NAMANYA Shinji Dennis Huwae, 27 tahun umurnya. Ia berasal dari Manokwari, sebuah kabupaten yang menjadi ibukota Provinsi Papua Barat –di bagian barat laut Pulau Papua yang mirip kepala burung. Kendati kejepang-jepangan, dia berdarah Indonesia tulen. Marga Huwae turun dari ayahnya, Simon Huwae (66 tahun), asal Ambon. Ibunya, Dina Kabiay (64 tahun), asli Papua.
Shinji adalah definisi nyata dari perjuangan dan kerja keras. Besar dari keluarga sederhana, anak bungsu dari tujuh bersaudara ini tumbuh meraih asa. Ayahnya pekerja bagunan lepas dan ibunya mengurus rumah tangga sembari membantu cari tambahan nafkah.
Kondisi itu tak menyurutkan Simon dan Dina mengantarkan dua anak mereka meraih gelar sarjana. Kakak kedua Shinji lulus sebagai sarjana pertanian, sedangkan dia menyabet gelar sarjana ekonomi dari Universitas Negeri Papua, Manokwari.
Nama Shinji sendiri, “pemberian dari peneliti Jepang yang berkunjung ke rumah kami,” ungkapnya di sela makan siang usai peluncuruan Ngabuburit Spectaxcular, di Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) (Jumat, 13/2).
Waktu itu Dina tengah mengandung dia. Pamannya mendampingi periset asal Negeri Sakura itu yang bernama Armageddon Shinji. Shinji-san meneliti pertanian sekaligus sosial-budaya masyarakat Manokwari untuk studi doktoralnya.
* * *
SPECTAXCULAR merupakan kampanye besar DJP guna menyambut pesta akbar lapor surat pemberitahuan (SPT) tahunan. Jatuh tempo pelaporan SPT tahunan untuk wajib pajak orang pribadi pada 31 Maret sedangkan untuk wajib pajak badan pada 30 April. Oleh karena itu, gawe Spectaxcular ini berlangsung pada Februari hingga Maret, yang gencar dilakukan seluruh kantor pajak.
Yang menjadi istimewa untuk tahun ini, Spectaxcular bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Berbalut nuansa ngabuburit, “sambil beribadah kita mengasistensi wajib pajak,” tutur Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Inge Diana Rismawanti, dalam laporan kegiatan Kick Off Ngabuburit Spectaxcular waktu itu.
Selain itu, menurut Ketua Umum Perkumpulan Tax Center dan Akademisi Pajak Seluruh Indonesia (Pertapsi), Darussalam, tahun ini merupakan dimulainya pelaporan SPT tahunan melalui Coretax. “Harapan saya, Renjani mampu mendampingi wajib pajak melaporkan SPT tahunan sampai berhasil,” tuturnya saat memberikan sambutan.
Renjani merupakan akronim dari relawan pajak untuk negeri. Setiap tahun DJP membuka rekrutmen bagi para mahasiswa yang berminat. Pada 2024, terdapat 11.770 pendaftar dan 7.249 orang lolos sebagai Renjani. Tahun lalu, jumlah peminat melonjak 5% menjadi 12.411 pelamar, dan 8.107 di antaranya lolos sebagai relawan pajak.
Relawan hasil rekrutmen 2025 ini bergabung bersama 1.158 Renjani penerimaan tahun-tahun sebelumnya yang masih aktif –para mahasiswa dari kampus yang memiliki tax center. Total, 9.265 Renjani siap mendampingi wajib pajak tahun ini.
Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, dalam sambutannya, menaruh harapan besar terhadap para Renjani. “Kami yakin adik-adik ini mampu jadi duta kami, yang menjelaskan secara simpel seputar kewajiban perpajakan dan manfaat pajak. Harapannya kolaborasi DJP dan Renjani menjadi kegiatan penuh integritas dan keimanan.”
