Rabu, 19 Juni 2013 - 09:44

Oleh Patuan Handaka Pulungan, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Bukan hanya istilah “Antara Anyer dan Panarukan” yang bisa kita kenal, namun juga perlu kita cermati kalimat “Antara Belajar dan Mengajar”. Hidup kita penuh dengan proses belajar, jika di masa kecil kita belajar bagaimana itu cara berjalan, berbicara, dan sebagainya, kini di usia dewasa kita belajar mengenai berbagai persoalan yang lebih kompleks. Proses belajar mungkin akan terus kita lakukan sepanjang hayat, bahkan ada istilah “tuntutlah ilmu hingga ke negeri China”, luar biasa kan, menuntut ilmu itu kita disarankan sampai ke negeri China. Nah, bagaimana halnya dengan mengajar?

Beberapa minggu terakhir ini, di wilayah kerja dimana saya bertugas saat ini sedang giat-giatnya melaksanakan bimbingan teknis dan pelatihan dalam rangka pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor Pedesaan dan Perkotaan (P2) ke Pemerintah Daerah, saya yakin teman-teman di belahan bumi Indonesia lainnya juga sedang melaksanakannya. Narasumber ataupun tenaga pengajar yang diundang oleh Pemerintah Daerah setempat adalah semuanya dari Direktorat Jenderal Pajak, yang dalam hal ini adalah Kantor Pelayanan Pajak Pratama.  Tujuan dari pelatihan ini tidak lain adalah untuk melakukan proses transfer knowledge segala hal tentang PBB P2, mulai dari administrasi, aplikasi penilaian, proses penilaian, dan sebagainya.

Pada acara bimbingan pelatihan tersebut, beberapa orang pegawai di kantor pajak tempat saya bertugas diserahkan tanggung jawab oleh Kepala Kantor untuk menjadi narasumber atau tenaga pengajar yang akan memberikan beberapa materi terkait proses pengalihan PBB P2 tersebut ke Pemerintah Daerah, yang antara lain materi Pajak Bumi dan Bangunan, Pendataan, Penilaian, dan lainnya yang terkait. Diantara pegawai tersebut ada beberapa orang yang masih “belia” umur nya dalam hal masa kerja, namun karena memiliki kompetensi menguasai materi yang akan diajarkan, sehingga diberikan tanggung jawab untuk melaksanakannya. Siap atau tidak siap tentu saja tetap harus memberikan yang terbaik.

Sekelumit pengalaman mengenai suka duka mengajar yang dialami oleh beberapa pegawai kantor pajak diantaranya adanya perasaan waswas dan khawatir mengenai apa yang diajarkan kepada para pegawai Pemerintah Daerah sudah sesuai secara aturan perundang-undangan atau tidak, perasaan segan karena perbedaan usia antara peserta dan pengajar, faktor pengalaman kerja di lapangan, jarak tempuh dari kantor ke lokasi sosialisasi pengalihan yang bisa memakan waktu delapan jam pulang pergi, kondisi psikologis pegawai yang menjadi narasumber, faktor budaya dan adat setempat, dan berbagai macam hal lainnya. Namun patut dicermati bahwa disinilah letak seni mengajar, suatu hal yang sebenarnya tidak jauh-jauh dari proses belajar, karena walaupun dalam kegiatan tersebut para pegawai kantor pajak bertindak sebagai tenaga pengajar ataupun sebagai narasumber, namun disisi lain mereka juga dalam proses belajar mengenai bagaimana berbagi ilmu dengan orang lain, bukankah ilmu yang diajarkan kepada orang lain itu adalah pahala yang kelak akan menolong kita di hari akhir :).

Dalam pekerjaan sehari-hari kita di Direktorat Jenderal Pajak, secara sadar ataupun tidak sadar kita yang saat ini bertugas sebagai pegawai front liner sebenarnya juga bisa dikatakan melakukan proses mengajar kepada Wajib Pajak (WP), baik itu dalam hal menjelaskan aturan perpajakan, menghimbau kepada WP agar membayar pajaknya dengan taat, dan lainnya. Jadi, pekerjaan yang saat ini sedang kita jalani sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak, tentunya kita harus bisa memahami makna pekerjaan kita ini dan bisa memberikan kontribusi maksimal, sehingga kita dapat memberikan pelayanan yang profesional dan tentunya yang terbaik kepada masyarakat.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.