Menjalin kerjasama dengan LAPAN

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak tak mau ketinggalan memanfaatkan teknologi informasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Apalagi untuk pelayanan terhadap wajib pajak. Ditjen Pajak sudah melakukan kerjasama dalam nota kesepahaman (MoU) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

LAPAN sendiri adalah lembaga non kementerian yang dipimpin oleh seorang kepala di bawah koordinasi langsung presiden. Namun demikian, dalam operasionalnya, dilakukan koordinasi di bawah Kementerian Riset dan Teknologi. Tugas utama LAPAN adalah melakukan penelitian dan pengembangan serta pemanfaatan teknologi kedirgantaraan.

"Tugas utama LAPAN melaksanakan penelitian dan pengembangan (litbang) terkait pemanfaatan teknologi kedirgantaran, meliputi teknologi roket, satelit, dan penerbangan. Selain itu juga dilakukan penelitian terhadap teknologi ruang antariksa, atmosfer, penginderaan jarak jauh (remote sensing) serta pengembangan kebijakan kedirgantaraan," kata Agus Hidayat, Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat LAPAN.

Untuk teknologi penginderaan jarak jauh, LAPAN mulai mengoperasikan stasiun bumi yang ada di berbagai tempat yang terbesar seperti di Pare-pare, Rumpin, Pekayon dan Biak itu didesain untuk bisa menerima satelit operasional. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan data spasial nasional.

"Di samping itu kita melakukan penelitian pengembangan pemanfaatan agar data-data yang diterima itu bisa digunakan untuk berbagai kepentingan di antaranya membantu Ditjen Pajak," ungkapnya.

"Untuk memanfaatkan data itu, dilakukan oleh pesawat tanpa awak yang dilengkapi kamera. Alat ini didesain untuk penguasaan teknologi sendiri, sekaligus dapat memotret dengan hasil yang sama dengan satelit penginderaan jarak jauh. Padahal ini hanya menggunakan kamera biasa", ujarnya.

"Jadi ketika dengan satelit penginderaan jarak jauh ada kendala, ada awan. Maka kita bisa menggunakan pesawat tanpa awak untuk melakukan pemantauan permukaan bumi karena bisa terbang rendah di bawah awan," jelasnya.

Pesawat tanpa awak ini digunakan dalam melihat bencana banjir yang biasanya dengan citra satelit. Namun kalau saat banjir, awan saat itu sedang tebal, maka alat inilah yang bisa digunakan karena dia bisa terbang di bawah ketinggian awan.

"Bisa kita capture permukaan bumi dan kita bisa analisis daerah terdampak bencana dimana saja itu," ungkapnya.