Pencairan piutang pajak yang membanggakan

Subdirektorat Penagihan pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak senantiasa berupaya memperbesar pencairan piutang pajak. Unit ini juga terus berupaya menekan penambahan piutang pajak. Sejak tahun 2011 dan 2012, Subdit Penagihan sudah memberikan sumbangan 1-2 persen penerimaan negara dari sektor perpajakan.

"Kalau dilihat dari angka-angkanya ya prestasi dari sisi penagihan ini cukup lumayanlah menyumbang 1-2 persen dari penerimaan negara di sektor perpajakan," kata Kasubdit Penagihan, Dodik Samsu Hidayat.

Pada tahun 2011, Subdit Penagihan sudah bisa mencairkan piutang pajak sekitar 67 persen. Kemudian pada tahun 2012 menjadi 81 persen pencairan piutang pajak.

"Jadi ada peningkatanlah, (sekitar) 14 persen dari tahun semula. Kalau dilihat angkanya memang hampir sama tapi kalau dibandingkan dengan juru sita yang melaksanakan tiap tahun kita menghasilkan Rp 12 triliun," ujarnya.

Pada tahun 2010, Subdit Penagihan pernah mencairkan piutang pajak sebesar Rp 22 triliun. Jumlah itu cukup banyak dan menjadi prestasi membanggakan bagi subdit yang ia pimpin.

Sementara dari jumlah juru sita sekitar 670-680. Jumlah itu sudah ada sejak 2008 sampai sekarang. Kalau dirata-rata, tiap juru sita dengan jumlahnya tersebut bisa mencairkan tiap tahun sekitar maksimal Rp 20 miliar per orang.

"Itu dari berbagai surat paksa pemblokiran rekening, pelelangan aset, pencekalan dan penyanderaan," tandasnya.

Sumbangan pencairan piutang pajak dari juru sita ini lumayan bisa meningkatkan penerimaan pajak dan mengamankan target penerimaan pajak. Jadi sebenarnya pekerjaan para juru sita pajak ini cukup bisa diapresiasi karena meski remunerasinya sama dengan pelaksana biasa, namun sudah bisa menghasilkan angka yang cukup signifikan dibandingkan aparat pemerintah yang lain.

"Karena di sini juru sita melaksanakan effort ke luar, dalam hal ini bertemu wajib pajak. (Sebagai pembanding) mungkin kalau pekerjaan lain seperti Account Representative (AR), atau pemeriksa pajak, nggak perlu ketemu wajib pajak bisa menyelesaikan pekerjaannya tapi kalau juru sita ini kalau nggak ketemu wajib pajak nggak bisa menyelesaikan pekerjaannya," jelasnya.

Jika tidak ada pertemuan antara wajib pajak dengan juru sita, maka transaksi pembayaran juga tidak ada.

"Inilah perbedaannya dengan staf yang lain," ungkapnya.