Latif Adam: Pelayanan Pajak Sudah Sangat Baik

“Menurut saya, terdapat peningkatan pada sektor pelayanan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak kepada masyarakat. Secara substansi, Ditjen Pajak sudah berada di jalur yang benar untuk mencapai visi yang telah dicanangkan, yaitu menjadi institusi penghimpun pajak negara terbaik di wilayah Asia Tenggara pada tahun,” ujar pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam.

Menurutnya, salah satu peningkatan tersebut dapat terlihat dari semakin mudahnya masyarakat untuk mendapatkan dan menyerahkan Formulir Pajak. Dulu sangat repot, sekarang menjadi lebih bersahabat dengan bisa diunduhnya formulir di website Ditjen Pajak dan dapat diserahkan di drop box pajak yang diletakkan di gedung-gedung yang strategis, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Website Ditjen Pajak, www.pajak.go.id pun dinilai telah memiliki content serta informasi yang cukup lengkap bagi masyarakat luas untuk mendapatkan hal yang dibutuhkan. Walaupun diakui oleh Latif, masyarakat belum menggunakannya secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah masih banyaknya masyarakat yang buta atau belum tune in akan internet.

Hal lain yang dianggap Latif merupakan sebuah langkah yang benar dan akan bermanfaat adalah adanya Account Representative (AR) untuk memberikan bimbingan dan konsultasi bagi setiap wajib pajak. Jumlah AR dalam tubuh Ditjen Pajak sendiri sudah cukup banyak, sekitar 11 ribu atau 35% dari total pegawai Ditjen Pajak yang berjumlah 31.486 orang.

Tapi Latif menyayangkan minimnya sosialisasi yang dilakukan Ditjen Pajak terkait AR membuat wajib pajak jarang yang mengetahui adanya AR yang bisa membantu mereka dalam masalah perpajakan. Hal lainnya yang juga disayangkan adalah masih adanya gambaran negatif terhadap Ditjen Pajak terkait oknum pegawai yang membuat wajib pajak lebih nyaman untuk berkonsultasi dengan konsultan pajak walau harus merogoh kocek. “Disinilah peran reformasi birokrasi yang dilakukan Ditjen Pajak, yaitu menekan persepsi negatif,” tambah Latif.

Hal berikutnya yang menjadi catatan Latif adalah perlu dibenahinya call center atau biasa disebut Kring Pajak. Tindakan Ditjen Pajak untuk memiliki call center merupakan sudah tepat, tapi harus diimbangi dengan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang kuat. Terkadang, masyarakat yang menelepon harus menunggu lama dan sering mendapatkan nada sibuk atau mendapatkan SDM yang belum sepenuhnya mengerti tentang perpajakan.

“Dalam pelayanan, yang terpenting adalah harmonisasi antara sistem dan infrastruktur dengan SDM yang ada. SDM sendiri tak perlu hanya pintar, tetapi juga memiliki jiwa untuk melayani dan mau memberikan peyanan yang terbaik kepada para wajib pajak. Dengan demikian, masyarakat pun akan puas dan dengan senang hati membayarkan pajaknya,” tuturnya.