Pengembangan roket LAPAN

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) terus mengembangkan teknologi yang dimilikinya. Baru-baru ini, LAPAN mengembangkan roket 550 milimeter. Tujuan utama pengembangan roket ini untuk membawa muatan alat pemantau atmosfer dan sebagai roket peluncur satelit yang nantinya bisa meluncurkan satelit yang diproduksi oleh para insinyur LAPAN sendiri.

"Untuk roket kita sudah sampai pada ada RX 550, artinya diameternya 550 mm itu adalah kondisi terakhir teknologi roket yang berhasil dikembangkan oleh LAPAN. Sebelumnya yang 450 mm sudah selesai," kata Agus Hidayat, Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat LAPAN.

Roket ini akan melalui tahap uji stastis dan uji terbang. Uji statis sendiri sudah dilakukan. Berikutnya akan dilakukan uji terbang. Agus mengaku kemampuan LAPAN sendiri sebenarnya baru sampai pada roket 550 ini.

"Belum untuk meluncurkan satelit," ujarnya.

Untuk pengembangan satelit, LAPAN juga sudah meluncurkan satelit pertama yakni satelit mikro yang diluncurkan sejak tahun 2007. Dan sampai saat ini, satelit mikro tersebut masih mengorbit dan mengirimkan datanya lebih baik. Satelit ini membawa sensor video kamera yang bisa memantau permukaan bumi secara periodik.

"Generasi berikutnya yaitu LAPAN A2 yang sebenarnya sudah siap diluncurkan sejak tahun lalu tapi karena kami masih menumpang piggyback di roket peluncurnya satelit India (yang bermasalah, sehingga tidak diluncurkan) itu jadinya tertunda," jelasnya.

Satelit India sendiri yang sebenarnya belum siap padahal secara engineering dan kontruksinya, satelit milik LAPAN sudah siap diterbangkan. Berikutnya ada LAPAN A3 yang misinya adalah untuk ketahanan pangan.

"Kita akan bergerak di satelit mikro sampai dengan LAPAN A5 setelah itu kita akan mengembangkan satelit operasional satelit yang lebih besar dari 100 kg. Untuk teknologi penerbangan, ini sebenarnya termasuk ini relatif baru," ungkapnya.

Dikatakan baru karena baru dikembangkan dua tahun terakhir yaitu pusat ini bertugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan serta desain pesawat udara yang nantinya akan diproduksi di dalam negeri terutama oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Kita sudah membuat desain N-219 pesawat yang berpenumpang 19 orang yang nanti digunakan jalur penerbangan printis saat ini desainnya sudah selesai dan siap diluncurkan oleh PTDI," imbuhnya.

Selain itu, LAPAN juga mengembangkan pesawat tanpa awak baik ukuran kecil dan sampai ukuran sedang, dimana saat ini sudah berhasil dengan LSU 02 yaitu bisa terbang terjauh sampai 200 kilometer tanpa awak.

"Dan kebetulan pencatatan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) awal bulan Juni terbang mencapai jarak tempuh terjauh 200 km. Pengembangan ini sebagai pemanfaatan teknologi alternatif satelit," tandasnya.