Berbagi Pada Anak Kandung Ibu Pertiwi

Berbagi Pada Anak Kandung Ibu Pertiwi

Oleh: Lucca Yoga Abdi, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Pagi itu, saya memulai aktivitas lebih awal dengan jantung berdebar-debar. Mendapat kesempatan untuk berbagi inspirasi melalui Kemenkeu Mengajar, satu hari bersama anak-anak di Sekolah Dasar. Saya terus meyakinkan diri bahwa saya mampu menjadi relawan pengajar di SD Negeri Kalibanteng Kidul 01, Semarang.

Pada hari mengajar saya mengenakan kemeja biru muda Kementerian Keuangan yang dipadukan dengan celana panjang biru gelap, sepatu pantofel hitam, serta dasi bernuansa biru lengkap dengan tanda pengenal. Memasuki area sekolah, relawan kelompok J.B. Sumarlin telah berkumpul bersama para guru dan murid yang berbaris memenuhi lapangan. Kehadiran kami menarik perhatian beberapa murid yang sibuk menoleh kesana-kemari mencuri pandang melihat kami yang berbaris di belakang.

Pembukaan di lapangan pagi itu dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza dan Asmaul Husna. Saya begitu terkesan, meski panas menyengat semuanya tetap bersemangat dan khidmat. Seketika suasana menjadi haru ketika Bu Arifah (relawan pengajar), memimpin menyanyikan lagu Hymne Guru. Beberapa murid maju ke depan memberikan bunga mawar merah sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada bapak dan ibu guru atas perjuangan mulia yang telah dilakukan.

Saya bersama Bu Amel dipercaya untuk mengajar di kelas VI yang berada di lantai dua, bukan untuk menjadi guru bahasa atau matematika. Tetapi untuk membuka cakrawala tentang nilai-nilai, profesi, dan peran Kementerian Keuangan dalam mengelola ekonomi bangsa. Tujuan utamanya tentu untuk memotivasi anak-anak agar lebih semangat meraih cita-cita mereka.

Saya memutar otak memodifikasi cara mengajar menjadi visual melalui pendekatan pengalaman yang menyenangkan, yaitu proses aktivitas belajar aktif yang melibatkan murid secara langsung. Menerapkan bekal sederhana yang saya dapat, menjadi pengajar harus kreatif dengan banyak metode pembelajaran. Tidak mungkin ia bisa menginspirasi muridnya untuk melihat jauh ke depan, jika ia sendiri hanya melihat sejauh matanya memandang. Lalu menyambung dengan hal tersebut, saya menggunakan media wayang animasi yang menggambarkan nilai-nilai Kementerian Keuangaan.

Para murid begitu antusias menghafal integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan lengkap dengan gerakan. Ternyata bukan hal yang sulit bagi mereka. Hampir seisi kelas berebut untuk maju ke depan mempraktikkan gerakannya. Namun apakah meraka benar-benar mengerti makna dari nilai-nilai tersebut? Saya mencoba untuk menstimulasi mereka dengan permainan magic stick. Kelas dibentuk menjadi lima kelompok lalu dibagikan sembilan sedotan yang dirangkai panjang.

Tantangan yang diberikan setiap anggota kelompok menggunakan dua jari telunjuknya yang menyentuh tongkat sedotan dan harus membawanya sampai lantai tanpa terlepas. Tugas ketua kelompok adalah memberi arahan dan mengawasi jalannya permainan. Melalui permainan ini anak-anak diajarkan untuk bersinergi. Bekerjasama menyatukan frekuensi untuk meraih keberhasilan.

Ketua kelompok bekerja secara profesional sebagai nahkoda dari bahtera kelompoknya. Berintegritas untuk melakukan permainan dengan benar. Permainan harus diulangi dari awal apabila terdapat anggota yang jarinya tidak menyentuh tongkat sedotan. Kelas menjadi ramai, meski sebagian besar gagal pada percobaan pertama, namun semuanya tetap berusaha mencoba. Dengan pendekatan pembelajaran seperti ini diharapkan mereka dapat menerima pesan yang ingin disampaikan dengan menciptakan situasi belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.

Pada sesi berikutnya saya menjabarkan tugas dan fungsi Kementerian Keuangan sebagai institusi pemerintahan yang mempunyai peranan vital dalam perekonomian seperti: mendirikan sekolah, membangun jalan dan jembatan, serta sederet tugas penting lainnya di seluruh penjuru Indonesia yang saya tampilkan dalam media foto, gambar dan peta Indonesia. Lalu saya menerangkan profesi dan keseharian saya sebagai pegawai DJP dengan cara dan bahasa yang sangat sederhana, serta dihubungkan dengan sikap dasar sehari-hari.

Saya mengajak mereka untuk mengenal lebih dekat tentang pajak dengan bermain peran “Raja Lebah dan Sesendok Madu.” Dalam kaitannya dengan perpajakan adalah menanamkan nilai kejujuran kepada anak sejak dini, pada saat mereka dewasa nanti, mereka dengan penuh kesadaran akan memenuhi kewajiban perpajakannya dengan benar dan sukarela. Saya tekankan pula bahwa pajak adalah berbagi dan bergotong royong untuk membangun negeri.

Bagian terakhir, saya mengajak para murid untuk membangkitkan mimpi. Saya pernah melewatkan masa seperti mereka. Saya juga pernah punya banyak cita-cita. Ingat sekali dulu, ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas V, seorang guru menanyakan cita-cita kepada saya. Kebingungan saya mencari jawabannya dan selalu berubah pula jawaban saya. Cita-cita dan profesi sangatlah beragam dan bisa saja berubah seiring waktu. 

Ada yang ingin menjadi vlogger, model, artis, bahkan pegawai Kementerian Keuangan. Hal terpenting adalah sikap untuk berusaha mewujudkan cita-cita tersebut. Mimpi tetap menjadi mimpi apabila tidak ada usaha untuk mewujudkannya. Cita-cita terwujud bukan karena adanya keajaiban, melainkan karena keringat dan kerja keras serta keberanian untuk mengejarnya. Janganlah menjadi takut karena gagal, tapi takutlah apabila mimpi dan kesempatan itu sudah tidak ada lagi di dalam hati. Apapun cita-cita itu, kita harus menjadi orang baik yang sadar pajak, dan itu saya sampaikan berulang-ulang.

Lalu kita menari bersama dengan lagu “Aku Bisa.” Menerbangkan pesawat cita-cita menjadi sesi penutup dari rangkaian Kemenkeu Mengajar, sebagai sebuah simbol harapan bagi mereka di masa kecil, saat ini. Namun, di masa yang mendatang, mereka adalah pelaku pembangunan yang akan memajukan bangsanya. Saya meresapi betul pengalaman menjadi relawan pengajar di dalam hati. Meluangkan waktu sehari untuk memberikan inspirasi. Saya pun bukan siapa-siapa. Hanya berbekal pengalaman mengajar yang ala kadarnya. Dalam arti saya hanya salah satu relawan pengajar yang diberi kesempatan sehari untuk berbuat suatu hal yang tidak bisa instan untuk dilakukan.

Butuh waktu untuk menanam, sampai menyemai buahnya matang. Sebenarnya diri ini yang lebih banyak belajar, kesuksesan bukan tentang seberapa banyak uang yang dihasilkan, tetapi seberapa besar kita membawa perubahan. Dengan ketulusan dan keinginan memberikan persembahan untuk negeri, sedikit lebih banyak lagi. Melambungkan mimpi dan menyalakan pengetahuan dengan berbagi pada anak kandung ibu pertiwi. Mungkin hanya sehari, tetapi semoga bekasnya tidak luntur seiring berjalannya waktu. Senang bisa berbagi.

“Pendidikan, harus dapat memanusiakan manusia.” - Ki Hajar Dewantara.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.