Baca juga:
Kick Off Ngabuburit Spectaxcular, DJP: Momentum Humanis Kampanyekan Lapor SPT Tahunan
Ayo Kenali Renjani, Relawan Pajak untuk Negeri
* * *
SHINJI merupakan alumnus Renjani yang tahun lalu telah diterima sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) DJP. Menurutnya, banyak manfaat menjadi relawan pajak. “Saya memperoleh soft skill dan hard skill, mengenal nilai integritas dalam melayani, serta mengasah public speaking,” tuturnya.
Melayani warga lokal, Shinji berbagi tips. “Mereka hanya ingin didengarkan sampai tuntas. Jangan potong pembicaraan mereka,” tuturnya. Menurutnya, masyarakat sudah bersusah payah mendatangi kantor pajak –khususnya dari pedalaman. Infrastruktur yang belum memadai ditambah masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi merupakan tantangan tersendiri. “Jangan terbawa emosi,” imbuhnya.
Tak memiliki kendaraan bermotor, Shinji naik angkutan umum dari rumah ke kampus. “Kadang-kadang pinjam motor teman,” tuturnya. Keuletannya membuat dia menerima beasiswa dari Bank Indonesia. Beasiswa inilah yang membiayai penuh kuliahnya hingga lulus.
Dia merasa beruntung karena digembleng oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Yohanes Paulus Koromak. Shinji diterima sebagai asisten Yohanes yang juga menjadi dosen pembimbing skripsinya. Dari situlah, Shinji lebih mudah mengakses berbagai informasi, termasuk pengumuman rekrutmen Renjani.
Di mata Shinji, Yohanes sangat berjasa. “Beliau menyediakan komputer dan printer,” ujarnya mengenang masa-masa bimbingan skripsi. Tahun 2024, Yohanes meninggal dunia. Shinji tak pernah melupakan jasanya.
Selain Renjani, Shinji menikmati kehidupan mahasiswanya dengan banyak berkegiatan. Dia menjadi ketua komunitas penerima beasiswa. Selain itu, dia aktif di himpunan mahasiswa jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan serta badan eksekutif mahasiswa. Aktivitas itu menjadi penyaluran minat Shinji yang belum terwujud selama SMA. “Saya tidak ikut OSIS,” sambungnya.
Shinji berbagi kiat dalam mengelola waktu. “Saya bagi menjadi dua. Pagi sampai siang untuk keperluan jasmani dan organisasi. Sore untuk rohani dan spiritual,” ungkapnya. Oleh karena itu, di luar kampus, dia juga mengurusi perkumpulan pemuda gereja.
Menamatkan kuliahnya yang selama lima tahun, Shinji melamar sebagai CPNS Kementerian Keuangan melalui jalur afirmasi Putra-Putri Papua. Tahun lalu, dua orang ditempatkan di DJP termasuk Shinji, dan satu orang diterima di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. “Semua berawal dari Renjani,” ungkapnya bersyukur.
Dia pun memboyong kedua orang tuanya menemani dirinya menjalani masa magang di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua. Dia mengaku merogoh kocek Rp3,6 juta per orang guna menerbangkan ayah-ibunya dari Papua ke Jakarta. “Saya sewakan kamar kos untuk mereka,” tuturnya sumringah. Hal ini demi menyenangkan Simon dan Dina untuk memetik hasil jerih payah mereka dalam membesarkan anak-anak.
“Jadilah lilin kecil,” ujar Shinji menirukan pesan ibunya. Artinya, meskipun harganya murah, lilin itu tetap berguna memberikan cahaya di ruang gelap.
Ternyata Shinji juga jago menggiring bola. Dia menyalurkan minatnya dengan mengikuti seleksi Tim Futsal Kementerian Keuangan. Dia pun berhasil menembus skuad yang dikirim mengikuti turnamen yang diselenggarakan Bank Indonesia, tengah Februari lalu.
Teruslah menginspirasi, Shinji!
| Pewarta: Yacob Yahya |
| Kontributor Foto: Syafa'at Sidiq Ramadhan, Hanny Hardy |
| Editor: Ani Natalia |
*)Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 48 kali dilihat