Tuesday, 9 July 2013 - 15:24
Suasana Peliputan Viral Story Pajak di Badau

Oleh Wiyoso Hadi, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Publik telah mengenal berbagai moto pajak yang terus berevolusi dari satu moto ke moto yang lain. Dulu publik familiar dengan slogan-slogan seperti "hari gini ga punya NPWP? Apa kata dunia?", "Orang bijak bayar pajak" atau "orang bijak taat pajak", "Lunasi pajaknya, awasi penggunaannya" hingga moto pajak yang kini adalah "Pajak menyatukan hati, membangun negeri. Bangga bayar pajak." Relatif kesemua moto-moto tersebut cukup mengguggah. Namun pertanyaannya apakah sudah cukup efektif dalam  menggerakan masyarakat untuk menghitung, membayar dan melaporkan pembayaran pajaknya dengan taat dan benar?

Hemat penulis, moto-moto sebagus apapun tidak akan mengguggah apalagi menggerakan kesadaran orang jika orang tersebut masih memiliki persepsi negatif terhadap institusi yang mempropogandakan moto-moto tersebut. Meskipun sudah banyak pembenahan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) baik dari segi pelayanan, profesionalisme, integritas dan sinergi, namun tak dipungkiri bahwa stigma negatif terhadap DJP masih ada di sebagian benak masyarakat.

Stigma-stigma negatif jika benar maka itu dapat menjadi masukan yang bagus bagi organisasi untuk tidak pernah berpuas diri, tapi terus tumbuh dan menyempurnakan diri. Namun jika stigma-stigma negatif itu tidak benar maka adalah hak dan kewajiban organisasi untuk meluruskannya.

Nah, meluruskan stigma-stigma negatif tidak cukup dengan hanya menyodorkan data, memperbaiki komunikasi dialogis dan gathering. Tapi lebih substantif daripada itu, organisasi harus dapat memperbaiki kualitas hubungan emosional dengan seluruh stakeholder-nya.

Dalam hal DJP, stakeholder-nya adalah seluruh masyarakat Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia adalah stakeholder DJP karena untuk mereka semua lah DJP diamanahi untuk mengumpulkan pajak demi kemakmuran dan keadilan sosial bersama seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Bahwa manfaat pajak belum didistribusikan secara tepat sasaran itu bukan wewenang dan tugas DJP. Dalam hal ini jika masyarakat melihat bahwa penggunaan uang pajak belum tepat sasaran maka hal tersebut harus dilaporkan kepada instansi-instansi terkait yang mengalokasikan APBN/APBD dan kepada instansi-instansi penerima alokasi APBN/APBD tersebut untuk dimintai pertanggungjawaban penggunaan uang pajaknya dan bukan kepada DJP.

Kembali kepada masalah memperbaiki kualitas hubungan emosional dengan masyarakat dan khususnya Wajib Pajak (WP), maka hal itu tak bisa lepas dari memperbaiki kualitas hubungan emosional dengan media massa. Jika media massa dapat dirangkul hatinya maka publik akan lebih banyak menerima berita-berita tentang pajak yang proposional dan tidak tendensius dari media massa.

Merangkul media massa tidak lah dengan hal-hal yang material tapi disentuh sisi-sisi kemanusiaannya. Jika pun ada kalangan pers yang tidak mau memberitakan pajak secara proposional kecuali dengan imingan-imingan materi, maka itulah wartawan bodrex, tinggalkan saja. Merangkul media massa dari hati ke hati adalah dengan perilaku yang rendah hati, menghormati profesi wartawan, transparan, jujur dan tulus. Kalau perlu kita persilahkan para insan pers untuk mengikuti rutinitas kerja kita selama satu hari atau beberapa hari penuh sehingga hubungan persaudaraan hati ke hati meski beda profesi dapat terjalin lebih cepat, kuat dan langgeng.

Hal-hal tersebut lah yang penulis terapkan selama ini saat bekerjasama dengan para insan pers lintas media massa nasional saat bersama-sama mengerjakan tugas-tugas liputan khusus, pembuatan news block, viral story hingga talkshow-talkshow tentang perpajakan. Hasilnya adalah hubungan dengan teman-teman media massa pun bukan sekadar bisnis kemitraan tapi persahabatan.

Jika dengan media sudah bersahabat maka berita-berita tentang pajak pun akan bersahabat. Semoga dengan terus menerapkan keterampilan-keterampilan interpersonal sederhana seperti rendah hati, menghormati lawan bicara, transparan, jujur dan tulus, maka pajak tidak hanya dekat di mata tapi juga dekat di hati media massa dan hati masyarakat. Tertarik untuk mencoba? Selamat mencoba!

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.