Sisi Lain

Oleh: Ahmad Dahlan, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Hakordia itu, Hari Anti Korupsi se-Dunia. Yang diperingati setiap tanggal 9 Desember. Peringatan ini dimulai setelah Konvensi PBB Melawan Korupsi pada 31 Oktober 2003 untuk meningkatkan kesadaran anti korupsi. Melalui resolusi 58/4 pada 31 Oktober 2003, PBB menetapkan 9 Desember sebagai Hari Anti Korupsi Internasional.

Maka sejak itu, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai institusi yang rawan tindakan koruptif, setiap tahun selalu memperingati dengan berbagai agenda. Tujuannya jelas, sebagai bentuk dukungannya dalam memerangi korupsi, sekaligus menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada seluruh pegawainya.

Pun tahun ini. Hakordia diperingati oleh seluruh unit kantor di jajaran DJP sejak awal bulan Desember. Salah satunya adalah diselenggarakanya lomba pembuatan film pendek bertemakan anti korupsi. Lomba ini diikuti oleh seluruh kantor wilayah DJP di seluruh Indonesia. Peringatan Hakordia tahun ini, DJP mengusung tema "Bangun Negeri Tanpa Korupsi".

Hari ini (tanggal 14 Desember 2018), Kanwil DJP Jakarta Khusus melengkapi rangkaian acara Hakordia tahun 2018 dengan Apel Pagi. Acara ini diselenggarakan di komplek kantor pajak Kalibata. Diikuti oleh seluruh KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus. Dihadiri oleh Muhammad Haniv selaku Kakanwil.

Ada yang unik dalam apel pagi ini. Seluruh petugas apel adalah pegawai perempuan. Mulai dari komandan tiap-tiap barisan sampai komandan upacara. Semua perempuan. Termasuk juga fotografer, peserta paduan suara, dan pemimpinnya. Ini dilakukan sekalian dalam rangka menyambut Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember nanti. 

Dalam apel itu, dibacakan naskah Tunas Integritas. Oleh pegawai perempuan juga. Bahwa Tunas Integritas yaitu pribadi-pribadi yang memiliki integritas tinggi dan bersedia membangun sistem integritas baik di organisasi maupun di bangsa.

Dalam naskah itu, disebutkan juga peran tunas integritas, adalah, yang pertama mendorong pemberantasan korupsi di Indonesia sebagai pembenahan akhlak dan moral. Kedua, membangun lingkungan yang berintegritas dan mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi. Ketiga, mampu untuk menjalankan peran strategis dalam organisasi.

Peran tunas integritas yang keempat adalah, menjadi jembatan kesuksesan masa depan organisasi. Kelima, melakukan berbagai macam cara agar peluang-peluang korupsi dapat tertutup. Dan yang terakhir, keenam, adalah mempengaruhi orang lain sehingga menjadi mitra-mitra kerja yang juga berintegritas.

Di bagian akhir dari naskah tunas integritas yang dibacakan itu, sebuah kalimat pertanyaan, "Siapakah yang dapat menjadi tunas integritas?" Lalu seluruh peserta apel menjawab serempak sambil mengepalkan tangan ke atas, "Kita semua...!!!", dan dilanjut dengan kalimat penutup oleh pembaca naskah, "Kita semua, yang mempunyai komitmen integritas."

Dalam apel itu, juga ada pelepasan puluhan balon ke angkasa oleh Bapak Kakanwil dan pejabat Eselon 3 di jajarannya. Balon-balon yang berwarna merah dan putih itu terbang. Membumbung tinggi tertiup angin. Melewati pucuk-pucuk pohon. Makin tinggi ke angkasa. Terus dan terus.

Acara pelepasan balon ini bisa dimaknai sebagai, sikap komitmen yang tinggi yang dimiliki seluruh pegawai DJP dalam memegang teguh integritas. Juga sebagai simbol harapan yang tinggi masyarakat Indonsia agar bangsa ini menjadi lebih baik. Maka, bangun negeri tanpa korupsi. (*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.