Upaya menurunkan jumlah dan mencairkan piutang pajak

Jumlah piutang pajak dari tahun ke tahun semakin meningkat akibat adanya law enforcement (penegakan hukum, pemeriksaan pajak) yang tinggi. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi per tahun Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. Karena itu, Subdirektorat Penagihan, Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, Ditjen Pajak, berupaya mencairkan jumlah piutang wajib pajak.

"Tantangan ke depan pasti adanya jumlah piutang pajak yang semakin meningkat. Target penerimaan pajak yang tinggi (pasti) diikuti dengan pertumbuhan piutang yang tinggi, karena peningkatan tindakan law enforcement. Otomatis tantangan kita ke depan mencairkan jumlah piutang itu menjadi kalau bisa zero growth (pertumbuhan nol)," kata Kasubdit Penagihan, Dodik Samsu Hidayat.

Namun, ada kendala dalam mengurangi jumlah piutang wajib pajak tersebut. Kendala terutama tentang kesadaran hukum masyarakat akan bayar pajak. Hal inilah yang harus ditingkatkan lagi. Sehingga tindakan penagihan piutang pajak bisa berjalan dengan efektif.

"Jadi jumlah piutang yang semakin lama semakin tinggi, semakin meningkat akibat dari tingkat kepatuhan wajib pajak yang semakin rendah," jelasnya.

Untuk itu pihaknya akan melakukan upaya untuk menekan penambahan piutang dan memperbesar tingkat pencairan piutangnya. Salah satunya dengan membuat suatu kebijakan atau suatu aturan baru yang mendukung tindakan penagihan di lapangan.

"Yang pertama kita lihat efektiftas penagihan kita. Kalau dilihat dari tindakan penagihan mulai, pemblokiran rekening, pencekalan, penyanderaan, paling efektif itu di pemblokiran rekening. Karena sebagaimana kita ketahui di dunia modern ini semua transaksi melalui perbankan," ungkapnya.

Menurut Dodik, transaksi cash di zaman sekarang sudah cukup jarang. Hampir setiap orang sudah punya rekening bank untuk menyimpan asetnya. Jadi setiap wajib pajak yang tidak bisa melunasi piutang pajak sampai jatuh tempo yang telah ditentukan, pihak Subdit Penagihan bisa melakukan pemblokiran rekening perusahaan maupun penanggung pajak tersebut.

"Disini lebih efektif dan lebih langsung mendapat (pencairan piutang). Otomatis kita akan meningkatkan tindakan penagihan di bidang pemblokiran rekening ini," tandasnya.

Di sisi lain, untuk meningkatkan dan mengurangi beban pekerjaan penagih di lapangan atau juru sita, pihaknya mencoba membuat suatu program seperti outbond call center, yang akan aktif menginformasikan jumlah tunggakan pajak kepada wajib pajak. Program ini hampir sama dengan call center kartu kredit.

"Jadi kita bisa seperti itu. Jadi kita mau mengingatkan ke wajib pajak agar memenuhi utang pajak sebelum jatuh tempo. Maupun kita mengingatkan sudah jatuh tempo sehingga dia harus membayarkannya," ujarnya.

Program outbound call center ini seperti mengingatkan para wajib pajak kalau punya utang yang harus dibayar. Wajib pajak tentu akan risih dan gerah jika peringatan itu sering dilakukan.

"Mau nggak mau kalau kita ada uang, segera membayarnya kalau wajib pajak membayarnya sebelum kita melakukan penagihan ke luar, otomatis pekerjaan juru sita berkurang. Itu salah satu upaya kita memangkas beban pekerjaan juru sita," kata Dodik.

Disamping itu, teman-teman juru sita juga akan diajari bagaimana melakukan penagihan terhadap piutang yang mudah untuk dicairkan.

"Yaitu melalui juru sita harus membuat analisa resiko di semua piutang pajak di tempat mereka bertugas. Seperti ngerjain soal ulangan mana yang mudah duluan kita kerjain dari hasil analisis itu membuat angka dan prioritas mana yang harus dilakukan mana yang belakang tergantung mana yang paling mudah dan sulit untuk menagihnya," jelas Dodik.