Membangun kesadaran pajak tidak bisa hanya mengandalkan iklan layanan masyarakat atau sosialisasi di media sosial. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) meyakini bahwa fondasi kepatuhan yang paling kuat harus dimulai jauh lebih awal, yakni dari bangku sekolah.

Keyakinan itulah yang mendorong Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jawa Timur III untuk terus menggalakkan program inkusi kesadaran pajak melalui jalur pendidikan. Kanwil DJP Jawa Timur III menerima kunjungan industri dari 63 siswa kelas XI Akuntansi SMK Negeri Winongan, Kabupaten Pasuruan di Kota Malang (Rabu, 13/5). Mereka datang langsung untuk memahami bagaimana sistem perpajakan Indonesia bekerja dan mengapa pajak begitu menentukan jalannya  roda pembangunan negara.

Fakta yang disajikan dalam sesi edukasi ini cukup membuka mata para siswa. Dari total pendapatan negara yang ditargetkan sebesar Rp3.153,6 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, sektor penerimaan perpajakan memegang peran dominan sebesar Rp2.357,7 triliun atau sekitar 74,8 persen. Artinya, hampir seluruh pembiayaan publik mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, operasional sekolah, subsidi kesehatan, hingga gaji aparatur negara sangat bergantung pada kepatuhan wajib pajak.

"Pajak itu seperti kandungan air dalam tubuh manusia. Tanpanya, negara tidak bisa berfungsi," ujar penyuluh pajak, Anas Agung Susetyo.

Anas menjelaskan konsep APBN dengan cara yang sederhana dan mudah dicerna oleh para siswa. Ia mengibaratkan pemerintah memiliki "dompet" bernama APBN yang mencatat seluruh pos pemasukan dan pengeluaran.

Dalam postur APBN 2026, belanja negara tercatat mencapai Rp3.842,7 triliun, dengan defisit selisih yang ditutup melalui pembiayaan sebesar Rp689,1 triliun. Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara untuk menekan angka pembiayaan tersebut.

Di akhir sesi, Anas menyampaikan harapannya agar program edukasi dan inklusi seperti ini dapat terus meluas ke lebih banyak institusi pendidikan. Kesadaran pajak yang tumbuh sejak dini dinilai bukan sekadar urusan satu generasi, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan Indonesia.

"Semoga kunjungan ini menjadi inspirasi untuk terus belajar, berprestasi, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang profesional dan berintegritas," pesan Anas menutup arahannya.

Pewarta: Rizqi Puji Sukmawati
Kontributor Foto: Rizqi Puji Sukmawati
Editor: Faris Aulia Rahman

*)Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.