Sebuah Doa

Sebuah Doa

Oleh Andi Zulfikar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Kami memanggilnya Pak Ancu. Dia pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil lebih dari tiga puluh tahun. Bukan waktu yang singkat. Dia telah menjalani banyak kisah kehidupan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Berganti atasan. Berganti kantor dan seksi. Berganti tempat. Lelaki setengah baya ini adalah lelaki yang baik. Kehidupannya sederhana dan bersahaja. Dia seringkali menyapaku dengan ramah, walaupun tubuhnya sedang kesakitan. Langkahnya yang terseok-seok tidak menghalangi semangatnya. Dia selalu datang tepat waktu dan pulang sesuai jadwal. Tubuhnya yang melemah tak menghalangi dirinya untuk tetap beraktivitas dengan semangat.

Aku mengenalnya karena dulu kami sama-sama suka nebeng. Dulu aku pegawai KPP Pratama di kota yang berjuluk Butta Salewangang sebelum akhirnya dimutasi ke kantorku sekarang. Dari depan Gedung Keuangan Makassar, kami sama-sama menunggu mobil kawan-kawan yang lewat. Jarak tempuh dari Makassar ke kota itu sekitar tiga puluh menit bila melewati jalan tol. Bila macet tiba, jarak tempuh bisa menjadi berkali-kali lipat. Bisa sejam, dua jam, bahkan lebih dari tiga jam. Padahal jaraknya hanya 30 km.

Dia memanggilku Pak, walaupun umurku dengan bedanya cukup jauh. Mungkin saja itu bentuk kesopanan darinya. Karena sama-sama tebenger, aku terkadang bercerita dengannya. Pembicaraan yang sederhana saja. Namun dalam pembicaraan kami, tak sedikit pun dia mengeluhkan sakit yang dia derita. Sakit yang membuat langkah kakinya terseok. Langkah yang membuat dia sulit melipat kakinya. Entah apa penyakitnya, aku tak pernah bertanya. Itu karena memang dia juga tak pernah menceritakan sakit yang dia derita.

Karena langkah kakinya telah melemah, seringkali dia meminta untuk dibantu berjalan melewati tangga. Dia memegang tanganku. Namun dia tak mengeluh. Dia tetap berjalan tertatih, walaupun sesakit apapun yang dia rasakan. Pernah suatu saat dia terjatuh karena salah langkah. Dia kesakitan. Dia hanya meringis. Kakinya berdarah.

Walaupun perih. Dia tetap berjalan. Dia bangun lagi. Menjalani hidup. Menjalani cerita kembali.

***

Subuh hari ini, suara azan dari sebuah masjid membangunkan aku. Suaranya keras, karena jarak kos-kosan yang aku tempati hanya selisih satu rumah dengan masjid tersebut. Peristiwa subuh yang masih aku jalani membuatku bersyukur. Aku melangkahkan kaki menuju masjid yang paling tua di kota yang berjuluk Butta Toa. Masjid ini didirikan sejak tahun 1885 M.

Tak terbayangkan, sudah beberapa juta kali manusia bersujud di masjid tersebut. Sujud kita adalah saksi penghambaan kepada Allah. Kelak, sujud-sujud kita akan bersaksi tentang bagaimana umur yang kita jalani. Kelak dia akan sangat berguna bagi kita. Walaupun mungkin kita tak menyadarinya sekarang. Bekal yang akan kita harap-harapkan kelak. 

Selepas pagi, aku menyempatkan diri untuk berolahraga terlebih dahulu. Menyusuri pantai di kota ini. Menikmati udara pagi yang segar. Beragam cerita hilir mudik di pikiranku ketika berolah raga. Namun ketika aku membuka handphone ku, di sebuah grup, seorang teman memberi kabar tentang seseorang. Pikiranku terseret ke kenangan tentang seseorang.

Pak Ancu.

Lelaki baik itu telah mendahului menuju ke suatu jalan panjang. Mendadak, semua kenangan satu per satu terjejal. Lelaki baik itu yang memberi nasehat tentang bagaimana menghadapi kehidupan tanpa banyak berkata-kata itu, seolah-olah bercerita. Dia menghadapi sakit yang dia jalani dengan senyum dan tawa. Hal yang mungkin tidak banyak dimiliki orang lain.

Seorang pejalan menuju Tuhan pernah menuliskan sebuah puisi. Salah satu kutipan dari puisinya adalah :

Justru di sanalah sebuah telaga

Yang bakal didatangi tanpa dusta

Suatu hari, kita pun tiba

Sebagaimana mereka pula

Dia dipanggil pak Ancu. Nama aslinya berarti matahari.

Doaku semoga lelaki itu tersenyum di sana, dan diampuni segala kesalahannya di dunia oleh Allah. Dan semoga beliau mendapatkan husnul khotimah. (*)

 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.