Mengutuk Indonesia

Oleh: Fri Okta Fenni, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Perjalanan dengan menggunakan kereta dari Paris menuju Antwerpen, Belgia memakan waktu dua setengah jam. Kami memutuskan untuk singgah di destinasi yang katanya “wajib” bagi para petualang yang telah menginjakkan kakinya di Eropa Barat.

Maka, di dalam kepala saya mulai membayangkan pesona apa kiranya yang akan kami temukan di sana. Matahari masih sepenggalah di awal musim semi, yang bagi tubuh manusia tropis macam kami, iklim seperti ini tergolong ekstrim. Benar saja, saya cek ponsel, suhu berada di angka tujuh derajat celcius.

Di detik kaki ini melangkah keluar dari kereta, saat Antwerpen di depan mata, saya disuguhi interior gedung stasiun yang seperti istana di negeri dongeng. Pantas saja bangunan berkulit batu ini didaulat sebagai stasiun yang tercantik di dunia. Lekuk arsitektur gedung gaya khas Eropa klasik.

Kubah besar di atas lorong ruang tunggu sukses membuat kepala saya tak bisa diam, mendongak dan menyapu pandang seisi langit gedung.

Rasanya mengelilingi setiap sisi stasiun yang dibangun pada tahun 1895 ini sepertinya cukup untuk mengakui Antwerpen memang kota yang cantik.

“Stasiunnya saja begini, bagaimana gedung lainnya ya?” teman seperjalanan saya mengungkapkan dengan jujur kepenasarannya dan ingin segera berjalan menyusuri kota romantis ini.

Baru beberapa pijakan kaki keluar gedung, pandangan saya kembali dibuat manja dengan sepetak taman hijau bercampur merah, putih, dan merah jambu warna bunga tulip yang sesekali bergoyang lembut diterpa angin musim semi.

“Gila nih kota, ini kita bisa pakai “Wi-fi” gratis selama berada disini, surga banget ya.” Mendengar informasi menyenangkan dari teman serombongan seperti ini otomatis menggerakkan teman lainnya untuk segera mengaktivasi fitur tersebut di gawainya masing-masing.

Memasuki pusat kotanya, decak kagum kian menjadi-jadi, beragam gedung anggun sarat nilai arsitektur tinggi makin melenakan pengunjungnya.

Alun-alun dan market square-nya, kastil nan eksotik di lepas pantai, balai kota berikut katedral megah yang terkenal hingga kini. Cantiknya bangunan-bangunan ini menjadi alasan yang cukup bagi para pendatang untuk sekadar duduk-duduk menghabiskan waktunya menatap betapa indahnya sentuhan arsitektur di gedung-gedung itu.

Kota cantik ini dibelah sungai Scheldt yang membagi kota menjadi dua bagian. Kota tua peninggalan abad pertengahan dan kota baru yang berfungsi untuk perumahan, perkantoran, dan fasilitas publik lainnya.

Di beberapa media sosial, saya kerap menemukan kata-kata “kutukan” bagi Indonesia terkait dengan perkembangannya dibandingkan dengan negara maju. Sebenarnya ini tak adil karena membandingkan hal yang tak serupa. Indonesia dan Belgia misalnya, ya jauh.

Organisasi kerja sama ekonomi dan pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development) merilis data sejumlah negara dengan penerimaan pajak yang tinggi.

Data OECD tahun 2016 mencatat Belgia sebagai negara dengan penerimaan pajak tertinggi di kelompok negara maju di dunia. Penerimaan pajak digunakan untuk mencukupi kebutuhan dasar rakyat di bidang layanan kesehatan, pendidikan gratis sampai jenjang perguruan tinggi, dan jaminan sosial.

Otoritas Pajak Belgia menetapkan tarif Pajak Penghasilan Badan sebesar 33 persen yang merupakan tarif tertinggi di dunia menurut Dana Moneter Internasional. Melihat dari sisi ini saja, rasanya timpang sekali.

Kesadaran membayar pajak di republik ini berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, hal ini tampak pada rasio pajak Indonesia yang berada di angka 10-11 persen. Bandingkan dengan rasio pajak Belgia yang mencapai angka 44,8 persen. Jadi, berhentilah mengeluhkan keadaan Indonesia yang menyedihkan. Mulailah berkontribusi untuk negeri.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan terus berupaya mencanangkan program untuk meningkatkan rasio pajak di Indonesia. Reformasi perpajakan adalah salah satunya. Program dengan tujuan untuk membentuk institusi perpajakan yang kuat, kredibel, dan akuntabel yang mempunyai proses bisnis yang efektif dan efisien untuk menghasilkan penerimaan negara yang optimal didukung oleh desain ulang proses bisnis, teknologi informasi dan basis data, dukungan peraturan, organisasi, dan sumber daya manusia yang berkualitas.

Saya tak ingin muluk-muluk memimpikan Indonesia bisa sekeren Belgia. Tetapi saya pun optimis jika masyarakat di semua lininya punya suara yang sama untuk memajukan Indonesia, maka kesuksesan reformasi perpajakan bukan mimpi.

Menyumpahi beragam kebijakan yang memuluskan proses reformasi perpajakan ini sama saja halnya dengan mengutuk Indonesia. Sudah saatnya republik ini kita lepaskan dari “kutukan” rakyatnya sendiri. Episode memilukan ini semestinya kita lompati untuk menatap Indonesia yang lebih baik.

Ah, saya kembali terkenang petuah berharganya Menteri Keuangan Sri Mulyani, “Jangan pernah putus asa untuk mencintai Republik ini.”

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja