Dicari: Satria Piningit DJP

Dicari: Satria Piningit DJP

Oleh: Edmalia Rohmani, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Satria Piningit, istilah ini identik dengan sosok pemimpin yang dinanti-nantikan kedatangannya di Nusantara. Menurut Jayabaya dalam Jangka Jayabaya, kemunculannya yang menggemparkan akan membawa sebuah perubahan besar disebabkan karakternya yang kuat dan ketegasan dalam mengambil keputusan.

Keberadaannya menjadi enigma yang menyebabkan Satria Piningit begitu dirindukan. Namun, tak sedikit yang menilai eksistensinya sebatas mitos dan bagian dari utopia. Di tengah krisis kepemimpinan berbagai lini negara ini, memilih pemimpin ideal yang memenuhi ekspektasi banyak pihak tak ubahnya seperti mencari lubang jarum di tumpukan jerami. Mencari jarumnya saja susah, apalagi lubangnya.

Direktur Jenderal Pajak akan pensiun lima minggu lagi. Seperti apakah sosok idaman pengganti orang nomor satu di DJP ini?

Mampu Mencetak Pemimpin Lain

Tom Peters, seorang penulis Amerika yang terkenal di bidang bisnis manajemen pernah menyebutkan dalam quote yang melegenda, "Leaders don't create followers, they create more leaders".

Seorang pemimpin sejati selalu menjadi sumber inspirasi yang menggerakkan hati banyak orang. Teladannya yang nyata mampu membuka jalan kebaikan sekaligus pembaharu di tengah kejumudan organisasi. Dia tidak berkata, "lakukan seperti yang saya perintahkan" melainkan "lakukan seperti yang saya lakukan." Dari tangannya yang dingin akan tercetak agen-agen baru yang militan dalam mengembuskan napas perubahan.  

Pemikirannya seperti air jernih, mengalir deras ke dalam denyut nadi organisasi. Sepak terjangnya tak kenal kata henti, sebab dia tahu stagnansi adalah sumber kematian dini bagi institusi. Dia bukan sekadar leader, tetapi juga trainer, motivator, dan juga coach yang mampu menjalarkan semangat dan menularkan keunggulannya pada sebanyak mungkin pengikutnya.

Sherry Dew menguatkan hal ini, “True leaders understand that leadership is not about them but about those they serve. It is not about exalting themselves but about lifting others up”. Seorang pemimpin sejati menyadari bahwa pusat dari kemuliaan bukan pada dirinya, melainkan pada institusi yang dipimpinnya. Dia dan kaumnya adalah satu, maka pencapaian terbesarnya adalah meningkatkan kualitas mereka dan menjadikannya sebagai mata rantai sinergi yang tak pernah putus.

Mampu Mentransfer Visi dan Misinya

Ketika Perang Khandaq terjadi, Nabi Muhammad SAW memukul sebuah batu besar dalam dua kali pukulan dan bersabda, "Pada pukulan pertama, aku melihat gedung dan istana-istana Kisra di Hirah (Persia). Pada pukulan kedua, aku melihat istana-istana merah di Romawi. Sesungguhnya umatku pasti mengalahkan mereka." Visinya terwujud setelah beliau tiada. Persia ditaklukkan pada Masa Khalifah Abu Bakar r.a. dan Kekaisaran Romawi mulai dikuasai sejak zaman kepemimpinan Umar Bin Khattab r.a.

Salah satu alasan Michael J. Hart menempatkan Rasulullah SAW di posisi teratas 100 Tokoh adalah karena keberhasilan beliau dalam mengubah kondisi Bangsa Arab yang dianggap bar-bar, terbelakang jauh dari pusat peradaban, menjadi sebuah peradaban baru yang berpengaruh pada sejarah dunia. Semua itu tak mungkin tercapai tanpa kemampuan memproyeksikan impian yang melampaui zamannya pada saat itu. Kepercayaan pada seorang pemimpin adalah modal dasar untuk mengubah hal yang seakan mustahil menjadi realita.

Pemimpin sejati tahu bagaimana cara menyuntikkan semangat dalam mewujudkan visi dan misinya. Dia dipercaya bukan semata karena jabatan yang disematkan di pundaknya, tetapi karena mampu menunjukkan jalan yang benar menuju cita-cita bersama. Jalan itu tak selalu mulus, kadang terjal penuh aral. Namun, seorang pemimpin tahu bahwa setiap tantangan adalah cara lain untuk mengetahui kesolidan organisasi, sebagaimana seorang nakhoda tahu seberapa kuat bahteranya bertahan di tengah prahara.

Religius

Seorang pemimpin sejati adalah pemimpin yang mampu mengetuk pintu langit dan membumikan rahmat Tuhan. Dia memahami bahwa di setiap keputusannya terletak amanah yang berat dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Sang Pencipta.

Salah satu contoh fenomenal yang tercatat dalam sejarah adalah kepemimpinan Umar Bin Abdul Azis yang berhasil membawa Dinasti Bani Umayyah dalam kemakmuran hanya dalam masa kepemimpinan selama 29 bulan. Sejarah mencatat tak seorang pun rakyatnya berkenan menerima zakat sebab ketiadaan mustahik di zamannya. Kunci dari kesuksesan itu adalah mata batin yang jernih dalam melihat permasalahan kaumnya dan itu tidak akan tercapai tanpa adanya taufik dari Yang Maha Kuasa.

Seorang pemimpin yang religus mempunyai keyakinan yang teguh, bahwa tiada satu pun masalah dalam organisasi yang tak mampu ia pecahkan, kecuali atas pertolongan dan petunjuk dari-Nya. Dia tahu benar bahwa loyalitas pengikutnya terletak pada keridhaan Tuhan dan bukan semata hasil dari kebijakannya. Sebab percaya Tuhan adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, maka dia senantiasa terkoneksi dengan-Nya, dan itu terejawantahkan dalam keselarasan sikap dengan tutur kata.

Di manakah Satria Piningit DJP itu?

Institusi DJP saat ini sedang menunggu. Di tengah hempasan badai yang bertubi-tubi menyerang dari luar dan dalam institusi, DJP berkali-kali membuktikan jati diri. Satria Piningit itu masih jadi tanda tanya besar hingga saat ini.

Tapi harapan itu selalu ada. Entah dalam hitungan bulan, tahun, atau dasawarsa, sang Satria akan datang apabila kita mampu mengenali kualitas prima yang ada dalam dirinya. Kita perlu yakin, ikhtiar mencari, dan tanpa henti berdoa. Bisa jadi itu adalah Anda. Tabik. (*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.