Jumat, 20 Juli 2012 - 10:14

Oleh Junjungan Mula Sangap, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Di dunia kedokteran dan farmasi kita mengenal yang namanya Plasebo dan Efek Plasebo. Plasebo adalah sebuah pengobatan yang tidak berdampak yang bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan. Istilah plasebo diambil dari bahasa latin yang berarti "I shall please" (saya akan senang) yang mengacu pada fakta bahwa keyakinan akan efektivitas dari suatu penanganan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka menggerakkan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan problem. Plasebo biasanya hanya berisi serbuk laktosa yang tidak memilikii khasiat apapun sebagai obat. Efek plasebo adalah mekanisme penyembuhan diri yaitu sembuhnya pasien dari penyakitnya ketika mengonsumsi obat kosong atau plasebo dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan.

Efek ini muncul karena pasien yang mendapat plasebo tidak tahu apa yang diminumnya, namun sugesti bisa membuat obat itu benar-benar manjur layaknya obat asli. Adanya efek plasebo menunjukkan pentingnya keyakinan, pikiran, dan jiwa kita dalam penyembuhan. Oleh sebab itu, dengan kondisi psikologis atau mental yang tepat, maka seseorang bisa sembuh dengan sendirinya. Pikiran positif akan memacu semangat kerja, meningkatkan antusiasme, meningkatkan rasa percaya diri, fisik terasa lebih segar serta otak lebih siap menghadapi segala kemungkinan. Keajaiban Efek plasebo ini harus disadari oleh seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak di tengah-tengah semakin gencarnya institusi ini berperang melawan pegawai-pegawai nakal/koruptor.

Keberhasilan Direktorat Jenderal Pajak dengan Whistle Blowing System serta menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memerangi para koruptor, bagaikan koin yang memiliki 2 sisi. Di satu sisi kita bisa berbangga bahwa kita memiliki komitmen yang tinggi untuk memberantas para pegawai yang nakal, namun di sisi lain hal tersebut juga menjatuhkan mental para pegawai lain ketika berhadapan dengan Wajib Pajak.

Media memiliki peranan vital untuk menentukan dari sisi koin sebelah mana masyarakat akan melihat upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh institusi ini. Media menjadi pilar ke-4 dalam demokrasi di zaman sekarang ini, lembaga negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif sudah tidak dipercaya lagi oleh masyarakat. Masyarakat sekarang lebih percaya pada media, oleh karena itu Direktorat Jenderal Pajak selain terus mengkampanyekan Anti Korupsi, perlu juga untuk terus mengedukasi masyarakat melalui media mengenai prestasi-prestasi yang telah dilakukan sehubungan dengan tugas utama dan peranan Direktorat Jenderal Pajak dalam menopang perekonomian bangsa ini atau dengan kata lain Direktorat Jenderal Pajak harus membangun Jurnalisme damai melalui konten berita yang informatif, mendidik dan berbudaya.

Kembali kepada keajaiban efek plasebo, seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak harus memiliki kesamaan keyakinan, pikiran bahwa kasus-kasus yang terus terungkap saat ini adalah jalan yang harus kita lalui untuk menuju institusi yang modern, berintegritas, dan zero corruption, yang nantinya sesuai dengan salah satu nilai yang kita anut yaitu menuju "Kesempurnaan". Jangan sampai kasus-kasus yang terungkap malah semakin melemahkan moral, kewibawaan dan kebanggan kita. Jangan biarkan pemikiran-pemikiran dan stigma negatif menggerogoti tubuh kita sendiri dan menjadi penyakit kronis yang justru akan merugikan diri kita sendiri. Salah satu tantangan kita saat ini adalah mempengaruhi harapan seluruh stakeholder. Kita yang membentuk Efek Plasebo bagi masyarakat yang sedang “sakit” dengan maraknya kasus korupsi di Negara ini. Kita harus bisa memunculkan harapan bahwa kita ini tunas-tunas bangsa yang sedang berbenah menuju aparatur negara yang, “Bersih”, “Inovatif”, “Profesional” dan “Berintegritas”.

Salah satu upaya nyata yang bisa kita lakukan untuk memberikan efek plasebo bagi masyarakat adalah dengan menjalankan amanah yang telah dipercayakan bangsa ini kepada kita dengan sebaik-baiknya, yaitu mencapai target penerimaan pajak secara “Excellent”. Satu closing statement yang tepat untuk kondisi saat ini, adalah kita harus optimis dan terus menanamkan keyakinan dalam diri masing-masing bahwa kita sedang dalam proses kristalisasi menuju "Kesempurnaan", seperti kata Mark Twain, “Tidak ada pandangan yang lebih menyedihkan daripada orang muda yang pesimis...”.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.