1.1.2.1.9. Contoh Penghitungan PPh Pasal 25 Masa

Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus anda bayar sendiri untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:

  1. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; dan
  2. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.

Contoh 1:

  1. PPh terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh Tahun 2009
  2. dikurangi:
    1. PPh yang dipotong pemberi kerja (Pasal 21)
    2. PPh yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22)
    3. PPh yang dipotong pihak lain (Pasal 23)
    4. Kredit Pajak Penghasilan luar negeri (Pasal 24)

Jumlah kredit pajak

3. Selisih

4. PPh Pasal 25 setiap bulan untuk tahun 2010 (Selisih : 12)

Rp 15.000.000

Rp 10.000.000

Rp 2.500.000

Rp 7.500.000

Rp 50.000.000

Rp 35.000.000 - Rp 15.000.000

Rp 1.250.000

Jadi, besarnya angsuran pajak yang harus Anda bayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp 1.250.000,00.

Contoh 2:

Apabila Pajak Penghasilan Anda sebagaimana dimaksud dalam contoh di atas berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi masa 6 (enam) bulan dalam tahun 2009, besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri setiap bulan dalam tahun 2010 adalah sebesar Rp2.500.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 6).

  • Penghitungan untuk Bulan-Bulan Sebelum SPT Tahunan PPh Disampaikan Sebelum Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan PPh Mengingat batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh bagi Wajib Pajak orang pribadi adalah akhir bulan ketiga tahun pajak, besarnya angsuran pajak yang harus Anda bayar sendiri untuk bulan-bulan sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan belum dapat dihitung dengan menggunakan mekanisme penghitungan seperti contoh 1 di atas.

Maka dari itu, besarnya angsuran pajak untuk bulan-bulan sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh adalah sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu.

Contoh:

Apabila SPT Tahunan PPh Anda sampaikan pada bulan Februari 2010, besarnya angsuran pajak yang harus Anda bayar untuk bulan Januari 2010 adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2009, misalnya sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Apabila dalam bulan September 2009 diterbitkan keputusan pengurangan angsuran pajak menjadi nihil sehingga angsuran pajak Anda sejak bulan Oktober sampai dengan Desember 2009 menjadi nihil, maka besarnya angsuran pajak yang harus Anda bayar untuk bulan Januari 2010 tetap sama dengan angsuran bulan Desember 2009, yaitu nihil.

  • Dalam Hal Diterbitkan Surat Ketetapan Pajak untuk Tahun Pajak yang Lalu Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu, angsuran pajak dihitung berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut.

Perubahan angsuran pajak tersebut berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan diterbitkannya surat ketetapan pajak.

Contoh:

Berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun pajak 2009 yang Anda sampaikan dalam bulan Februari 2010, perhitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar adalah sebesar Rp1.250.000,00 (satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Dalam bulan Juni 2010 telah diterbitkan surat ketetapan pajak tahun pajak 2009 yang menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).

Maka dari itu, besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2010 adalah sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).

Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut bisa sama, lebih besar, atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan.

Proses: