Threads, Salah Satu Sarana Edukasi Wajib Pajak yang Interaktif
Oleh: (Wibisono Mahendra), pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Media sosial Threads kini sedang digandrungi oleh generasi muda. Saling balas cuitan dan berbagai parodi yang mengundang gelak tawa telah menghiasi hari-hari kita belakangan ini. Beberapa public figure pun ada yang kerap tampil nyeleneh, seperti muncul di setiap cuitan netizen sembari mempromosikan produk jualannya.
Selain itu, mulai banyak instansi pemerintah maupun swasta yang aktif menggunakan Threads sebagai kanal edukasi dan berbagi informasi maupun promosi yang efektif dan tanpa biaya. Apakah kini saatnya para penggiat media sosial pemerintah mulai mengaktifkan media sosial berbasis teks ini?
Tentunya ada dua sisi mata uang dari penggunaan media sosial di tengah era digital dengan pelbagai disrupsi informasi dan maraknya disinformasi (hoaks). Ada sisi positif penggunaan Threads untuk menciptakan brand image yang baik bagi instansi. Namun di sisi lain, ada pula potensi yang dapat merugikan citra dan reputasi apabila tidak dikelola dengan baik.
Sisi Positif Penggunaan Threads
Di tengah pergeseran paradigma media sosial tahun 2026, strategi komunikasi instansi pemerintah seperti Direktorat Jenderal Pajak (DJP) turut beradaptasi dengan menyediakan ruang diskusi publik yang lebih interaktif. Berdasarkan algoritma media sosial terbaru, lanskap digital telah beralih dari model follow-graph ke interest-graph, di mana jangkauan konten tidak lagi dijamin oleh jumlah pengikut, melainkan oleh resonansi dan nilai edukasi yang dihasilkan.
Secara konten, Threads menyediakan kenyamanan ruang diskusi dan lini masa yang terhindar dari konten eksplisit bagi para penggunanya. Algoritma Threads juga lebih mengutamakan kedalaman percakapan daripada sekadar viralitas sesaat, menjadikannya platform yang ideal untuk memberikan edukasi perpajakan yang mendalam tanpa terganggu kebisingan yang tidak perlu.
Di sisi lain, media sosial berbasis teks lainnya yang lebih dulu eksis, yakni X (dulu Twitter) kerap kali kurang ramah bagi instansi pemerintah. Sisi negatif X di antaranya maraknya buzzer, bot, dan akun bodong yang kerap memprovokasi dengan narasi yang menyerang pemerintah tanpa berdasarkan data dan fakta yang valid.
Mengacu pada laporan terbaru Similarweb, per 7 Januari 2026, Threads telah bertransformasi menjadi kekuatan besar dengan mencapai 141,5 juta pengguna aktif harian, melampaui angka 125 juta milik X di perangkat seluler. Bagi instansi pemerintah, Threads menawarkan keunggulan kompetitif dibanding media sosial X karena terintegrasi penuh dengan ekosistem Meta. Akun instansi tidak perlu memulai dari nol karena detail profil, bio, hingga tanda verifikasi otomatis terbawa dari Instagram.
Jadi, dengan peluang interaksi di ruang publik yang lebih berimbang dan kemudahan integrasi dengan aplikasi berbasis Meta, seperti Instagram adalah peluang besar bagi otoritas publik untuk menjangkau audiens, khususnya wajib pajak, dalam menyediakan informasi dan edukasi perpajakan dengan cara yang ringan dan relevan.
Implementasi Strategi Pendekatan Humanis
Salah satu metode unik yang dapat diambil adalah pendekatan yang spontan, unik, dan nyeleneh di Threads. Pendekatan ini digadang-gadang dapat berhasil membawa pesan yang disampaikan terasa lebih dekat bagi audiens yang sudah jenuh dengan konten kaku. Pelajaran pentingnya adalah kekuatan repetisi pesan yang dikemas dalam humor yang relevan.
Pendekatan yang jujur dan tidak terlalu dipoles ini terbukti lebih berpengaruh dalam membangun kesadaran merek (brand awareness) dibandingkan strategi pemasaran yang terlalu kompleks. Hal ini bisa diimplementasikan oleh instansi pemerintah untuk mengkomunikasikan sebuah pesan yang lebih humanis tetapi tetap dalam koridor yang aman.
Pada masa pelaporan surat pemberitahuan (SPT) tahunan, DJP telah mulai mengadopsi gaya komunikasi yang lebih interaktif dengan jump in di tengah percakapan netizen. Admin media sosial DJP yang akrab disapa Taxmin kerap kali jump in dengan memberikan analogi perpajakan yang relevan. Misalnya, saat netizen pamer kemewahan atau curhat soal kebutuhan hidup, Taxmin hadir dengan balasan halus tetapi edukatif.
Dua Sisi Mata Uang: Risiko Etika dan Empati
Namun, kegagalan sebuah jenama produk kain kafan yang mencoba pendekatan humanisme dengan dark comedy bertema kematian dapat dijadikan pelajaran. Eksekusi yang tidak peka justru dapat memicu sentimen negatif dan merusak kepercayaan publik dalam sekejap. Ditambah lagi, pajak merupakan bahasan yang pada awalnya sudah bersifat sensitif di mata publik.
Dalam hal ini, DJP selalu berusaha untuk berhati-hati dalam memberikan edukasi kepada wajib pajak melalui media sosial. Taxmin tetap berupaya untuk menjaga kepekaan dan tetap mengedepankan sisi edukasi ketimbang sekadar ikut-ikutan tren (riding the wave). Strategi mengejar viral tanpa kepekaan dapat merusak reputasi dan brand image institusi.
Dengan menjaga keseimbangan antara sisi humanis dan empati, Threads dapat menjadi kanal utama untuk meluruskan disinformasi, media edukasi yang interaktif, dan menyajikan ruang diskusi bersama masyarakat yang menarik dan relevan dengan perkembangan digital saat ini.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 19 views