Dikejar target penerimaan negara, pegawai pajak dilarang cuti

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan kembali menegaskan, penerimaan pajak terganggu karena nilai komoditas ekspor Indonesia anjlok di pasaran internasional. Kini, realisasi pajak diusahakan bisa melebihi 90 persen.

Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany berjanji siap kerja keras buat mengejar target penerimaan. Bahkan dalam sisa 3 bulan sebelum akhir tahun, dia meminta anak buahnya kerja banting tulang.

"Komitmen kita, extra effort segala macem lah, kayak yang saya bilang ke teman-teman, enggak boleh lagi ada yang cuti. Kerja harus lewat sampai malam, berat memang berat. Maksudnya kita kerja keras semua," kata Fuad sebelum mengikuti rapat bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Rabu (2/10).

Wajib pajak selain perusahaan berbasis ekspor, akan dikejar demi menggenjot penerimaan negara. Sampai triwulan III tahun ini, realisasi pajak baru mencapai 65 persen.

"Melangkahnya berat, yang pasti (realisasi) di atas 90 persen, tapi sampai berapa aku belum bisa bilang," kata Fuad.

Fenomena ini sesuai pertumbuhan ekonomi yang menurun dari asumsi awal pemerintah. Fuad mengatakan, solusi satu-satunya hanya ekstensifikasi sumber pajak dan bekerja keras.

"Faktanya ekspor kita memang anjlok, ekonomi juga banyak yang memprediksi lebih rendah dari tahun lalu, dengan sendirinya penerimaan pajak akan berkurang," tandasnya.

Dalam realisasi, penerimaan pajak selama enam bulan pertama tahun ini hanya 42 persen atau sebesar Rp 411,39 triliun.

Dalam APBN-P 2013, target penerimaan negara dari pajak sebetulnya dipatok Rp 995 triliun. Ditjen Pajak awalnya berharap penerimaan semester I 45 persen, baru di enam bulan berikutnya digenjot jadi 55 persen.