Membawa Berkah bagi Institusi, Masyarakat, Bangsa dan Negara

Foto: Slamet Rianto; Tulisan: Yos Wiyoso Hadi (Yos W Hadi)

Oleh Wiyoso Hadi, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Pada bulan Rabi'ul awal ini, lebih dari 14 abad silam telah lahir salahsatu teladan dunia, yang sebagaimana para tokoh-tokoh pembaharu sebelumnya seperti: Nabi Musa, Resi Vyasa, Buddha Siddharta Gotama, Kong Hu Cu, Socrates dan Yesus Kristus, membawa berkah atau manfaat banyak bagi kehidupan manusia. Beliau adalah Nabi Muhammad saw.

Nah, reformasi yang terus diupayakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Bangsa Indonesia selama ini tidak akan memberi hasil optimal jika mengabaikan kiat-kiat para tokoh-tokoh pembaharu zaman lampau dalam mereformasi bangsa dan umatnya. 

Dalam hal kasus Nabi Musa, Yesus dan Nabi Muhammad saw., kita dapat melihat bahwa bukan sebatas pelayanan, sinergitas, profesionalisme dan kesempurnaan mereka dalam berdakwah mereformasi akhlak bangsa dan umatnya, yang membuat gerakan reformasi mereka jalan, tapi karena 5 (lima) spirit dasar yang melandasi pelayanan, sinergitas, profesionalisme dan kesempurnanan mereka dalam berdakwah dan menggerakan reformasi.

Apakah kelima spirit dasar itu? Yang pertama, beliau semua adalah manusia-manusia yang tawadhu' alias rendah hati dalam perkataan dan perbuatan. Sebagus-bagusnya ide dan gerakan reformasi itu, akan lebih mudah menarik banyak pendukung dan pengikut reformasi dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat, jika para penggerak reformasi itu bukanlah pribadi-pribadi yang sombong dan arogan, melainkan adalah pribadi-pribadi yang rendah hati atau tawadhu'.

Yang kedua, beliau bertiga adalah manusia-manusia yang shiddiq alias berintegritas moral tinggi. Sehebat-hebatnya ide dan gerakan reformasi itu, akan lebih mudah mendapatkan dukungan dan banyak pengikut reformasi dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat, jika para penggerak reformasi itu bukanlah pribadi-pribadi yang cacat moral, tapi adalah pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh berintegritas moral tinggi alias shiddiq.

Yang ketiga, baik Musa, Yesus dan Nabi Muhammad saw. adalah manusia-manusia yang tulus alias ikhlas dalam berjuang. Semulia-mulianya ide dan gerakan reformasi itu, akan lebih mudah menggaet banyak pendukung dan pengikut reformasi dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat, jika para penggerak reformasi itu bukanlah pribadi-pribadi yang pamrih jabatan politis, jabatan struktural birokrasi dan/atau imbal jasa lainnya, tapi adalah pribadi-pribadi yang benar-benar tulus-ikhlas dalam menggerakan reformasi.

Yang keempat, beliau-beliau bertiga adalah manusia-manusia yang hatinya tidak lagi terikat kepada dunia alias zuhud. Dunia boleh ada dalam genggaman tangan mereka tapi tidak pernah ada dalam hati mereka. Hati mereka kosong dari emosi-emosi keterikatan kecuali keterikatan kepada Tuhan Yang Esa semata. Nah, seluhur-luhurnya ide dan gerakan reformasi itu, akan lebih mudah menggaet banyak pendukung dan pengikut reformasi dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat, jika para penggerak reformasi itu bukanlah pribadi-pribadi yang mata duitan atau cinta dunia melainkan adalah orang-orang yang hatinya tidak lagi terikat kepada dunia alias zuhud seperti meneladani para nabi dan orang-orang saleh. Sungguh munafik jika kita mengatakan cinta pada orang-orang kudus seperti misalnya cinta kepada Musa, Buddha, Yesus, dan/atau Nabi Muhammad saw. (sesuai keyakinan agama masing-masing), tapi kita tidak mau meneladani kezuhudan mereka.

Dan terakhir kelima, baik Musa, Yesus, Muhammad saw, adalah manusia-manusia yang ego sudah sepenuhnya lenyap dalam Karsa atau Kehendak Ilahi alias Fanafillah. Orang-orang yang fanafillah adalah orang-orang yang tidak lagi mengikuti ego hawa nafsunya tapi ego mereka sepenuhnya telah lenyap alias "fana" dalam kehendak dan perintah Tuhan Yang Esa. Serapi-rapinya rencana dan grand design dari gerakan-gerakan reformasi itu, namun jika sebatas mengikuti ego masing-masing dan tidak mengikuti Karsa atau Kehendak Ilahi maka reformasi akan tersendat atau bahkan gagal. Bukankah manusia merencanakan, tapi Tuhan lah yang menetapkan? Nah, di sini lah penting peranan fanafillah, sehingga rencana dan usaha-usaha manusia akan sesuai dengan apa-apa yang sudah ditetapkan atau digariskan oleh Tuhan.

Semangat natal bagi umat kristiani, semangat mawlid nabi bagi umat muslimin maupun semangat hari-hari besar agama lain bagi saudara-saudari umat agama lainnya akan senantiasa mengisi hati, pikiran, dan aktivitas kita sehari-hari, jika kita tidak sekadar mengagumi tapi juga menghidupkan semangat-semangat dan mempraktekan keteladanan hidup orang-orang suci itu. Semoga dengan demikian kita bukan sekadar menjalankan reformasi karena aturan dan tuntutan zaman belaka, tapi juga akan membawa banyak berkah bagi institusi atau tempat kerja di mana kita bekerja, masyarakat, bangsa dan negara. Selamat mawlid bagi Saudara-Saudari yang merayakan! 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.