Monday, 13 August 2012 - 16:38

Oleh Wahyu Agung Priyadi, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

“Bagi orang kota, menikmati kopi di pagi hari sambil membaca koran kini sudah tergantikan dengan menyalakan telephone seluler dan membuka facebook serta twitter.”(Rhenald Kasali, Cracking Zone, hal.18)  

Terakhir kali saya membaca koran di pagi hari adalah 5 hari yang lalu, sedangkan meninggalkan twitter baru kurang lebih 5 menit. Bukan berarti saya orang kota, tapi mungkin tulisan Rhenald Kasali di atas benar. Kecenderungan berubahnya gaya hidup terjadi. Dan tidak hanya di kota, tetapi di semua tempat.

Beberapa tahun belakangan fenomena  social media mewabah dan menjadi endemik di negeri ini. Masih ingatkah dengan Friendster? lalu sekarang Facebook? Twitter? atau yang lain?.

Saat ini jamannya social media, kata salah seorang kawan. Ketika saya tanya kenapa, jawabnya lugas. Bagaimana mungkin orang tidak tertarik dengan sebuah kanal (Social Media) yang bisa menyajikan informasi, berita, serta menjadi sarana komunikasi efektif, dengan simpel dan gratis? benar juga.

Rhenald Kasali dalam buku Cracking Zone mengistilahkan fenomena yang sedang terjadi ini sebagai Indonesia Baru. Sebuah era yang ditandai banyak hal, diantaranya meningkatnya gairah kewirausahaan, naiknya pendapataan per kapita, dan maraknya jejaring sosial.

Tampaknya klop pendapat kawan dengan Rhenald Kasali diatas.

Saya sendiri saat ini lebih sering membuka Twitter dibandingkan social media  yang lain. Bukannya tanpa alasan, bagi saya  twitter bisa menjelma jadi kendaraan tanpa premium yang mengantarkan ke berbagai informasi dan pengetahuan baru. Dan bagi beberapa orang malah menjadi sebuah media yang powerfull.

Pandji Pragiwaksono lewat  akun twitter @pandji , berhasil memasarkan 500 DVD Stand Up Comedynya dalam waktu 24 jam. Satu DVD dia banderol Rp100.000,-. Flashback ke belakang kita akan menemukan bagaimana jajanan keripik bisa begitu terkenal (@maicih). Tidak ketinggalan pula Saptuari Sugiharto, pengusaha asal Jogja, yang berhasil mengumpulakan uang sedekah hingga milyaran rupiah juga lewat twitter.

Fokus kita kali ini bukan ke berapa pajak yang harus disetor Pandji dan @maicih atas penjualan produk-produknya. Tetapi bagaimana twitter atau social media pada umumnya  ternyata bisa menggerakkan seseorang/atau sebuah komunitas, bukan hanya untuk melakukan sesuatu (membeli DVD dan keripik @maicih) bahkan membentuk konsep berpikir yang baru.

Ya betul konsep berpikir yang baru ! Perolehan suara calon independen Faisal Basri dan Biem Benyamin contohnya. Dari hasil Quick Count Pilkada DKI jumlahnya mencapai kurang lebih 5 % (melebihi pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono yang didukung banyak partai). Menurut saya pencapaian sebesar itu tidak lepas dari peran Twitter. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para pengguna twitter yang mendukung Faisal-Biem memberikan alasan atas dukungannya lewat twitter. Dan ternyata mempengaruhi pilihan para penghuni twitterland yang lain. Banyak  yang pada akhirnya memutuskan memilih Faisal-Biem. Ini berarti pesan yang disampaikan lewat social media ditangkap, diolah, dan menjadi pertimbangan penting untuk bertindak.

Lalu simak  pula komentar Marc Andersen, Direktur Facebook, tentang seorang politisi Amerika Serikat yang melakukan kampanye besar-besaran pada tahun 2008 lewat  Facebook.

“Dia adalah politisi pertama yang memahami bahwa teknologi dapat digunakan dengan cara baru..”

Politisi itu bernama Barrack Obama.

DJP dan Twitter

Saya tidak ingat kapan DJP pernah mendapat kesan baik di masyarakat. Dalam lingkungan pergaulan saya sendiri pun masih banyak yang mempertanyakan kredibilitas pegawai pajak. Argumen bahwa pajak telah berubah seakan mentah dengan kasus baru yang secara periodik muncul.

Mau tidak mau upaya dalam memulihkan citra harus dilakukan secara masif, terus menerus, dan sesuai tuntutan jaman. Social media merupakan salah satu pilihan yang harus diambil.

Sangat menyenangkan melihat DJP hadir di twitter lewat akun @DitjenPajakRI.

Kenapa menyenangkan? karena ini berarti kita menyadari besarnya potensi yang bisa dicapai lewat media ini. Menurut penelitian Semiocast (Lembaga Riset Social Media asal Prancis) pengguna twitter di Indonesia mencapai 19,5 juta orang (akun yang dibuat sebelum 1 januari 2012). Tertinggi nomor 5 di dunia. Pengguna facebook bahkan sudah mencapai angka 20 an juta.

Tidak berlebihan rasanya jika penggunaan social media dalam memperbaiki citra digarap dengan serius oleh institusi.  Dan sudah sampai pada taraf perlu untuk dibentuk sebuah tim khusus yang menjadi admin akun @DitjenPajakRI.

Strategi pencitraan disusun secara jelas dan terukur dengan bantuan pakar strategi internet seperti Nukman Luthfie (Virtual Consulting) misalnya. Demografi follower diukur sehingga ketahuan siapa saja yang memfollow, latar belakang pekerjaan, umur, dan pola interaksinya.

Lalu pada akhirnya diharapkan pesan-pesan perubahan isntitusi ini tersampaikan dengan jelas tanpa bias. Bisa jadi suatu waktu nanti  tanda pagar #pajaksudahberubah, #bayarpajakitudibank, atau #akusudahbayarpajak bisa menjadi trending topik di Indonesia, bahkan dunia.

Dunia berubah dengan cepat  dan saya pikir kata-kata Charles Darwis kali ini tepat untuk menjawab perubahan yang cepat itu :

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change.”

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.