Bandung, 6 Mei 2025 – Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jawa Barat menyampaikan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Jawa Barat sampai dengan 31 Maret 2026. di Ruang Sidang Gedung Keuangan Negara Bandung, Jalan Asia Afrika nomor 114 Bandung.

Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Barat yang merupakan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Jawa Barat, Finari Manan, menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kinerja APBN di Jawa Barat sampai dengan 31 Maret 2026 mencatatkan surplus regional sebesar  Rp2,45  triliun  dengan  rincian  total  Pendapatan  Negara  sebesar  Rp31,67  triliun (16,80%  dari target),  sementara  total Belanja Negara sebesar  Rp29,22 triliun  (27,45% dari pagu).
  2. Penerimaan  Negara  s.d. 31 Maret  2026  tercatat  terkontraksi  sebesar  3,46%  (yoy) yang disumbang   oleh   Penerimaan   Perpajakan   yang   terkontraksi   sebesar   3,40%   (yoy)  dan Penerimaan Bukan Pajak yang terkontraksi sebesar 4,40 % (yoy). Kontraksi pada penerimaa n perpajakan  disumbang  oleh Penerimaan  Cukai yang terkontraksi sebesar 13,70% (yoy) atau mencatatkan penerimaan sebesar Rp7,19 triliun dari target Rp30,56 triliun (capaian 23,51% dari target). Turunnya  penerimaan  cukai terutama disebabkan  terkontraksinya  penerimaa n dari Cukai Hasil Tembakau  yang mencatatkan  kontraksi  sebesar 14,30%  (yoy). Sedangkan, penerimaan   dari  sektor   pajak   mencatatkan   pertumbuhan,    kecuali   penerimaan   pajak lainnya.  Sektor ekonomi  dominan  yang tumbuh  dari sisi perpajakan  pada  triwulan  I 2026 adalah  pada  sektor  jasa  professional  (tumbuh   46,46%),   sektor  keuangan  dan  asuransi (25,02%),  aktivitas  penyewaan  (19,09%),  perdagangan  (16,25%),  dan  administrasi pemerintahan    (3,26%).    Hal   ini   disebabkan    karena    peningkatan    aktivitas    ekonomi masyarakat terutama pada saat Hari Raya Idul Fitri pada Bulan Maret 2026
  3. Realisasi  PNBP sampai dengan Maret 2026  sebesar Rp1,85  Triliun  atau 27% dari target tahun   2026,   mengalami   kontraksi   sebesar   4,40%   (yoy).  Catatan  kontraksi   ini   juga merupakan   yang  pertama  dalam  6  bulan  terakhir   mengingat  penerimaan   PNBP  selalu tumbuh setiap tahunnya.  Kontraksi pada PNBP didorong oleh penurunan  penerimaan  PNBP Lainnya yang terkontraksi 22,57% (yoy).
  4. Hingga Triwulan  I 2026,  Belanja Negara telah terealisasi  Rp29,22 triliun  atau 27,45% dari pagu tahun  2026  sebesar  Rp106,45  triliun,  secara  yoy mengalami  perlambatan  sebesar 0,68%. Perlambatan  ini terutama  pada Belanja  Transfer  Ke Daeah dan Dana Desa (TKDD) sebesar   -7,96%   (yoy).   Walaupun    demikian,    perlambatan    tersebut   dipengaruhi    oleh penurunan  pagu TKDD. Sehingga, secara persentase capaian terhadap pagu, kinerja  Belanja Negara s.d. Maret 2026 masih lebih baik dibanding  TA 2025 baik pada Belanja K/L maupun TKDD.  Belanja  K/L sampai  dengan  31  Maret  2026  terealisasi  sebesar  Rp9,2  triliun  atau 20,31%   dari   pagu,   tumbuh    dibanding    tahun   lalu   pada   semua   komponen   belanja. Pertumbuhan   tertinggi  pada  Belanja  Modal  yang  mencatatkan  realisasi  Rp697,31  miliar, tumbuh 92,92% (yoy) dibanding  Maret 2025.
  5. Transfer  Ke  Daerah   dan  Dana  Desa  tumbuh  negatif  7,96%  dengan  realisasi   sebesar Rp20,02 triliun atau capaian 32,73% dari pagu. Penyaluran TKD hingga 31 Maret 2026 sudah mencapai  Rp19,74  triliun  (33,32%)  tumbuh  2,01% (yoy),  sementara  Dana  Desa mencapai Rp275,91  miliar (14,44%)  terkontraksi  88,48%  (yoy).  Tingginya  kontraksi  pada  Dana Desa disebabkan  karena  tertahannya  penyaluran  Dana  Desa  pada  awal tahun  anggaran  2026. Dana Desa baru bisa disalurkan  pada Bulan Maret 2026 setelah terbitnya  PMK No. 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa Tahun 2026.
