Parada, Sully, dan Sang Maha Adil di Balik Cakrawala

Penerbangan 1549 dari bandara La Guardia New York menuju Charlotte masih dalam posisi menanjak di ketinggian 3.200 kaki ketika serombongan burung menabrak burung besi tersebut. Tabrakan dengan hewan berukuran tak lebih dari sekepalan tangan itu mengakibatkan matinya kedua mesin Airbus A320. Sang pilot, Kapten Chesley B ”Sully” Sullenberger menjadi sosok pahlawan, karena berhasil mendaratkan pesawat di sungai Hudson dan menyelamatkan jiwa 155 orang yang ada di pesawat tersebut. Menjadi penyelamat ratusan jiwa tak lantas membuat Sully melenggang bebas. Karinya sebagai penerbang selama 42 tahun nyaris dikandaskan oleh National Transportation Safety Board (NTSB), lembaga semacam KNKT di Amerika sana. Keputusan Sully mendaratkan pesawat di sungai sempat dianggap salah oleh mereka. Setelah melalui penyelidikan panjang, pria kelahiran tahun 1951 menuai pujian dari masyarakat luas. Kisah heroik yang terjadi pada 15 Januari 2009 tersebut diangkat ke layar lebar oleh Clint Eastwood dan telah tayang sejak September 2016 dengan mengangkat judul “Sully”.

Selasa, 12 April 2016. Tanah Nias basah oleh darah 2 pegawai Ditjen Pajak. Jiwa Parada dan Sozanolo tercerabut oleh penunggak pajak, Agusman Lahagu. Agusman tak terima tunggakan pajaknya ditagih oleh Parada. Alih-alih menempuh jalur hukum, Agusman menghabisi nyawa kedua aparat negara tersebut.

Lebih dari sembilan bulan telah berlalu sejak peristiwa muram itu. Pengadilan Negeri Gunung Sitoli telah menyidangkan kasus ini dan pada tanggal 31 Januari 2017 akan memasuki jadwal sidang pembacaan putusan atau vonis terhadap terdakwa. Mencermati perkembangan yang terjadi selama persidangan, publik amat menanti keadilan bagi semua pihak. Persidangan yang telah berlangsung hampir 10 bulan ini tentu bukan waktu yang pendek untuk sebuah penantian.

Kita semua sadar bahwa peradilan adalah wilayah bebas pengaruh individu dan publik. Kita semua hanya berharap bahwa dua jiwa aparat negara yang telah terenggut tangan penunggak pajak itu tak melayang sia-sia, karena keduanya sedang “menyelamatkan” nasib 220 juta penduduk Indonesia. Kita semua berharap bahwa seorang pahlawan harus lah didudukkan sebagaimana mestinya, bukan diuji kredibilitasnya secara berlarut-larut, sebagaimana Sully, sang penyelamat 155 jiwa manusia.

Sesungguhnya ada Sang Maha Adil yang menyaksikan drama ini dari balik cakrawala sana.(*)