Menyisir Hutan, Mengais Rupiah
Semua tergantung cara menikmati tantangannya. Ngerinya perjalanan bisa begitu terasa bagi mereka yang terbiasa menikmati kerja dalam suasana perkotaan. Namun sebaliknya ngerinya perjalanan tersebut bisa menjadi menyenangkan bahkan berubah menjadi layaknya suasana traveling yang kadang malah mirip petualangan alam liar. Tentu hal ini hanya berlaku bagi mereka yang bermental baja (apa lagi berotot kawat bertulang besi he he . . .)
Tersebutlah empat pendekar berbental baja. Mereka adalah bapak Narto, bapak Mahfud, bapak Teguh Ismail, dan bang Sumurung Simanjorang yang hari itu sedang berdinas di wilayah Berau Propinsi Kalimantan Timur. Mereka berempat adalah para pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tanjung Redeb yang berkedudukan di Tarakan Kalimantan Utara. Dua personil yang pertama adalah Penilai Pajak dan dua yang terakhir adalah staf di seksi ekstensifikasi KPP Pratama Tanjung Redeb. Mereka berempat bahu-membahu bekerja sama dalam rangka mengais rupiah demi rupiah dari wajib pajak yang tersembunyi di pelosok hutan Kalimantan Timur itu.
Di samping melakukan penggalian potensi pajak, tim ini sekarang dalam perjalanan dinas untuk melakukan edukasi ke salah satu wajib pajak yang berada di pelosok wilayah Kabupaten Berau. Di suatu tempat yang sangat terpencil. Saking terpencilnya, kadang-kadang kami berseloroh; masih di Indonesiakah kita ini ?
Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten Berau yaitu Tanjung Redeb sekitar 280 km, ke arah udik. Diperkirakan memakan waktu tempuh selama delapan jam. Dan perjalanan di wilayah ini tak ubahnya perjalanan menembus hutan. Suasana jalanan tanah berlumpuh pekat dengan lobang menganga di sana sini pluas jalanan yang kadang menanjak naik dan menurun tajam. Sangat menantang ya ? Tertarik mau ikut? Ayo sini . . .
Tim mengawali perjalanan dari Kota Tanjunggredeb sebelum matahari beranjak dari peraduannya. Mereka senaja memilih waktu sepagi mungkin dengan harapan sebelum ashar sudah sampai di objek yang mereka tuju. Syukur-syukur kalau hari itu tim langsung bisa melakukan survei pendahuluan, jikapun tidak bisa tim sudah menyiapkan plan B untuk memulai beraksi esok paginya. Di lapangan mesti pandai-pandai menyiasati kondisi. Karena di lapangan sematang apapun rencana yang sudah kita buat, bisa saja mentah seketika karena perubahan suasana di lapangan. Bagi tim lapangan hal itu hal yang biasa.
Yang menjadi target edukasi dari tim saat ini adalah perusahaan kayu yang sudah malang melintang di rimba Kalimantan sejak puluhan tahun yang lalu. Data sementara di mana perusahaan ini sudah beroperasi sejak tahun tujuh puluhan. Sedangkan tingkat kepatuhannya dalam membayar pajak statusnya masih harus ditingkatkan.
Delapan jam sudah mereka mengarungi jalanan membelah kampung dan menembus rimba. Tak terhitung berapa kelokan yang telah mereka lalui, berapa tanjakan dan bukit yang telah mereka daki dan berapa turunan yang sudah mereka taklukkan. Puluhan lobang jalanan segede kubangan badak ujung kulon telah mereka lewati. Jembatan kayu membentang di ketinggian dasar sungai berbatu cadas, terasa ngeri-ngeri sedap, asyiklah pokoknya. Bismilah kami lewat . . .
Menjelang ashar sampailah tim tangguh ini di objek yang mereka tuju. Nampak di sana sini ratusan gelondong kayu teronggok di area logponds (pengumpulan kayu) di wilayah yang terletak di teluk Sulaiman dan teluk Subang kecamatan Biduk-Biduk kabupaten Berau.
Seharian tim melakukan edukasi dan penggalian potensi di objek pajak yang masuk sektor Pertambangan, Perhutanan, dan Perkebunan (P3) ini. Berbagai data mereka gali. Luas area produktif, area pengaman, emplasemen, volume maupun jenis produksi kayu dalam lima tahun terakhir dan lain-lain adalah sebagian dari fokus kerja anggota tim.
Bapak Mahfud sebagai penilai pajak yang mengampu objek pajak sektor Perhutanan KPP Pratama Tanjungredeb terkenal sangat ketat dalam persoalan data. Ibaratnya potensi pajak satu rupiah pun tidak boleh diabaikan. Maka sekecil apapun bangunan yang menjadi aset perusahaan tidak lepas dari bidikannya. Karena bangunan menjadi salah satu objek yang akan dihitung nilai pajaknya, maka bagi penilai senior yang sudah malang melintang di berbagai wilayah ini semuanya harus dipastikan terdata dengan rapi.
Begitulah kondisi kerja di lapangan. Seharian mereka memeriksa keadaan di lapangan sekaligus mengumpulkan data sebagai bahan untuk evaluasi atas besarnya Pajak Bumi dan Bangunan yang harus dibayar oleh wajib pajak. "Jangan menggali potensi PPn dan PPN yang mungkin terutang," begitu pesan bapak Agung Sukma Wijaya selaku Kepala Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan KPP Pratama Tanjung Redeb.
Tim melakukan tugas seperti ini berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain, dari satu wajib pajak ke wajaib pajak yang lain dalam wilayah kerja KPP Pratama Tanjung Redeb. Mereka menyeberang laut, melintas sungai menembus hutan dan mendaki bukit untuk berburu rupiah. Mereka mengais rupiah demi rupiah demi menjaga APBN tetap bisa mengucurkan anggaran bagi pembangunan di negeri ini. Semoga jerih payah mereka bisa memberikan setitik sumbangsih bagi kemajuan negeri ini, sebisa yang mereka lakukan, aamiin. (*)
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.
- 91 kali dilihat