Aviliani: Pelayanan Sudah Meningkat Sejak Reformasi Dilakukan

Pengamat ekonomi Aviliani menilai pelayanan pajak secara umum sudah meningkat dan dirasakan perbedaannya sejak reformasi birokrasi digalakkan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. “Secara umum sudah meningkat, terutama dengan adanya pengambilan sistem pembayaran secara elektronik yang semakin memudahkan,” ujarnya.

Sistem pembayaran pajak secara elektronik baru diterapkan pada tahun lalu oleh Ditjen Pajak. Hal ini dibuat memang ditujukan untuk mempermudah masyarakat untuk membayar pajak, tak lagi perlu repot-repot untuk datang ke kantor pajak. Untuk meningkatkan pelayanan dan menarik minat masyarakat luas lebih lagi, tahun ini Ditjen Pajak berjanji untuk memperbaharui sistem elektronik, baik itu pembayaran (e-Billing) maupun pelaporan pajak (e-filing).

Namun, Aviliani tidak menampik masih ada kekurangan yang harus diperbaiki oleh Ditjen Pajak. Misalnya saja Account Representative (AR) yang telah disiapkan oleh Ditjen Pajak sebagai konsultan pajak untuk masyarakat. “Adanya AR memang bagus, tapi harus ditunjang pula oleh kemampuan yang handal. Kualitas sumber daya manusia yang ada harus ditingkatkan kembali,” tutur Aviliani.

Aviliani juga menganjurkan Ditjen Pajak untuk membuka lebih banyak kantor pajak untuk lebih menjangkau dan melayani masyarakat. Dia mencontohkan bagaimana bank menjangkau calon nasabah dan nasabahnya dengan membuka berbagai tingkatan kantor cabang, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Hal ini penting karena masyarakat luas membutuhkan rasa saling percaya. Dengan berinteraksi dan dilayani langsung oleh pegawai pajak, maka kepercayaan pun akan terbentuk.

“Website yang dimiliki Ditjen Pajak sudah lengkap jika masyarakat ingin mendapatkan informasi, tapi masih banyak orang di Indonesia yang belum aware dengan internet. Nah, disitulah gunanya membuka kantor pajak lebih banyak,” ujarnya. Saat ini Ditjen Pajak sendiri telah memiliki 1 Kantor Pusat, 1 Kantor Wilayah, 331 Kantor Pelayanan Pajak, 207 Kantor Penyuluhan, Pelayanan, dan Konsultasi Perpajakan.

Hal lainnya yang diharapkan Aviliani untuk diperbaiki adalah pelayanan ketika wajib pajak mengalami masalah yang sulit. Masih banyak wajib pajak yang merasa takut untuk berhubungan dengan pajak karena berbagai alasan, misalnya takut dipermainkan oleh oknum pajak. Aviliani mengharapkan Ditjen Pajak bisa menyelesaikan masalah ini dan membuat segalanya menjadi transparan sehingga masyarakat tak lagi takut dengan Ditjen Pajak.

Tapi, terkait Kring Pajak atau call center miliki Ditjen Pajak, Aviliani menilai hal tersebut berfungsi baik bagi masyarakat yang masih awam dengan dunia perpajakan. Banyak orang yang belum pernah tahu atau sedang mencari tahu tentang pajak akan secara otomatis menelepon Kring Pajak. Memang, diakuinya orang yang sudah paham mengenai pajak tidak akan menelepon karena bagi mereka pajak merupakan hal yang sensitif sehingga tidak berani jika lewat telepon.

Di atas ketidaksempurnaan pelayanan yang diberikan Ditjen Pajak, Aviliani melihat pandangan masyarakat kepada Ditjen Pajak sudah mulai berubah dan sudah mulai ada dukungan pada apa yang dilakukan oleh Ditjen Pajak. “Masyarakat harus terus mendukung Ditjen Pajak. Walaupun terlihat banyak oknum yang tertangkap, tapi itu adalah bagian dari upaya Ditjen Pajak untuk melakukan pembersihan dan pembenahan agar pelayanan yang diberikannya pun akan semakin baik dan meningkat,” ujarnya.