Ditjen Pajak Luncurkan e-Faktur Pajak

Pegawai DJP sedang melayani pertanyaan Wajib Pajak di acara Launching e-Faktur Pajak

“Your dream come true,” ungkap Direktur Jenderal Pajak membuka sambutan saat launching e-Faktur Pajak di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak), Rabu 25 Juni 2014. E-Faktur Pajak memang menjadi impian bagi Ditjen Pajak maupun wajib pajak.

Bagi wajib pajak, e-Faktur Pajak ini memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan karena akan semakin yakin bahwa faktur pajak telah sesuai dengan transaksi sebenarnya sehingga dapat dikreditkan. Mereka juga terhindar dari faktur pajak fiktif lawan transaksi  yang dapat merugikan perusahaannya.

Keuntungan lain e-Faktur Pajak adalah tanda tangan basah digantikan dengan tanda tangan elektronik, sehingga e-Faktur Pajak tidak diwajibkan untuk dicetak dalam lembaran kertas.

Sementara itu, bagi Ditjen Pajak, e-Faktur Pajak merupakan kelanjutan pembenahan sistem sejak tahun 2011 untuk memudahkan administrasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). E-Faktur Pajak ini semakin memperbaiki administrasi PPN.

Sebelumnya, Ditjen Pajak telah melakukan pembenahan dengan melakukan registrasi ulang PKP, batasan pengukuhan PKP, pengembangan aplikasi pengawasan PKP, penunjukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pemungut PPN hingga penomoran faktur pajak secara elektronik (e-Nomor Faktur/ e-NoFa). Tahun 2014 pembenahan dilanjutkan dengan peluncuran e-Faktur Pajak bagi wajib pajak tertentu.

Mulai 1 Juli 2014, e-Faktur Pajak diberlakukan kepada Pengusahan Kena Pajak (PKP) tertentu di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya di Jakarta. 

Kemudian mulai 1 Juli 2015 e-Faktur Pajak akan diberlakukan untuk seluruh PKP di Kantor Pelayanan Pajak Pulau Jawa dan Bali.

Sedangkan pemberlakukan e-Faktur Pajak secara nasional akan secara serentak dimulai pada 1 Juli 2016.

Saat launching ini, 45 (empat puluh lima) perusahaan yang terdaftar sebagai PKP  telah siap untuk menerapkan penggunaan faktur pajak secara elektronik. Beberapa perusahaan yang menerapkan e-Faktur Pajak tahun ini antara lain PT Telkom, PT Sucofindo, PT Bluescope, PT Aneka Tambang dan banyak perusahaan lainya.

Perusahaan tersebut sebelumnya ikut dalam pengembangan dan penyempurnaan aplikasi e-Faktur Pajak. Mereka telah bekerja sama dengan Ditjen Pajak dalam piloting project dan Training of Trainer (ToT) e-Faktur Pajak selama kurang lebih tiga bulan.

Kegiatan yang tak kalah penting lainnya adalah kegiatan Advisory Visit yaitu kunjungan Tim Mentoring Faktur Pajak Elektronik ke kantor pengusaha kena pajak untuk memberikan bimbingan teknis secara langsung selain bimbingan via telepon, email, sms, dan media komunikasi lainnya.

Berdasarkan hasil piloting tersebut, Tim e-Faktur mendapatkan banyak masukan dan selanjutnya atas masukan tersebut Tim melakukan penyempurnaan aplikasi/sistem yang telah dibangun sebelumnya.

Fuad Rahmany menyampaikan bawah administrasi PPN yang berbasis teknologi sesuai dengan visi dari Ditjen Pajak. E-Faktur Pajak ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan dalam administrasi PPN sehingga penerimaan pajak dari sektor PPN dapat semakin optimal.

Sejak tahun 2011, Ditjen Pajak menghadapi masalah besar dalam mengadministrasi faktur pajak yang jumlahnya mencapai 200 juta setiap tahun. Perkembangan ekonomi Indonesia tentunya menambah jumlah transaksi sehingga Ditjen Pajak akan semakin kewalahan bila administrasi faktur pajak dilakukan secara manual.

Selain itu, sistem berbasis elektronik ini akan meminimalkan penyalahgunaan penggunaan faktur pajak oleh perusahaan fiktif atau pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga potensi pajak yang hilang menjadi sangat kecil.

“Ini adalah tonggak sejarah bagi Direktorat Jenderal Pajak,” kata Fuad. Ia menyebutkan bahwa ini bukanlah akhir dari perjalanan administrasi PPN tetapi sebagai awal untuk melanjutkan perjuangan agar semakin baik dari tahun ke tahun.

Ia juga menyampaikan ungkapan terima kasih kepada para wajib pajak yang bersedia bekerja sama dengan Ditjen Pajak. Fuad berharap wajib pajak yang telah menerapkan e-Faktur Pajak dapat memberikan masukan saat nanti ditemukan hambatan atau kelemahan dalam pelaksanaannya.

Sinergi antara Ditjen Pajak dan Wajib Pajak diharapkan mampu membangun sistem perpajakan yang lebih baik di masa depan.