- Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Mei 2026 mencapai Rp16,12 triliun kepada 245,83 ribu debitur, berkontribusi sebesar 11,50% terhadap penyaluran nasional dengan serapan terbesar di sektor Perdagangan Besar dan Eceran (Rp6,29 triliun). Sementara itu, Kredit Ultra Mikro (UMi) tersalurkan sebesar Rp926,45 miliar kepada 161,58 ribu debitur.
Dari sisi makroekonomi regional, perekonomian Jawa Barat tumbuh solid sebesar 5,79% (yoy) pada triwulan I 2026. Tingkat inflasi Mei 2026 terkendali pada angka 3,07% (yoy) dengan komoditas emas perhiasan dan daging ayam sebagai penyumbang utama. Neraca perdagangan regional per April 2026 juga mencatatkan surplus USD 2,35 miliar, sehingga total akumulasi surplus Januari-April 2026 mencapai USD 8,90 miliar. Di sisi produsen, Nilai Tukar Petani (NTP) naik 1,23% menjadi 118,30, sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) mengalami penurunan 0,87% menjadi 116,87.
Di tengah dinamika global, APBN Regional Jawa Barat terbukti tetap resilien dan bekerja optimal sebagai shock absorber sekaligus penggerak roda ekonomi. Ke depan, Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas belanja negara, menjaga kesehatan fiskal, serta mempercepat realisasi anggaran demi pembangunan yang berkelanjutan di Jawa Barat.
- 1 kali dilihat