Sepandai-Pandainya Penunggak Pajak Sembunyi, Akhirnya Tertangkap Juga

Konferensi Pers Bersama setelah penyerahan sandera pajak (Ditjen Pajak, Kemenkumham, Kepolisian, Ka. Rutan Salatiga)

Tidak salah kata pepatah yang menyatakan sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Peribahasa ini sangat tepat menggambarkan kondisi yang dialami oleh Mr. KJY (Warga Negara Korea Selatan), Penanggung Pajak PT SJG yang merupakan Wajib Pajak PMA dan terdaftar KPP PMA Empat.

Dalam perjalanan waktu sejak terdaftar sampai dengan pelaksanaan gijzeling, Wajib Pajak memiliki tunggakan pajak lebih dari Rp 2,3 Milyar. KPP PMA Empat telah menggunakan berbagai upaya untuk mengingatkan Wajib Pajak melunasi tunggakan pajaknya mulai dari himbauan secara persuasif, surat teguran, surat paksa, pemblokiran, dan pencegahan Penanggung Pajak bepergian ke luar negeri, namun semua hal tersebut tidak digubris oleh Wajib Pajak.

Dalam perjalanan waktu, Wajib Pajak malah melarikan diri dari tanggung jawab dengan cara membubarkan usahanya dan berganti perusahaan dengan nama PT GGI yang terdaftar di Salatiga yang selanjutnya kembali membubarkan usahanya dan mendirikan perusahaan baru dengan nama PT WSA. Seperti pepatah menyatakan bahwa where there is a will, there is a way.

Usaha serius yang dilakukan oleh Juru Sita KPP PMA Empat untuk menelusuri Penanggung Pajak membuahkan hasil bahwa Penanggung Pajak PT SJG adalah sama dengan Penanggung Pajak PT WSA. Berbekal data dimaksud, maka dilakukan pendalaman dan akhirnya setelah seluruh informasi PP terkumpul maka KPP berpendapat perlu memberikan tindakan tegas kepada Wajib Pajak.

Tindakan tegas ini juga diharapkan menjadi sinyal kepada seluruh WP bahwa KPP PMA Empat sangat mengedepankan upaya persuasif tetapi jika Wajib Pajak tidak bisa dihimbau secara persuasif dan bahkan berusaha menghilangkan jejak dengan meninggalkan hutang pajak tanpa tanggung jawab maka penegakan hukum secara optimal juga tidak ragu dilakukan.

“Hal ini menyangkut wibawa institusi kita, jangan sampai ada pihak yang beranggapan bisa seenaknya melakukan penghindaran/penggelapan pajak di Indonesia” demikian kata Kepala KPP PMA Empat. Disamping itu, poin penting dari tindakan ini adalah menjunjung rasa keadilan “yang patuh kita layani dengan baik, yang tidak paham kita bina (edukasi), sedangkan yang bandel sudah seharusnya kita tindak dengan tegas” demikian Kasi Penagihan PMA Empat menambahkan.

Berdasarkan surat ijin Menteri Keuangan untuk melakukan penyanderaan (gijzeling) dan hasil koordinasi dengan Kantor Pusat serta Kanwil DJP Jakarta Khusus, maka tanggal 26 Agustus 2015, sekitar pukul 13.00 waktu setempat, Mr KJY selaku Direktur PT SJG, dicokok di tempat usahanya. Penangkapan ini dilakukan berkat kerjasama dan sinergi yang baik antara KPP PMA Empat, Kanwil DJP Jakarta Khusus, Kantor Pusat DJP, Tim Satgas Pengamanan Penerimaan, dan pihak Kepolisian RI.

Menurut Kepala KPP PMA Empat, pada prinsipnya Ditjen Pajak tidak ingin melakukan upaya sandera. Namun hal ini merupakan upaya akhir yang terpaksa dilakukan karena berbagai upaya mulai dari cara persuasif, teguran, surat paksa dan seterusnya tidak ditanggapi secara positif oleh Wajib Pajak. Kepala KPP PMA Empat menyatakan melalui tindakan gijzeling ini diharapkan kepada Wajib Pajak segera melunasi tunggakan pajaknya dan kepada Wajib Pajak yang lain bisa mengambil pembelajaran dari peristiwa ini.

Kepala KPP PMA Empat menghimbau seluruh Wajib Pajak khususnya yang masih memiliki tunggakan pajak untuk memanfaatkan Tahun Pembinaan Wajib Pajak (TPWP) 2015 ini untuk segera melunasi tunggakan pajaknya sehingga dapat mengajukan penghapusan sanksi bunga penagihan. “Berikanlah hak negara, jangan sampai petugas negara menjemput dan mengantar Anda ke balik jeruji” pinta Rizaldi.