Rabu, 18 Juli 2012 - 18:50

Bagi pegawai pajak di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah I yang berkantor di sekitar pasar Johar, pasti sudah terbiasa dengan tradisi dugderan yang dilaksanakan tiap tahun untuk menyambut datangnya bulan puasa.  Kegiatan yang biasa digelar selama seminggu sebelum memasuki bulan puasa ini, cukup memberikan kesan yang berbeda. Terutama untuk pegawai yang berasal dari luar kota Semarang. Kebetulan 6 (enam) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dari 8 (delapan) KPP di kota Semarang ditambah dengan Kanwil berlokasi disekitar pasar Johar.

Kegiatan Dugderan selain memberikan nuansa berbeda juga menjadi alternatif hiburan saat istirahat. Lucu juga melihat bapak-bapak pegawai pajak mencoba permainan bom bom car. Kebetulan beberapa wahana permainan berlokasi didepan Gedung Keuangan Negara (GKN) I. Aneka gerabah cantik murah meriah juga menarik bagi ibu-ibu untuk membelinya guna mempercantik rumah. Mainan anak-anak tradisional yang hanya dijumpai saat dugderan, seperti kapal othok-othok, gasing, peralatan dapur dan celengan dalam berbagai bentuk hewan dan ukuran dari tanah liat menarik untuk anak-anak dirumah.

Tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tradisi yang mirip pasar malam ini selalu dipenuhi pedagang asal luar kota Semarang. Diantaranya dari Demak, Kendal, Kudus, Pekalongan, Jepara, hingga luar Propinsi Jawa Tengah, seperti Yogyakarta. Para pedagang mengaku sudah berkali-kali mengikuti tradisi dugderan di Kota Semarang.

Adapun nama Dugderan berasal dari "Dug" yakni suara pukulan bedug, dan "Der" yang merupakan suara ledakan meriam atau petasan. Nama tersebut sebagai penanda puasa yakni diawali bedug dan diakhiri petasan.Tradisi dugderan sebagai pertanda awal dimulainya pelaksanaan ibadah puasa telah dimulai sejak tahun 1881 pada masa pemerintahan Bupati Semarang, Purbaningrat.

Tradisi dugderan sudah berusia ratusan tahun dan masih dilestarikan hingga sekarang. Tradisi tersebut digelar untuk mengingatkan warga, bahwa bulan puasa sudah dekat. Dugderan akan berakhir satu hari sebelum puasa, dan acara puncak tradisi dugderan diisi dengan arak-arakan kirab budaya.

Dalam arak-arakan ini pula terdapat maskot hewan khas dugderan yang disebut warak ngendok. Mendekati Masjid Besar Kauman, masjid tertua di Semarang, iring-iringan prajurit mengawal Walikota Semarang yang memerankan tokoh Bupati Semarang tempo dulu.

Untuk tahun ini kirab akan dilaksanakan tanggal 19 Juli 2012, dimulai pukul 12.15 WIB dari halaman Balai Kota Semarang menuju Masjid Kauman. Selanjutnya, di Masjid Kauman, akan dilaksanakan prosesi pembacaan shukuf halaqah, pemukulan beduk, dan bom udara, serta pembagian makanan khas Semarang Ganjel Rel dan air khataman Quran. Usai prosesi di Masjid Kauman, rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), dimana akan diadakanp Pemukulan beduk dan meriam  sebagai tanda penyambutan masuk bulan puasa. Pagi harinya akan diselenggarakan karnaval dan atraksi budaya pelajar tingkat TK, SD/MI, dan SMP/MTs di lapangan Pancasila Simpang Lima.

Walaupun kegiatan dugderan ini selain memberikan nuansa tersendiri bagi KPP, tapi cukup merepotkan bagi wajib pajak yang akan melaksanakan kewajibannya. Karena tempat parkir yang biasa mereka gunakan dipakai untuk lokasi wahana permainan dan lapak-lapak pedagang. Kemacetan tidak terelakkan karena separuh jalan tidak berfungsi untuk lokasi dugderan. Tapi sepertinya wajib pajak sudah maklum karena tradisi ini merupakan pesta rakyat dan dilaksanakan hanya setahun sekali.