Negeri di Atas Awan: Sebuah Cerita dari Sanana

KP2KP Sanana

Oleh: Devid Marthin, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Sanana, mungkin buat kebanyakan orang belum terlalu mengenal kota ini. Sanana adalah ibukota dari Kabupaten Kepulauan Sula yang merupakan bagian dari Provinsi Maluku Utara. Dan di kota ini pula, telah berdiri Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Sanana yang bukan saja melayani Kabupaten Kepulauan Sula tetapi juga melayani Kabupaten Pulau Taliabu. KP2KP Sanana merupakan unit organisasi dari Direktorat Jenderal Pajak dibawah KPP Pratama Ternate.

Saat ini KP2KP Sanana dipimpin oleh Baharuddin sebagai Kepala KP2KP Sanana, pria asli dari kota Makassar. Pria dari Kota Daeng ini juga dibantu oleh Muhammad Taqwa B sebagai Bendaharawan dan 2 orang staff yaitu Ryan Adriansyah Pratama dan Almas Hafizh Ikhwan.

Ketika saya menemui keempat orang ini di Sanana, saya sempat heran dan terkagum-kagum. Mau tahu kenapa? Ini semua karena sampai saat saya menulis, KP2KP Sanana telah berhasil membantu KPP Pratama Ternate mengamankan target penerimaan pajak tahun 2017 sebesar 64,35 M dan telah memenuhi target penyuluhan pajak tahun 2017 yang diamanahkan .

Saya heran bagaimana pria-pria ini bisa begitu menikmati ditempatkan di KP2KP Sanana. Untuk mencapai Sanana, saya harus bertarung dengan ombak selama 15 jam dari Kota Ternate. Jarak Sanana dengan Kota Ternate kurang lebih : 284 km hanya dapat dicapai dengan menggunakan transportasi kapal laut, dengan waktu tempuh kurang lebih 14-15 Jam. Kapal berangkat dari Pelabuhan A. Yani Ternate yang juga merupakan pelabuhan bongkar muat di Kota Ternate Karena satu-satunya transportasi yang tersedia.

Sampai di Sanana, bukan cuman kesepian yang kau dapati, kamu harus berjuang dengan pencaharian akan sinyal handphone dan satu-satunya signal yaitu Telkomsel. Hal indah yang ditemui di sini tentu saja karena kota ini masih segar udaranya, pemandangan alam pantai nan eksotis sangat mudah ditemui di kota ini. Kota Sanana yang penduduknya mayoritas beragama Islam, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ibadah dan menghormati waktu shalatnya. Akan sangat terasa kota religius ini ketika waktu menunjukan jam 12 siang, ketika pengeras suara puluhan masjid yang ada di kota tersebut, terdengar lantunan ayat suci Al-Quran. Saat itulah sebagian besar toko dan rumah makan menghentikan aktivitas mereka untuk memberikan kesempatan warganya melaksanakan ibadah salat dhuhur.

Kabupaten Kepulauan Sula memiliki tiga pulau utama yaitu: Pulau Taliabu, Mangole, dan Sanana. Pulau Sanana sendiri merupakan pulau terkecil dari tiga pulau utama tersebut. Dengan bentang alam pulau yang memanjang dan dikelilingi laut, otomati untuk memberikan penyuluhan dan pelayanan perpajakan, keempat pria PNS DJP ini harus menembus lautan dan ombak. Muhammad Taqwa B yang merupakan bendarawan menuturkan, "Kadang kita harus naik ketinting bang, karena kapal lagi naik dok". Pria yang juga berasal dari kotanya Sultan Hasanuddin ini menambahkan, "Enak juga di Sanana, karena bisa memperdalam ibadah," kata pria yang selalu tersenyum ini. Ketitinting adalah sejenis perahu kecil yang kadang hanya mengunakan pendayung atau “Penggayo” bahasa Maluku-nya.

Selain Kabupaten Kepulauan Sula, wilayah kerja KP2KP Sanana juga meliputi Kabupaten Pulau Taliabu. Untuk mencapai Pulau Taliabu hanya dapat dicapai dengan jalur laut. "Masyarakat Pulau Talibau selama ini jika ke luar daerah ini, misalnya ke Ternate atau Sofifi, ibu kota Provinsi Malut harus menggunakan kapal laut selama dua hari," kata salah seorang staff KP2KP Sanana, Ryan Adriansyah Pratama. Untuk para pegawai KP2KP Sanana sendiri, dalam memberikan penyuluhan dan layanan perpajakan di Kabupaten Pulau Taliabu harus menumpang kapal kayu. Perjalanan yang ditempuh ke sana memakan waktu hampir 12 jam perjalanan laut. Kondisi tersebut sangat menyulitkan masyarakat saat musim gelombang tinggi di perairan Maluku Utara, yang tidak jarang tidak ada kapal yang berani melaut, hal ini menyebabkan KP2KP Sanana sangat kesulitan menggali potensi perpajakan maupun memberikan pelayanan dan penyuluhan kepada wajib pajak di Kabupaten Pulau Taliabu.

Kami pun meneruskan cerita sambil menikmati teh madu, oh iya, madu merupakan produk olahan masyarakat Kepulauan Sula yang terkenal kaya Madu Hutan, Baharuddin, Kepala KP2KP Sanana bertutur, “Kalau berbicara penempatan, tak ada ki yang mau ditempatkan disini, tetapi sebagai Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pajak, kita harus siap ditempatkan di mana saja tanpa mengeluh, Sanana walaupun jauh tapi di sini kita merasakan sisi religius, kita menikmati pemandangan alam, kita disambut layaknya saudara itu semua mempermudah kita dalam bekerja mengumpulkan uang untuk Negara." “Sante mi disini, tenang tongji," lanjut pria Makassar ini sambil tertawa.

Bangga saya kepada keempat pejuang masa kini dari Direktorat Jenderal Pajak. Yang tetap semangat walau keadaan tak pernah bersahabat dengan keinginan. Mungkin pesan yang sama dari Sanana, seperti yang pernah saya sampaikan ketika masih jadi pegawai KP2KP Maba di dalam acara “Workshop Kontributor Konten Situs dan Media Sosial DJP” di Hotel The One Legian Bali. Pelatihan yang digagas Direktorat Direktorat Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) ini diadakan pada 11 April hingga 13 April 2017 yang lalu, ”Jangan mengeluh akan ketidakpedulian pihak lain akan kondisi yang kita hadapi, tetapi berbagilah cerita bagaimana kita menghadapi kondisi tersebut dengan optimis.” Karena masih banyak daerah lain selain Maba yang mungkin membuat kita menyadari bahwa Indonesia itu ternyata sangat luas.

Ternyata memang lebih sulit dari KP2KP Maba, semoga semangat mereka di Sanana maupun di Maba bisa menjadi inspirasi untuk kita semua Pegawai Direktorat Jenderal Pajak di seluruh Indonesia. Tetap semangat yah teman-teman di KP2KP Sanana. Indonesia bangga memiliki kalian.

 Salam Satu Jiwa.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.