Sotte El Celo de Labuha (Senja Kala di Labuha)

Sotte El Celo de Labuha (Senja Kala di Labuha) oleh: Mohammad Yogi Khoirul Amali

Oleh: Mohammad Yogi Khoirul Amali, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Sungguh aku tidak tega kasih, aku tak tega menagih mereka, mereka yang telah mengembara ribuan kilometer dari kampung kelahirannya, mencoba mencari tempat yang membuatnya lebih mudah dalam menemukan penghidupan, sementara aku, siapa aku yang tiba-tiba saja datang mengatasnamakan negara dan menagih pajak kepada mereka, bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu, kasih? Meskipun aku yakin mereka mau menuruti permintaanku, tapi bagaimana mungkin hatiku tega melihat itu, aku melihat tatapan-tatapan mata yang memelas, seolah memaksaku agar tidak datang kembali untuk kedua dan ketiga kalinya.

Satu dua orang mungkin aku jumpai mereka yang dengan senang hati membayarnya, tetapi kemudian aku harus tetap mendatanginya kembali, meminta perlengkapan ini dan itu, memberi tahu mereka tentang perkakas tetek bengek dan hal-hal apa yang harus mereka lakukan setiap bulannya, meminta mereka untuk membuat kode billing yang merepotkan dan asing bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan teknologi seperti mereka, atau meminta mereka untuk antre di bank demi memenuhi permintaanku yang mengatasnamakan Kepentingan Negara, serta hal-hal lain semacam itu setiap tahunnya.

Apalagi di tempat ini kasih, apa yang mereka peroleh? Masih banyak desa-desa yang tak terjangkau oleh jalan-jalan layak, listrik dan air juga sering mati dan tidak jelas, terminal tidak tertata, baru beberapa bulan yang lalu lahan pasar terpaksa dipindah walau tanpa persetujuan para pedagang dan masyarakat, aku melihat dan mendengar keluhan mereka sendiri, tidak mungkin pasar bisa dipindahkan begitu saja, para pedagang yang terlanjur membeli ruko-ruko mahal di sekitarnya kini hanya bisa melongo melihat toko-tokonya yang tiba-tiba sepi karena pasar dan pusat keramaian yang tiba-tiba dipindah, sekolah-sekolah banyak yang tidak layak bangunannya, bahkan beberapa tidak memiliki guru yang cukup, dan lihatlah, apa yang mereka dapat? Dinding-dinding di rumah sakit berwarna kusam dan ditumbuhi jamur, tak terawat, kotor, sama sekali tak mencerminkan sebagai pusat pelayanan kesehatan yang sudah semestinya bersih dan terjaga.

Dan aku tambah malu lagi kasih, jika sekelompok orang berseragam yang mengatasnamakan diri mewakili pemerintahan itu malah membangun istana-istana mereka sedemikan megah dan indah, tentu saja dengan dana yang diperoleh dari memungut pajak kasih, tak pedulikan sama sekali rakyat-rakyat yang menjadikan alasan utama mereka berstatus sebagai ‘utusan pemerintahan’ yang mereka banggakan itu. Aku malu kasih, aku tidak bisa meneruskan perihal tagih-menagih ini, aku sungguh tak bisa menjawab jika mereka bertanya tentang jalan-jalan itu, tentang dinding-dinding rumah sakit itu, tentang sekolah-sekolah, tentang istana-istana megah itu, sungguh aku tak bisa menjawab, tak mungkin lagi aku bilang, "Itu bukan urusan di bagian kami, ada bagian tersendiri yang mengurusi." Tak mungkin lagi aku mengelak seperti itu, mustahil bagi mereka untuk mempelajari juga tentang mana wewenang kerjaku dan lainnya di mana, cukup bagi mereka tahu bahwa aku utusan dari pemerintahan, bahwa aku bagian dari pemerintahan yang bertanggung jawab dengan semua permasalahan yang mereka tanyakan.

Tetapi cinta, sungguh suatu kala aku terenyuh, saat di sini, di pantai hasil reklamasi ini, kala senja di Labuha, aku terenyuh. Kasih, apa tanggapanmu jika kau mendengar seorang yang baru saja kutagih pajaknya, dan aku sudah menjelaskan panjang lebar tentang manfaat dan apa sesungguhnya maksud dari pengumpulan pajak, aku bahkan meminta maaf karena dia dan aku tahu bahwa di tempat ini manfaat dari pajak yang aku terangkan dan seolah-olah aku janjikan sebelumnya hampir tidak terasa, tetapi kau tahu apa yang dia bilang padaku? Dia bilang dia tidak begitu peduli tentang apa yang akan ia dapatkan dari hasil membayarnya, aku tanya dia, "Mengapa ?"

