Ramadan sebagai Momentum Pembenahan Integritas
Oleh: Andra Amirullah, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Bulan Ramadan hadir di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap integritas aparat negara --termasuk fiskus atau petugas pajak. Berbagai penindakan hukum dan kasus korupsi yang mencuat ke permukaan memperlihatkan bagaimana kepercayaan publik masih terus diuji. Dalam keprihatinan ini, Ramadan datang menawarkan ruang jeda—sebuah kesempatan untuk menata ulang orientasi, memperhalus nurani, dan mengingat kembali hakikat amanah yang melekat pada setiap pelayan publik.
Kepercayaan merupakan fondasi dari administrasi publik, terutama di sektor perpajakan yang mengandalkan kepatuhan sukarela. Tanpa integritas, kerangka hukum dan teknologi secanggih apa pun tidak cukup memastikan bahwa kewenangan dijalankan secara bertanggung jawab. Banyak penyimpangan tidak lahir dari keputusan besar, tetapi bermula dari kelonggaran kecil yang dibiarkan. Pada titik inilah relevansi pembenahan integritas terasa mendesak.
Sistem yang Tidak Selalu Menutup Celah
Dalam perjalanan, kita melihat perbaikan nyata tata kelola dan pembaruan regulasi serta penguatan perangkat pengawasan tak henti dilakukan. Namun pengalaman menunjukkan, celah penyimpangan tidak selalu dapat ditutup hanya dengan sistem. Sebagaimana dijelaskan dalam teori fraud triangle oleh Donald Cressey, tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi dapat bersatu menjadi pintu masuk perilaku koruptif.
Ketika kompromi kecil diberi ruang, aturan akhirnya berubah menjadi prosedur administratif semata, yang tidak punya kekuatan moral. Karena itu, pembenahan tata kelola harus berjalan seiring dengan penguatan karakter pribadi mereka yang berada di dalam system apalagi pejabat yang berkuasa mengelola dan menetapkan hajat publik. Tanpa perubahan pada diri personal, penguatan mekanisme dan prosedural akan selalu memiliki celah.
Ramadan sebagai Sekolah Disiplin Moral
Ramadan mengajarkan disiplin batin yang relevan bagi siapa pun yang memegang kewenangan publik. Puasa melatih kita menahan diri dari hal-hal yang halal—makan, minum, dan kesenangan lainnya—agar mampu menahan diri pula dari hal-hal yang dilarang. Pesannya sederhana: tidak semua yang bisa dilakukan, layak dilakukan.
Dalam konteks pelayanan publik, puasa bermakna mendalam. Banyak keputusan diambil tanpa pengawasan langsung. Di titik sunyi itu, kejujuran diuji bukan oleh kamera dan sistem, tetapi oleh kesadaran bahwa setiap tindakan—sekecil apa pun—memiliki pertanggungjawaban, baik kepada publik maupun kepada Tuhan. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi integritas, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh regulasi.
Menerjemahkan Nilai ke Ruang Kerja
Penegakan hukum dan efek jera penting, tetapi keduanya tidak dapat berdiri sendiri. Integritas harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari: menahan diri ketika peluang penyimpangan terbuka, memegang teguh etika meski tidak dihadapkan pada pemeriksaan, serta menjaga obyektivitas meski tersedia beragam rasionalisasi untuk menyimpang.
Nilai-nilai Ramadan memberi kerangka yang kuat untuk itu. Kedisiplinan ibadah melatih kedisiplinan prosedural. Kebiasaan refleksi harian menajamkan kepekaan terhadap konsekuensi dari setiap keputusan. Menahan diri dari hal yang diperbolehkan membantu kita menolak godaan terhadap hal yang jelas dilarang. Dari ruang ibadah, nilai-nilai itu mengalir ke ruang kerja, membentuk karakter yang menentukan kualitas pelayanan publik.
Menjadikan Momentum sebagai Kebiasaan
Ramadan memberi ruang refleksi, sayang jika hanya menjadi ritual yang berhenti pada satu bulan. Pembenahan integritas menuntut kesinambungan: sistem yang kuat, budaya organisasi yang sehat, dan nilai personal yang terjaga. Ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Apabila kejujuran, disiplin, dan rasa amanah yang diasah selama Ramadan dapat terus dirawat dalam setiap proses kerja—mulai dari pelayanan, pengawasan, pemeriksaan, konsultasi, hingga penentuan kebijakan—maka kepercayaan publik akan tumbuh melalui konsistensi, bukan sekadar slogan.
Ramadan memberi momentum. Tugas kita adalah menjadikannya awal dari pembiasaan yang berkelanjutan.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 23 kali dilihat