KP2KP Sinjai : Tahun Pertama di Tempat Baru, Sebuah Tantangan dan Strategi

Oleh Subagiyo, Kepala KP2KP Sinjai

Hari sudah mulai mendekati sore memasuki akhir pekan. Para pegawai sudah mulai merapikan meja kerja dan menata arsip serta pekerjaan yang tertunda untuk diselesaikan minggu depan. Terlihat raut wajah gembira terpancar dari wajah-wajah mereka. Terdengar celetukan rencana weekend untuk berkumpul bersama keluarga dan me-refresh diri mereka.  Barangkali itulah gambaran beberapa pengawai KP2KP atau pegawai Pajak lainnya tiap akhir pekan. Tetapi ada beberapa pegawai yang mengalami kondisi yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan ilustrasi di atas, mungkin kondisi itulah yang dialami penulis, walaupun tidak selalu demikian. Semangat untuk terus maju dan berkembang lah yang membuat pekerjaan ini dapat penulis lakukan dengan ikhlas.

Banyak sekali persoalan yang muncul ketika pertama kali menjalankan tugas sebagai Kepala KP2KP (Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan). Tepatnya di KP2KP Sinjai, KPP Pratama Bulukumba, Kanwil DJP Sulselbartra. Budaya yang baru, rekan kerja yang baru, jenis pekerjaan yang baru, dan sebagainya, semua perlu adaptasi yang cepat agar pekerjaan terus berjalan. Konsep Learning by Doing kembali menjadi andalan. Mengapa demikian? Dengan background seorang Account Representative di sebuah KPP Pratama di Jakarta, yang sudah sangat terbiasa dengan tekanan target penerimaan, mencari data dan mengolah data untuk profiling dan penggalian potensi pajak, menerbitkan himbauan, advisory visit, dan sebagainya. Sekarang disibukkan dengan tekanan untuk mengoptimalisasi penggunaan dana DIPA untuk kegiatan penyuluhan dan administrasi serta pelayanan. Memang secara tidak langsung pekerjaan tersebut saling berkaitan. Namun itulah pekerjaan yang memang harus penulis kerjakan. 

Masalah internal dan eksternal mulai penulis hadapi dalam pekerjaan. Bekerja di tanah Bugis yang baru penulis kenal, pekerjaan baru terutama masalah perbendaharaan yang harus penulis pahami, kondisi kantor yang masih menyewa dan belum adanya rumah dinas, merupakan contoh masalah internal.  Masalah eksternal langsung muncul ketika penulis harus meninggalkan keluarga menuju tempat tugas yang baru, dan sepertinya tidak perlu penulis sebutkan satu-persatu. Perlu mengkompilasi masalah tersebut di atas untuk menjadikannya suatu tantangan (challenge) sehingga pekerjaan dapat dijalankan dengan baik. 

Waktu terus berlalu sampai penulis sadar akan keterbatasan dan kelebihan yang ada pada Unit Terkecil di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak ini. Untuk merumuskan strategi ke depan, diperlukan suatu analisis yang sistematis agar selaras dengan visi dan misi Diitjen Pajak. Dengan menggunakan analisis SWOT dapat diidentifikasi faktor internal, yaitu Kekuatan (Strenghts) dan Kelemahan (Weakness) serta faktor eksternal yaitu : Kesempatan atau Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats).

Secara umum dan sederhana, Kekuatan yang dimiliki oleh KP2KP adalah : Sarana prasarana kantor yang cukup memadai (komputer dan jaringan), sistem remunerasi, kepemimpinan pusat yang kondusif, serta pemahaman lokasi (Local Knowledge) yang baik. Kelemahan KP2KP secara umum adalah : Keterbatasan jumlah pegawai PNS, aksesibilitas kantor, dan keahlian pegawai yang tidak merata. Sedangkan Peluangnya adalah : Menjadi kantor percontohan di tingkat kabupaten dengan pelayanan prima, serta menjadikan nilai prestise tinggi bagi pegawai yang ditempatkan di KP2KP. Ancaman yang muncul yaitu : Menjadi sorotan public, dan perilaku oknum pegawai yang melanggar peraturan sehingga mempengaruhi kinerja. 

Secara historis, KP2KP berasal dari Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP-4) yang mempunyai tugas pokok melakukan urusan penyuluhan, pelayanan konsultasi perpajakan kepada masyarakat, pengamatan potensi perpajakan wilayah, pembuatan monografi pajak, dan membantu KPP dan KPPBB dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat serta urusan tata usaha, rumah tangga, kepegawaian, dan keuangan. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2006, KP-4 berubah menjadi KP2KP. Namum demikian, menurut analisis penulis justru terjadi pengurangan tugas organisasi, yaitu tidak adanya tugas pengamatan potensi perpajakan, pembuatan monografi pajak dan pelayanan konsultasi perpajakan yang sedikit rancu dengan fungsi Seksi Pengawasan dan Konsultasi di KPP Pratama, sehingga upaya menghimpun penerimaan pajak sebagaimana misi Ditjen Pajak kurang menjadi penekanan. 

Melihat kekuatan KP2KP secara umum yaitu pemahaman lokasi Wajib Pajak yang baik serta kapabilitas pegawai (misalnya sebagai mantan Account Representative) dan didukung infrastruktur yang memadai, rasanya cukup risih apabila fungsi pengamatan potensi perpajakan tersebut terkooptasi. Apalagi Peluang sebagai Kantor Pelayanan Publik dengan pelayanan prima yang menjadi sorotan masyarakat dan didukung oleh fasilitas yang memadai masih bergelut dengan pelayanan secara manual, sebagai contoh pelayanan NPWP dan Pelaporan SPT. 

Lantas timbul suatu pertanyaan; Mau dibawa kemanakah KP2KP ini? Barangkali Pemahaman suatu organisasi besar yang mempunyai Visi serta Misi kurang bisa di-eja wantah-kan atau diimplementasikan sampai ke organisasi terkecil (grass root) yang menjadi ujung tombak Pelayanan Pajak di negeri ini. 

Semua faktor diatas, yaitu hasil analisis SWOT sebagai bagian dari Manajemen Strategik, serta faktor pola mutasi dan promosi; bagi-bagi jabatan (sekedar mengisi yang kosong), konsep back to homebase yang merupakan bagian dari Manajemen Sumber Daya Manusia, semuanya tidak bisa dipisahkan dari KP2KP. Oleh karena itu semuanya perlu pengelolaan lebih optimal untuk membawa KP2KP bukan sekedar menjadi institusi komplementer di lingkungan Ditjen Pajak. Semoga !!

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.