Gus Sholah: Tingkat Kesadaran WP Masih Rendah!

“Pajak saat ini memegang peranan sangat penting dalam APBN, namun tingkat kesadaran Wajib Pajak (WP) terutama Orang Pribadi (OP) masih rendah dan perlu ditingkatkan,” ujar Dr. (H.C.) Ir. KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di kediaman beliau di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan saat menerima kunjungan silaturahmi pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Kamis 4 Februari 2016.

Menurut ulama, politisi, tokoh Hak Asasi Manusia, mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dan calon Wakil Presiden RI ini, rendahnya tingkat kesadaran WP dapat dilihat dari rendahnya jumlah WP OP terdaftar (mereka yang memiliki NPWP) yang baru mencapai sekitar 17 juta orang. “Jumlah yang menyampaikan SPT tentu lebih rendah dari angka itu, apalagi jumlah orang yang membayar pajak tentu lebih rendah lagi,” imbuh Gus Sholah. 

Sebagai perbandingan lainnya, Gus Sholah mengutarakan bahwa potensi wajib pajak dapat dilihat dari jumlah orang yang berangkat umrah tiap tahun yang mencapai lebih dari 1 juta orang. Dengan biaya rata-rata Rp.25 juta, maka uang yang dibelanjakan adalah sekitar Rp.25 triliun setiap tahun. “Kalau dibandingkan dengan penerimaan Zakat yang hanya mencapai Rp.5 triliun, kenyataan tadi sungguh sangat tidak seimbang. Apalagi jika dibandingkan dengan penerimaan pajak Orang Pribadi yang baru mencapai sekitar Rp.6 triliun pada tahun 2015, sungguh tingkat kesadaran warga Negara Indonesia tentang pajak masih rendah,” ujar Gus Sholah.

Gus Sholah menerangkan bahwa sedekah itu lebih tinggi derajatnya daripada umrah, sehingga kewajiban bersedekah menolong tetangga dan orang yang lebih membutuhkan seharusnya lebih didahulukan. “Tidak membayar pajak termasuk melanggar hukum agama, karena pajak adalah upaya pendistribusian harta agar tidak hanya berputar di golongan orang yang kaya saja,” ucap Gus Sholah.

Di sisi lain, perihal NU pernah menyatakan memboikot pajak akibat adanya oknum pejabat yang melakukan penyelewengan (korupsi) uang negara, hal itu adalah salah. "Tugas Ditjen Pajak adalah memungut pajak, sedangkan yang menggunakan uang pajak itu adalah pihak lain. Ini jelas suatu hal yang berbeda", ungkap Gus Sholah.

Dalam hal pengelolaan keuangan negara saat ini, menurut Gus Sholah, masih terjadi kesalahan sehingga pendapatan per kapita masih rendah. Negeri Belanda misalnya, dengan wilayah yang kecil dan jumlah penduduk hanya 16 juta orang namun mampu memiliki PDB sebesar USD 850 Miliar per tahun, sementara Indonesia yang kaya raya ini hanya memiliki PDB sebesar USD 880 miliar, hanya berselisih USD 30 miliar lebih banyak. Dengan PDB USD 850 miliar ini, pemerintah Belanda memperoleh pendapatan 3 kali lebih besar dari pemerintah Indonesia. Ini menjadi suatu ironi. Bagaimana negeri Belanda yang kecil itu mampu memperoleh pendapatan yang besar? Menurut Gus Sholah, jelas ada kesalahan dalam pengelolaan keuangan negara sekaligus membuktikan bahwa kita tidak produktif dan tidak mampu mensyukuri nikmat Allah SWT. 

Pada kesempatan silaturahmi tersebut, Kepala Seksi Hubungan Eksternal Subdit Humas Perpajakan, Endang Unandar menyampaikan salam dari Pimpinan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Gus Sholah yang selama ini telah banyak memberi masukan kepada Ditjen Pajak, antara lain melalui tulisan-tulisan beliau di media massa. Pimpinan DJP mengharapkan kontribusi ini akan tetap berlanjut di masa datang. Gus Sholah menerima salam dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan pegawai Ditjen Pajak serta menyatakan kesediaan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan Ditjen Pajak khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya di masa datang. 

Dalam kesempatan itu diberikan pula buku Pajak Menurut Syariah oleh Kepala Seksi Pengelola Situs Subdit Humas Perpajakan, Gusfahmi (penulis buku), kepada Gus Sholah. Gusfahmi menjelaskan bahwa buku tersebut adalah suatu upaya untuk mendekatkan pajak dengan agama sehingga diharapkan WP akan memahami bahwa Pajak itu sesungguhnya ada dalam Islam. Diharapkan dengan adanya pemahaman adanya pajak dalam Islam maka WP akan mau dan berlomba-lomba membayar pajak dengan niat sebagai suatu ibadah kepada Allah SWT. (Gf).