  6. Berbagai program prioritas  terus berlanjut dan memberi manfaat kepada masyarakat di wilayah Jawa Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaksanakan di 27 Kab/Kota dilaksanakan  oleh 5.521 SPPG  dan melibatkan  19.772  supplier,  secara total program MBG telah  menjangkau  14,5 juta  penerima  manfaat.  Program  Fasilitas  Likuiditas  Pembiayaa n Perumahan  (FLPP) telah menjangkau  10.162 penerima  dengan realisasi Rp 1,28 triliun melibatkan    19   Asosiasi,    975   pengembang    dan   1.332    perusahaan.    Perkembang a n pembentukan  KDKMP,  telah terbentuk  650 Koperasi  Kelurahan  dan 5.321  Koperasi  Desa. Saat  ini  gerai  aktif  KDKMP  telah  mencapai  3.306  gerai.  Program  Sekolah  Rakyat  telah beroperasi  di 20 lokasi dengan jumlah  47 unit  sekolah. Program Revitalisasi  Sekolah telah dilaksanakan oleh tiga Kementerian  walaupun  masih terdapat catatan program yang belum merata  di  Jawa barat.  Program  SMA  Unggul  Garuda  telah  beroperasi  1 sekolah  di  SMA Cahaya  Rancamaya,  Bogor,  telah  berjalan   sejak  tahun   ajaran  2025.   Capaian  Prioritas Ketahanan Pangan telah terealisasi Rp953,71 miliar dengan capaian produksi padi mencapai 2,48 juta ton sedangkan penyaluran  beras SPHP mencapai 89,74 juta Kg .
  7. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai dengan Maret 2026 sebesar Rp9,43 triliun kepada 144 ribu debitur  dan penyaluran  Kredit  Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp760,62  miliar kepada untuk 125 ribu debitur. Penyaluran KUR di Provinsi Jawa Barat berkontribusi  sebesar 11,83% terhadap penyaluran  KUR secara nasional.
  8. Perekonomian Jawa Barat triwulan  I 2026 tumbuh 0,24% (q-to-q) dan 5,79% (yoy). PDRB ADHK tercatat sebesar Rp 475,41 triliun dan ADHB sebesar Rp799,11 triliun.  Pertumbuha n ekonomi  Jawa Barat dan Nasional memiliki  pola yang serupa  dengan distribusi  yang tida k jauh   berbeda   didorong   pertumbuhan    pada   industry   pengolahan   sebagai   kontributo r terbesar.
  9. Tingkat Inflasi April 2026  sebesar  2,49% (yoy) dengan IHK 111,44.  Inflasi tertinggi di Kab Majalengka  (3,01%  yoy)  dengan  IHK  111,72;  sedangkan  inflasi  terendah  di  Kota  Depok (2,22% yoy) dengan IHK 110,71. Komoditas Penyumbang  utama inflasi yoy pada bulan April 2026  adalah  emas  perhiasan  (0,81%),  Daging  Ayam  Ras (0,21%),  Beras  (0,17%),  Minya k Goreng  (0,09%),  dan Bahan  Bakar Rumah  Tangga (0,08%).  Sedangkan  yang  memberika n andil deflasi adalah komoditas Bawang Putih (-0,08%), Bawang Merah (-0,08%), Cabai Mera h (-0,05%), Angkutan Antar Kota (-0,02%), dan Tarif Jalan Tol (-0,01%).
  10. Neraca  Perdagangan Jawa Barat  Maret  2026  Surplus  USD 1,98 miliar.  Total Ekspor USD 2,68 miliar (↓ m-to-m, ↓ y-on-y) dan Total Impor USD 0,07 miliar (↓ m-to-m, ↓ y-on-y). Pada  Januari-Maret   2026  secara  total  mengalami  surplus   USD  6,55  miliar.  Berdasarka n transaksi perdagangan Nonmigas, neraca perdagangan dengan AS menunjukkan  surplus mencapai USD 1.420,04 Juta, sedangkan defisit perdagangan  dengan Tiongkok dan Taiwan mengalami defisit -USD506,97 Juta dan -USD4,39 Juta.
  11. Nilai  Tukar Petani (NTP)  Jawa Barat  April  2026  turun  1,60%  menjadi 118,76,  didorong penurunan  baik  pada  Indeks  Harga yang  Diterima  Petani  (It) yang turun  sebesar  (1,64% ) maupun  penurunan  Indeks Harga yang Dibayar  Petani (Ib) yang hanya  0, 04%. Begitu juga pada  Nilai Tukar  Nelayan  (NTN)  yang  turun  1,20%  menjadi  117,89  seiring  penurunan   It sebesar 0,05% dan peningkatan  Ib1,16%.
  12. Di tengah berbagai  ketidakpastian  global yang didorong  oleh ketegangan di timur tengah dan selat hormuz  yang  mengganggu  distribusi  komoditas  internasional,  perang  dagang, volatilitas pasar keuangan  dan  faktor geopolitik  lainnya,  Perekonomian  Jawa Barat masih  tetap resilie n salah satunya  didorong  faktor konsumsi  pemerintah  pada masa Hari Raya Idul Fitri.  Ke depa n Pemerintah   akan  terus  memperkuat   momentum   pertumbuhan   ekonomi  serta  memperkua t bantalan  fiskal  perekonomian   melalui  kebijakan   fiskal  yang  tepat  dan  berkesinambungan.
  13. Kinerja  APBN hingga Maret 2026 tercatat masih on track dan membukukan  surplus  APBN, dan akan terus dioptimalkan untuk mendukung  program prioritas nasional serta menjadi katalis pertumbuhan    ekonomi.   Langkah-langkah   dalam   menjaga   kualitas   Belanja   Negara   terus ditingkatkan  dan  dipercepat  realisasinya,  sementara  produktivitas   Kas Negara  terus dioptimalkan.   Di  sisi  lain  Kinerja   Pendapatan   Negara  terus   dijaga   dan  diperbaiki   sejala n perkembangan  kondisi ekonomi.

 

#PajakTumbuhIndonesiaTangguh

Narahubung Media :  ________________________________________________________________________________________

Rudi Munandar
Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat

)
*

: 022-4212255
: kanwil.150@pajak.go.id