Friday, 5 October 2012 - 08:20
Pegawai Pajak Mengikuti Diklat PPN di Pusdiklat Pajak Slipi, Jakarta

Oleh Dwi Purnomo, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Setiap orang yang masuk lewat gerbang depan, pasti akan membaca spanduk yang dibentangkan di atas lobby. “Selamat Datang Para Peserta Diklat, Ilmu Diperoleh Dengan Keterbukaan Hati dan Pikiran” mengisyaratkan adanya keterbukaan dan arti pentingnya kesiapan hati dan pikiran untuk menerima ilmu.

Begitu masuk pelataran Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pajak, pegawai peserta diklat disambut dengan senyum sapa petugas pengamanan (satpam), begitu juga saat memasuki lasar-lasar menuju ruang belajar terasa nuansa yang sama dari staff sampai cleaning service sekalipun. Fasilitas-fasilitas yang ada seakan menambah cerminan suasana perkantoran yang modern. Tata letak ruangan (lay out) dari aula, ruang belajar, dan ruang-ruang pendukung menunjukkan nilai-nilai egalitarian, terbuka, dan memberikan kenyamanan. Lingkungan belajar sudah tertata dengan nyaman, dari ruang belajar yang berAC, penerangan, tempat makan, ibadah, dan istirahat. Keceriaan semakin bertambah ketika bisa bernostalgia dengan teman-teman lama dari berbagai kantor pajak. Itulah sekilas suasana di Pusdiklat Pajak Kemanggisan Slipi saat ini.

Dalam ajaran ilmu manajemen, pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah bagian tak terpisahkan dari langkah sebuah oganisasi agar tetap eksis. Karena dengan diklat, sebuah organisasi terhindar dari keusangan (obsoleslence) sumber daya manusianya. Skema ini pun dimanfaatkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak dalam mengusung reformasi di bidang perpajakan dengan memanggil pegawainya untuk mengikuti diklat. Diklat diadakan secara berjenjang sesuai kebutuhan jabatan dan posisi serta terstruktur. Termasuk di dalamnya adalah materi kedisiplinan yang dinamai materi pengajaran Mental, Fisik, dan Disiplin (MFD) dengan trainer dari perwira Kopassus. Itulah satu-satunya materi diklat dengan trainer dari luar institusi. Target jelas sejalan dengan teori Andrew F. Sikula, 1981, bahwa diklat atau a short-term educational process diadakan untuk merubah dan meningkatkan pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), dan sikap (attitude).

Dalam perspektif reformasi perpajakan, diklat bagi pegawai Ditjen Pajak memberikan makna penting. Pertama, pemberian diklat bagi pegawai Ditjen Pajak adalah salah satu dari banyak jalan menuju keberhasilan reformasi perpajakan. Reformasi di tubuh Ditjen Pajak bukanlah sekedar wacana sesaat. Dalam perjalanannya telah menguras banyak energi pegawai. Tantangan terberatnya adalah mengubah citra pajak menjadi lebih baik, dan menepis sikap masyarakat yang masih apatis dan apriori terhadap pajak. Kondisi yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Wajar jika pimpinan Ditjen Pajak menjadikan awal pendirian Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, September 2002, sebagai awal reformasi birokrasi (baca: jilid dua) Ditjen Pajak. Dan pada tahun ini genap satu dekade. Tidak ada seremonial yang mewah, peringatan satu dekade reformasi ini dimaknai untuk mengingatkan dan membangkitkan kembali semangat reformasi di seluruh jajaran pegawai pajak. Semangat ini akan berdampak di mata masyarakat jika dibarengi dengan pribadi petugas pajak yang handal, yang bekerja dengan aturan yang benar.

Kedua,  Pusdiklat Pajak yang juga di bawah kendali Kementerian Keuangan berdiri pada satu posisi sebagai pusat pengembangan kapasitas pegawai. Reformasi yang diusung Ditjen Pajak membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengadaptasi teknologi baru, prosedur-prosedur baru, aturan-aturan baru, dan perubahan lainnya. Secara waktu dan biaya, target tersebut dapat segera dicapai dengan menggandeng Pusdiklat Pajak yang memang menjadi tugas pokoknya. Ketiga, tersedianya tenaga pengajar (widiaiswara) yang kompeten dan juga pelaku (praktisi) di bidang perpajakan. Selain dukungan fasilitas belajar layaknya kampus, kelebihan lain yang ditawarkan Pusdiklat Pajak adalah pemateri atau widyaiswara yang merupakan praktisi perpajakan dan pernah aktif di Ditjen Pajak. Pengalaman di lapangan ditambah kajian kritis secara akademisi, menjadi nilai tambah tersendiri. Saat ini Ditjen Pajak sedang melakukan proses harmonisasi aturan-aturan perpajakan. Tujuanya agar aturan perpajakan yang ada tidak bertentangan antara satu pasal atau satu udang-undang dengan pasal atau undang-undang lainnya. Sinkronisasi ini diharapkan dapat meminimalisir interpretasi yang berbeda antara wajib pajak dan petugas pajak. Diskusi ilmiah dan saling tukar pengalaman dan solusi antar pegawai yang beda lokasi kerja dan lamanya masa kerja bisa menjadi masukan yang berharga bagi DItjen Pajak. Tentunya diperlukan media agar ide pemikiran yang dihasilkan selama diklat sampai ke Ditjen Pajak.

Keempat, meningkatnya budaya belajar. Diklat baru-baru ini dirasakan berbeda dan telah berubah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau dahulu dipanggil diklat ogah-ogahan sekarang menjadi target pencarian added value bagi masing-masing pegawai. Dari pemaparan Kepala Pusdiklat Pajak, Imam Arifin, diklat yang diadakan didasarkan pada kebutuhan dan rencana strstegis Ditjen Pajak pada khususnya dan Kementerian Keuangan pada umumnya. Kurikulum dan gaya belajar selama diklat dibuatkan menyenangkan dengan menggunakan adult learning method. Diklat yang disodorkan seakan menjadi jawaban anggapan bahwa perubahan adalah pasti. Change is the only evidence of life (Evelyn Waugh). Jika tidak berubah maka akan ditinggalkan konsumen, atau minimal menjadi momok bagi pegawai untuk dikirim sebagai peserta diklat. Semangat belajar pegawai pajak merupakan asset strategis bagi Ditjen Pajak dalam menghadapi tantangan di masa mendatang yang semakin berat. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang dinamis, sedangkan pengumpulan pajak sangat dipengaruhi oleh iklim dan  jalannya roda perekonomian.

Namun, diklat hanyalah tool, tersedianya pegawai yang kompeten dan kredibel dapat dimaknai sebagai bukti bahwa Ditjen Pajak serius memperbaiki diri, mengejar perubahan demi memperbaiki citra pajak dan citra Ditjen Pajak.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.