Simpan e-Fin Anda Baik-baik

Oleh: Susiana Rudiati, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00, namun tumpukan permohonan e-Fin tak kunjung surut. Dari jam 10.00 pagi sejak Pojok Pajak di sebuah pusat perbelanjaan ini mulai dibuka, tak kurang 180 e-Fin yang sudah dicetak, namun belum ada tanda-tanda akan segera berkurang. Bahkan semakin sore, saat pengunjung makin sesak, peminat semakin membludak. Dengan berat hati, sejak pukul 15.00 loket permohonan e-Fin pun ditutup.

Mirisnya, sebagian besar permohonan yang diterima merupakan permohonan cetak ulang, artinya wajib pajak dahulu pernah mendapatkan nomor e-Fin namun tak menyimpannya dengan baik. Kebanyakan wajib pajak berkilah, ”e-Fin-nya dicetak dalam selembar kertas dan entah sudah ada dimana.” Ada pula yang beralasan, ”e-Fin hanya dipakai setahun sekali, wajar dong kalo lupa.” Namun yang membuat sedih, tatkala ada yang berujar, “Kan kalo hilang, bisa minta lagi sama orang pajak atau telpon Kring Pajak.”

Jika keadaan ini dibiarkan, maka pekerjaan cetak ulang e-Fin akan selalu berulang. Minta lagi, hilang lagi, minta lagi, hilang lagi. Coba renungkan kawan, berapa energi yang terbuang. Buang waktu, buang tenaga, dan buang kertas serta masih banyak hal lain yang terbuang percuma.

Buang waktu, yang bener? Ya, betul kawan. Jika 10 digit e-Fin itu disimpan baik-baik di dompet atau dalam gawai masing-masing, alhasil wajib pajak nggak perlu antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan nomor e-Fin di kantor pajak, Pojok Pajak atau harus menyempatkan waktu untuk menghubungi 1500200.

Buang tenaga, tentu saja. Saat melayani cetak ulang, kantor pajak harus menyediakan tenaga untuk melayani permohonan cetak ulang, padahal energi mereka lebih baik dimanfaatkan untuk layanan lain yang lebih krusial. Kan lebih seru kalau kawan-kawan memanfaatkan momen pertemuan dengan pegawai pajak untuk konsultasi atau mengobrol bersama tentang informasi perpajakan yang kalian butuhkan. Wajib pajak juga pasti lelah, tatkala harus menunggu proses cetak ulang. Beruntung kalo antreannya nggak panjang, tapi kalau antrean panjang dan kebetulan tak ada tempat tunggu yang representatif, bisa-bisa ujung kaki jadi kesemutan. Bahkan tak jarang antrean cetak ulang e-Fin lebih panjang dibandingkan antrean lapor SPT via e-Filing.

Kalau buang kertas, pasti. Saat wajib pajak mengajukan permohonan cetak ulang, biasanya meminta print-out, biar lebih afdal katanya. Sayang bukan, kalau ribuan wajib pajak di seluruh Indonesia, meminta hal yang sama. Akan lebih banyak kertas terbuang percuma, padahal untuk mencukupi kebutuhan kertas kita, ribuan pohon kudu rela ditebang setiap tahunnya.

Kabar baiknya, sekarang beberapa unit kerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sudah mulai memberikan kartu e-Fin untuk wajib pajak, agar mereka bisa menyimpannya di dompet masing-masing. Namun jika kawan belum punya, ada cara mudah agar 10 digit itu mudah ditemukan, cukup simpan e-Fin di gawai sebagai contact, atau kirim dan simpan di email masing-masing.

Yuk, mulai sekarang kita simpan baik-baik e-Fin tersayang untuk kebaikan bersama di masa depan. Salam.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.