Sumselbabel gelar door to door bareng kantor pajak se-Sumatera (Rabu, 11/7). Kegiatan door to door kali ini serentak dilakukan di seluruh Sumatera. Di Palembang dilakukan di beberapa tempat, salah satunya adalah di sepanjang jalan H. Burlian. Beragam tanggapan masyarakat muncul saat ditemui oleh petugas pajak. Beberapa komentar mereka adalah sebagai berikut.
Banyak orang berpikir bahwa pajak itu menakutkan dan sebisa mungkin dihindari. Kalau bisa tidak membayar pajak atau bayar pajak sekecil mungkin kalau pun harus membayar. Tambah menakutkan lagi apabila orang tidak memahami pajak baik maknanya maupun penghitungannya. Untuk mempelajarinya supaya lebih paham pajak pun orang malas melakukannya. Diperlukan tindakan yang komunikatif untuk mengubah mindset tersebut. Bukan sesuatu yang mudah mengubah sesuatu yang menyebalkan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Salah satu tindakan komunikatif tersebut adalah dengan melakukan kegiatan door to door, dengan mendatangi langsung para pelaku usaha.
“Kami cuma jualan pempek cak inilah…kadang ramai, sering sepinya… kadang malah rugi kami.”
“Barang dagangan kami macam-macam..beberapa harus kami jual rugi kayak mie instan, beberapa hanya bisa ambil untung tipis kayak rokok…”
“BPR ini sudah beroperasi selama 20 tahun. Nasabah kami adalah para pedagang di pasar KM 5, Palembang. Tapi beberapa tahun ini nasabah kami berkurang drastis. Tidak ada lagi yang nabung, kalau pun ada hanya yang ingin pinjam uang. Hal ini merupakan akibat langsung dari turunnya perekonomian, terlihat dari makin sepinya pasar KM 5. Akibatnya pihak manajemen memutuskan untuk segera menutup usaha dalam waktu dekat ini.”
Tapi tidak semuanya berpandangan negatif, ada juga tanggapan positif dari pemilik usaha toko bangunan kecil. Biar pun mengeluh usahanya selama dua tahun ini menurun, ia tetap optimis menata usaha ke depan. Pemilik toko yang sudah ber-NPWP ini memahami manfaat pajak yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur di Palembang. Pembangunan LRT di depan tokonya memang tidak langsung berimbas pada usahanya. Kontraktor dari luar kota tidak sedikit pun membeli material dari tokonya. Tapi ia sadar, ke depan LRT akan memberikan daya tarik bagi orang luar Palembang dan kemudahan bagi penduduk Palembang. Akan lebih banyak orang yang berkunjung ke Palembang, terutama pada event Asian Games bulan depan dan berimbas pada naiknya perekonomian di Palembang. Mulai dari usaha kuliner sampai dengan penginapan dan pembangunan perumahan yang besar kemungkinan akan berimbas positif pada usahanya. Ia juga merupakan wajib pajak yang patuh melaporkan usahanya. Bahkan sangat antusias untuk mempelajari beberapa hal tentang pajak.
Pemilik toko kamera yang juga ditemui pada saat door to door, mengaku baru memulai usahanya dan belum mempunyai NPWP. Setelah mendapat penjelasan tentang kemudahan yang diberikan kepada UMKM, ia berjanji akan segera mendaftar sebagai wajib pajak.
Sesuai dengan briefing dari Ibrahim, Plh. Kepala Kanwil DJP Sumsel dan Kep. Babel sebelum kegiatan ini dilaksanakan, petugas door to door di Palembang harus menyampaikan tentang peran penting pajak dalam pembangunan Negara ini. Pemahaman peran pajak dalam pembangunan ini sangat penting sebelum petugas menjelaskan tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan dalam bentuk pelaporan dan pembayaran kewajiban perpajakannya. Berbagai kemudahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak diberikan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, salah satunya dengan diterbitkannya PP 23 tahun 2018. Wajib pajak UMKM cukup membayar Pajak Penghasilan final dengan tarif 0,5% dari omzetnya. Petugas juga harus siap menjawab keluhan dan kesulitan yang ditemui oleh wajib pajak atau masyarakat mengenai pajak.
“Dengan kegiatan door to door ini diharapkan masyarakat yang belum paham pajak akan lebih paham, yang belum punya NPWP akan segera mendaftarkan diri dan yang belum lapor pajak segera melaporkan kewajibannya dengan baik dan benar,” pesan Ibrahim.
- 19 kali dilihat