Dia tidak menjawabnya langsung, malah aku jadi agak aneh karena dia menyuruhku untuk mengingat-ingat kembali perasaan saat sedang jatuh dalam cinta, dia memintaku untuk bercerita tentang perasaan itu, dan tentu saja aku menceritakan tentang jatuh cintanya aku kepadamu, kasih, kemudian dia bertanya tentang apa imbalan yang aku harapkan ketika mengantarmu pulang, atau ketika aku membelikanmu coklat dan es krim, atau ketika aku rela menyelinap di tengah malam seperti maling demi perjumpaan dengan mu? Tentu saja aku menjawabnya "Tidak ada", tidak ada imbalan yang aku harapkan sama sekali.

Kemudian dia bilang begitulah dia mengibaratkan transaksinya dengan negara, dengan tanah air, layaknya transaksi sepasang kekasih yang tak pernah sedikitpun mengharapkan imbalan. Kasih, aku kira orang-orang yang berbicara tentang cinta tanah air dan cinta negara itu membual, itu bohong, aku kira mereka yang menganggap tanah air sebagai kekasih hanyalah bualan semata, tapi kini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, orang yang jatuh cinta itu benar-benar ada, mereka benar-benar ada sama seperti yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng yang pernah ku dengar, kasih.

Orang yang jatuh cinta tidak membutuhkan imbalan, mereka terlihat bodoh dan mungkin beberapa orang menganggapnya tidak waras, ibu menteri dan para ahli bilang bahwa semua orang pada dasarnya enggan untuk membayar pajak, aku tidak setuju, karena itu tidak berlaku bagi semua orang, mungkin kebanyakan orang iya, tapi semua orang, tidak, orang-orang yang jatuh cinta kepada tanah airnya tidak enggan melakukan itu. Apa kau pernah dengar sebuah kisah tentang Majnun?

Suatu malam keluarga Laila mengundang seluruh penduduk desa untuk makan malam, pada saat itu Laila bertugas untuk membagikan bingkisan makanan kepada penduduk desa yang datang dan sudah mengantri untuk mendapatkan bagiannya masing-masing, satu dari ratusan orang yang mengantri itu adalah Majnun, seorang yang cinta mati kepada Laila, satu persatu yang berantri mendapat giliran, dan sampailah giliran Majnun, tetapi tiba- tiba sesuatu terjadi, Laila melemparkan bingkisan makanan itu tepat di muka Majnun, semua orang kaget melihat tindakan Laila yang sungguh di luar dugaan, keluarga Laila pun senang sekali melihat Laila mempermalukan Majnun, orang yang tidak mereka kehendaki untuk menjadi kekasih Laila.

Tetapi mereka dan semua orang tidak mendengar apa yang diucapkan Laila kepada Majnun kala itu, “Pergilah untuk kembali mengantri, agar aku dapat berjumpa denganmu satu kali lagi, dan dapat melihat wajahmu lebih lama lagi." Hanya Majnun yang mendengar itu, dan itu sudah cukup bagi mereka berdua meskipun hanya mereka berdua yang mengetahuinya, di saat semua orang mengiranya dipermalukan, bodoh, dan tidak waras, tetapi siapa yang menyangka jika Laila dan Majnun malah berada di puncak kebahagiaannya.

Dan satu lagi kasih, sejak bertemu denganmu yang abadi, aku juga menyadari, memang tidak semua orang bisa jatuh cinta, bisa merasakan kenikmatan berbuat tanpa mengharapkan imbalan, bisa merasakan kenikmatan membayar pajak tanpa mengharap apa-apa yang akan diperolehnya, sedikit sekali memang yang seperti itu, dan memang tidak perlu menjadi sebagian besar dari kita, tetapi percaya tidak percaya mereka itu ada, dan mereka lah manusia yang paling mampu berbahagia, paling dekat dengan kebahagiaan, kebal dengan penderitaan, tidak ada kekhawatiran, sebuah keadaan yang selalu menjadi cita-cita utama oleh stiap makhluk, individu, kelompok, golongan-golongan, lembaga-lembaga, bahkan instansi-instansi, dan cita-cita, serta motif utama atas berdirinya sebuah Negara, dan terbentuknya masyarakat dunia. Bukan begitu, Kasih? (*)

*) Tulisan adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan instansi dimana penulis bekerja