Pepatah Gelas Dalam Metodologi Pajak

Gelas setengah isi dan setengah kosong

 Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Banyak orang sudah paham apa arti gelas setengah kosong dan gelas setengah penuh. Gelas setengah kosong adalah peribahasa yang berarti orang cenderung melihat udara dari pada isinya, sedangkan peribahasa gelas setengah penuh adalah orang yang cenderung melihat isi gelas daripada ruang kosongnya. Sederhana tetapi sayangnya konsep ini susah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, dalam melihat perhitungan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018, yang diprediksikan mencapai 5,5%, kubu setengah kosong berpendapat seharusnya Indonesia bisa 6% seperti halnya Cina dan India, tetapi kubu gelas setengah penuh berpendapat prediksi pertumbuhan ekonomi 5,5% sudah bagus, dimana masih banyak negara yang tidak bisa tumbuh diatas 4%.

Dalam perpajakan, pencapaian realisasi penerimaan 2017 yang mencapai 91% atau Rp1.151 triliun dari target Rp1.283,6 triliun bagi kubu gelas setengah kosong melihat capaian tersebut seharusnya bisa 100% mengingat pada 2017 masih ada amnesti pajak, UU No 1 Tahun 2017 dan PP 36. Aturan-aturan bisa digunakan untuk meningkatkan capaian. Sedang kubu gelas setengah penuh, mengapresiasi pencapaian 91%, karena capaian ini sudah lebih baik dari tahun lalu dan 2 tahun lalu. Capaian 91% juga sudah menunjukkan pertumbuhan 12%, pencapaian target PPN 100,6%, ditengah isu lesunya daya beli masyarakat.

Target penerimaan 2018 sebesar Rp1.424 triliun atau tumbuh 10,9% dari target APBNP 2017 sebesar Rp1.283 triliun tidak perlu dipandang dari satu sisi kubu. Untuk menumbuhkan keyakinan kita bisa melihat dari sisi gelas kosong, artinya masih banyak potensi yang bisa kita manfaatkan untuk mencapainya. Peningkatan kepatuhan dengan memanfaatkan data geotaging, peningkatan angsuran PPh Pasal 25 dengan memanfaatkan data amnesti pajak dan intensifikasi pajak dengan memanfaatkan pertukaran data atau UU No 1 Tahun 2017. Masih banyak peluang yang bisa kita manfaatkan.

Jika dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak 2017 yang mencapai Rp. 1.147 triliun, maka pertumbuhan penerimaan yang diharapkan untuk mencapai target 2018 sebesar Rp1.424 triliun adalah sebesar 24,15%, dengan pertumbuhan ekonomi 5,4% dan inflasi 3,5% (sesuai APBN 2018) maka ekstra effort sebesar 15,6% dari realisasi. Perlu usaha lebih, perlu kecermatan yang lebih, namun pengawasan seperti yang dilakukan di bulan Desember 2017 perlu terus dilakukan. Beberapa KPP mengalami peningkatan capaian hampir 100%, yang biasanya setiap bulan 6% sampai 7% di bulan Desember bisa mencapai 13%. Pengawasan terhadap kode billing yang sudah dibuat juga perlu ditingkatkan.

Cara pandang yang berbeda jangan membuat kita terpecah atau membuat kita apatis. Sebagai petugas negara yang diamanahkan mengamankan penerimaan negara, pandangan kubu gelas setengah kosong dan gelas setengah penuh hendaknya memperkaya kita dalam menggali potensi pajak. Negeri ini punya potensi besar dan hanya kita sendiri yang bisa mewujudkan. Meski di tahun 2018 kita memasuki tahun politik, kita akan sanggup melewatinya tanpa kerusuhan maupun gejolak karena rakyat dan pimpinan tidak menghendakinya. Jangan pernah berfikir kita akan pecah, jangan pernah berharap kubu-kubu gelas tersebut akan memecah belah bangsa ini. Yakinlah kita akan mampu menjadi negara yang makmur karena Allah mengkaruniai kita alam, budaya, dan masyarakat yang hebat dan sanggup menjadikan kita negara adidaya.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.