Belajar Lima Hal dari Reformasi Sepak Bola Jepang

Belajar Lima Hal dari Reformasi Sepak Bola Jepang
Bahasa Indonesia

Oleh: Andi Zulfikar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Secara dramatis, Jepang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia tahun 2018 di Rusia. Walaupun kalah 1-0 dari tim Polandia, Jepang lolos ke babak selanjutnya karena unggul status fair play dari Senegal. Lolosnya Jepang sebagai runner up grup H 'mengobati' duka benua Asia karena beberapa tim yang berasal dari benua tersebut sudah berguguran sebelumnya. Jepang menjadi satu satunya tim Asia yang masih menapakkan langkahnya ke perjalanan berikutnya.

Ini adalah ketiga kalinya tim Jepang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia. Sebelumnya, pada tahun 2002 dan 2010, Jepang lolos ke babak tersebut. Pertama kali Jepang berhasil masuk ke piala dunia adalah pada tahun 1998. Setelahnya, secara konsisten, Jepang terus masuk ke dalam Piala Dunia.

Keberhasilan tim Jepang adalah buah dari strategi jangka panjang. Dari keberhasilan tersebut, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, terutama yang penulis kaitkan dengan isu strategis yang sedang terjadi di negara kita. Hal ini adalah Reformasi Pajak. Karena keberhasilan tim Jepang adalah buah dari reformasi persepakbolaan di negara tersebut. Jepang saat ini mampu bersaing dengan negara maju dalam bidang persepakbolaan. Di lain pihak, negara kita sedang melakukan reformasi pajak. Diharapkan di masa mendatang, buah reformasi pajak dapat meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dengan negara maju lainnya.

Dari keberhasilan tim Jepang, kita dapat mengambil lima pelajaran. Lima pelajaran tersebut adalah : 

1. Ini adalah tentang perencanaan dan mewujudkan rencana 

Ada kata pepatah yang menyebutkan, "Gagal dalam perencanaan sama saja dengan merencanakan kegagalan." Hal ini bermakna bahwa perencanaan adalah hal yang penting untuk mewujudkan keberhasilan.

Jepang sangat menyadari hal tersebut. Mereka melakukan perencanaan, melaksanakannya dengan disiplin, hingga akhirnya terwujud tim yang solid dalam sepak bola.

Pembentukan J-League adalah salah satu contoh perencanaan yang diwujudkan. Liga profesional tersebut ditata dengan baik, dan mengundang pemain-pemain kelas internasional untuk ikut bermain di dalamnya. 

Liga tersebut tujuannya salah satunya adalah menjadi wadah pemain asli Jepang meningkatkan kemampuan sepak bolanya. Selain itu, Jepang juga memberikan pelatihan kepada ribuan pelatih dan membentuk akademi-akademi sepak bola untuk menopang J-League.

Sehubungan dengan reformasi pajak, kita bisa belajar, bahwa perencanaan dan mewujudkan perencanaan yang telah dilakukan tim reformasi pajak, memang mutlak dilakukan. Salah satunya adalah pengembangan sistem informasi dan basis data yang kredibel. Dengan input yang baik diharapkan keluar output yang baik pula.

2. Perlunya dukungan masyarakat 

Pada awalnya, sepak bola bukanlah olahraga populer di Jepang. Namun ketika mengetahui manfaat sepak bola, misalnya dalam mengangkat pamor negara Jepang didukung dengan masifnya pembentukan kultur baru dalam persepakbolaan (salah satu contohnya melalui film kartun sepak bola "Captain Tsubasa"), menjadikan dukungan masyarakat semakin meluas.

Tim reformasi pajak juga terus menerus menggalang dukungan masyarakat dengan cara mensosialisasikan reformasi pajak. Salah satu contohnya adalah dengan kegiatan ini http://pajak.go.id/news/akselerasikan-reformasi-perpajakan-ditjen-pajak-.... Dengan berkumpulnya para penulis yang merupakan pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP), informasi akan sampai baik ke pihak internal maupun eksternal. Dengan demikian diharapkan masyarakat mendukung dan mengetahui manfaat reformasi pajak.

3. Reformasi tidak boleh berhenti

Jepang secara konsisten melakukan pembinaan persepakbolaan di negaranya. Walaupun pada tahun 2014 sempat mengalami keterpurukan dengan menempati posisi terbawah klasemen C Piala Dunia, namun hal tersebut semakin memacu mereka untuk melakukan hal yang terbaik di masa selanjutnya.

Dalam pelaksanaan reformasi pajak, pemerintah juga mengalami banyak tantangan dan hambatan. Namun pemerintah tetap bertekad melakukan reformasi tersebut dengan penuh tanggung jawab.

4. Perlunya target

Dalam mewujudkan mimpinya, Jepang juga mematok target yang realistis dengan perencanaan yang maksimal. Target tersebut adalah menjadi juara Piala Dunia 2050.

Reformasi dengan dukungan tiga kondisi, yaitu yang pertama institusi pajak yang kuat, kredibel, dan akuntabel; yang kedua, sinergi yang optimal antarlembaga; dan ketiga, kepatuhan wajib pajak yang tinggi diharapkan dapat mewujudkan kinerja rasio pajak hingga sebesar 15% pada 2020.

5. Generasi muda adalah generasi masa depan

Dalam mewujudkan mimpinya, Jepang menyadari bahwa pembinaan dan pembentukan kultur sepak bola generasi muda adalah hal utama. Melalui akademi-akademi sepak bola, generasi muda dibentuk kemampuan teknik dan kecerdasan sepakbolanya sehingga mereka mampu bermain bola dengan standar internasional.

Dikaitkan dengan reformasi pajak, salah satu program yang berkaitan adalah program Inklusi Kesadaran Pajak. Program yang bekerja sama dengan kementerian yang membidangi pendidikan ini, bertujuan salah satunya untuk meningkatkan kesadaran generasi muda. Diharapkan kelak ketika mereka menjadi pelaku ekonomi kelak, mereka menjadi generasi yang taat pajak.

Itulah lima hal yang dapat kita pelajari dari keberhasilan reformasi sepak bola Jepang. Menutup artikel ini, saya ingin mengutip sebuah kata pepatah dari Jepang yang artinya, "Tidak ada seseorang pun yang dapat mencapai kesuksesan langsung dalam sekejap." Dengan demikian, kesuksesan harus direncanakan, dan rencana harus dilaksanakan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.