Mempersiapkan penyuluh pajak yang profesional

Penyuluhan merupakan salah satu petugas dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak yang berhadapan langsung dengan wajib pajak. Para penyuluhlah yang mewakili Ditjen Pajak dalam menyampaikan informasi yang benar kepada para wajib pajak.

Penyampaian informasi tersebut juga diharapkan bisa berjalan secara efektif yakni diterima oleh masyarakat. Karena itu, penyuluh dibekali berbagai ilmu, mulai dari ilmu berkomunikasi, ilmu perpajakan, dan ilmu menghadapi berbagai karakter wajib pajak.

"Kami membekali ilmu komunikasi. Jadi bagaimana berkomunikasi dengan baik kepada satu dua orang tetapi kepada banyak orang yang sifatnya masif," kata Sanityas Jukti Prawatyani, Kepala Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat, Ditjen Pajak.

Secara struktural, memang di Ditjen Pajak tidak ada jabatan penyuluh pajak. Namun, Ditjen Pajak sendiri memiliki 207 Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP). Di KP2KP inilah, para penyuluh bertugas. KP2KP sendiri berada di kota-kota atau kecamatan dan kabupaten yang disebut dengan remote area.

"Jadi bukan di kota besar. Mungkin ada di kota besar tapi ada juga di kota-kota yang cukup terpencil," ujarnya.

Selain KP2KP, Ditjen Pajak juga menempatkan penyuluh di Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Jumlah penyuluh di Ditjen Pajak sendiri sekitar 30 ribu orang. Sedangkan jumlah wajib pajak di seluruh Indonesian mencapai 250 juta orang.

"Jumlah wajib pajak di Indonesia sangat banyak, kami juga membutuhkan penyuluh yang cukup banyak juga. Memang ini jadi kendala ketika petugas pajak hanya sekitar 30 ribu dibandingkan jumlah populasi di Indonesia sudah mencapai angka 250 juta," jelasnya.

Karena keterbatasan sumber daya manusia inilah, Ditjen Pajak terus berupaya untuk memperbaiki kualitas para pegawai khususnya penyuluh. Berbagai kegiatan dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme para penyuluh dilakukan.

"Secara rutin kami melaksanakan diklat atau training khusus bagi penyuluh pajak dan kami bekerjasama dengan pusdiklat pajak untuk melakukan diklat khusus bagi penyuluh pajak," ungkapnya.

Bahkan tahun ini, lanjutnya, Ditjen Pajak melakukan kepada 500-an penyuluh pajak. Dalam training ini, para penyuluh dibekali dengan ilmu manajemen penyuluhan. Dalam manajemen penyuluhan tersebut, penyuluh diberikan semacam pelajaran bagaimana mereka harus menyiapkan penyuluhan.

"Antara lain sebelum melakukan penyuluhan mereka harus merencanakan terlebih dahulu materinya seperti apa, pesertanya siapa saja karena karakter peserta mempengaruhi metode atau cara memberikan penyuluhan," ungkapnya.

Di samping itu, manajemen penyuluhan juga mengajarkan bagaimana cara berkomunikasi dengan baik. Dan yang tidak kalah penting adalah meningkatkan pengetahuan perpajakan dari pegawai pajak khususnya penyuluh.

"Oleh karena itu para penyuluh pajak ini tidak terbatas pada pegawai KP2KP tapi kami mengerahkan Account Representative (AR) dan lainnya untuk terjun bersama melakukan penyuluhan kepada wajib pajak," tandasnya.

Selain manajemen penyuluhan, juga ada diklat dan training seperti workshop, lokakarya atau rapat koordinasi khusus. Acara ini mengundang para pakar komunikasi dan marketing, karena menyuluh pajak sebenarnya tidak berbeda dengan melakukan sebuah marketing mengenai pajak.

"Itu secara rutin kami mengundang pakar di bidang lain untuk bisa membekali para penyuluh pajak sehingga mereka bisa membawakan dengan baik tepat sasaran dan pengetahuan mereka di bidang pajak," imbuhnya.