1.1.2.1.7. Contoh Penghitungan Umum PPh Terutang Tahunan

Untuk mengetahui Pajak Penghasilan (PPh) Terutang, Anda perlu menghitung terlebih dahulu besarnya penghasilan neto. Besarnya penghasilan neto dapat dihitung melalui pembukuan atau pencatatan.

Penghasilan neto dari pembukuan ini diperoleh setelah dilakukan koreksi fiskal laba akuntansi yang dihasilkan dari pembukuan dengan mempertimbangkan biaya-biaya yang dapat dikurangkan dan biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan.

Penghitungan penghasilan neto dari pencatatan adalah dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, sepanjang memenuhi kriteria:

  1. melakukan pekerjaan bebas,

  2. peredaran bruto dalam 1 (satu) tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah), dan

  3. menyampaikan pemberitahuan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak bersangkutan.

Besarnya PPh yang terutang pada akhir tahun pajak dihitung dengan mengalikan tarif PPh dengan Penghasilan Kena Pajak.

Tarif PPh adalah:

Lapisan Pengasilan Kena Pajak

 

Tarif

Sampai dengan (s.d) Rp 50.000.000,00

5%

diatas Rp 50.000.000,00 s.d Rp 250.000.000,00

15%

diatas Rp 250.000.000,00 s.d Rp 500.000.000,00

25%

diatas Rp 500.000.000,00

30%

 

Ringkasan mekanisme penghitungan PPh adalah:

  1. Penghasilan neto:

  1. Kegiatan usaha dan pekerjaan bebas : Rp ……………

  2. Pekerjaan : Rp ……………

  3. Dalam negeri lainnya : Rp ……………

  4. Luar negeri : Rp …………… (+)

Jumlah Penghasilan neto Rp ……………

Dikurangi

  1. Zakat/sumbangan keagamaan yang wajib : Rp ……………

  2. Kompensasi kerugian : Rp ……………

  3. Penghasilan tidak kena pajak : Rp …………… (+)

Penghasilan Kena Pajak Rp …………… (-)

  1. PPh terutang

(penghasilan kena pajak x tarif) Rp ……………

  1. Kredit Pajak Rp ……………(-)

  2. PPh kurang/lebih bayar Rp ……………

 

   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
Proses: