Belajar Tawadhu ke Masjid Kasepuhan

Belajar Tawadhu ke Masjid Kasepuhan

Oleh: Mochammad Bayu Tjahyono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Oktober 2017, saya berkesempatan berkunjung ke kota Cirebon mendampingi Kepala Kanwil dan Kepala Bidang P2 Humas Kanwil DJP Jakarta Selatan 1 untuk menimba ilmu di KPP Pratama Cirebon. Di sela-sela kunjungan kami memanfaatkan waktu untuk mengunjungi masjid Kasepuhan dan masjid Merah. Selasa sore sesampai kami di kota Cirebon, kami sepakat istirahat dulu dan kembali berkumpul pukul 22.00 WIB untuk selanjutnya itikaf di masjid Kasepuhan.

Tepat pukul 22.00 WIB kami berangkat berlima ditemani oleh penduduk asli kota Cirebon dan masih keturunan Keraton. Setelah mengambil air wudlu kami bersila diteras masjid untuk mendengarkan terlebih dahulu sejarah pembangunan masjid Kasepuhan. Masjid ini dibangun pada tahun 1480 M oleh Sunan Gunung Jati dengan arsitek Sunan Kalijaga dan Raden Sepat, ruang utama masjid memiliki 9 pintu yang melambangkan 9 wali. 9 pintu yang ada ukurannya kecil bahkan kita harus membungkuk apabila hendak masuk kemasjid, hal ini mengandung makna bahwa orang yang akan sholat hendaklah merendahkan hati dihadapan Allah SWT. Siapapun kita dan apapun jabatan kita dihadapan Allah kita sama hanya keimanan yang membedakannya.

Di dalam masjid serasa sejuk, meski masjid tersebut tidak banyak ventilasinya, semua orang yang berada dalam masjid sibuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah SWT. Setelah sholat dua rakaat dan dilanjutkan dengan sholat tahajud, bibir ini mulai memanjatkan doa untuk keluarga, orang tua, saudara, dan instansi DJP. Tak terasa air mata menetes. Teringat pada tanggal 31 Desember 2016 di saat orang lain sibuk merayakan pergantian tahun baru dengan keluarga, kami harus terpisah dan tetap harus bekerja demikian juga pada saat tanggal 31 Maret 2017. Semua yang kami lakukan hanya untuk menjalankan tugas kami melayani Wajib Pajak. Perjuangan itu bukan hal yang mudah tak jarang kami harus berkonflik dengan keluarga, saya mencoba instropeksi dalam diri saya, apa yang kurang dari perjuangan ini ?

Malam itu di masjid kasepuhan saya mulai menemukan jawaban, mungkin kami kurang tawadhu dalam bekerja, kurang tawadhu di hadapan Allah, kami saling merasa paling berjasa, sedangkan setiap kesalahan kami saling melempar. Target penerimaan pajak bukan merupakan target Dirjen Pajak saja atau Kepala Kanwil, Kepala Kantor, dan seksi teknis saja tetapi merupakan tanggung jawab kami semua 31.000 pegawai pajak. Tidak perlu dipisahkan oleh bagian atau wilayah, IKU atau SOP dalam pekerjaan tujuan utama pekerjaan kita sama yaitu mencapai target penerimaan pajak.

Di hadapan pemangku kepentingan semua pegawai pajak sama, bila target penerimaan tidak tercapai mereka akan menyalahkan seluruh pegawai pajak tidak melihat bagian dan SOP, seperti halnya 3 tahun lalu semua pegawai pajak dipotong 20% apapun pangkat dan jabatan mereka. Demikian juga bila target penerimaan pajak tercapai semua juga akan mendapat ucapan selamat maupun penghargaan lainnya. Oleh sebab itu tawadhu dalam bekerja atau rendah hati dan saling membantu adalah kunci utama kita apabila target penerimaan mau dicapai. Tidak perlu merasa kita sudah bekerja lebih dibanding yang lain, tidak perlu kita iri dengan pekerjaan orang lain. Biarlah Allah yang menjadi hakimnya biarlah Allah yang member penilaian apakah kita sudah lebih baik, biarlah semua menjadi amalan kita kelak di dunia dan akhirat aamiin.

Tak terasa adzan subuh membangunkan aku dari khusyuknya doa, berdiri dari tempat dzikir kemudian mengambil air wudlu untuk mengikuti sholat subuh berjamaah. Alhamdulillah ya Allah telah memberikan jawaban atas doaku semoga Engkau berkenan mengabulkannya, Aamiin ya Rob.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.